Tarian Wayang di Benak Jaka – Cerpen Destha Ayu Anggraeni

TARIAN  WAYANG  DI BENAK  JAKA

 

     Saka-saka luhur yang tegak berdiri menyangga pangkuan bumi pertiwi dengan lantunan tasbih. Aroma keheningan yang menyusup pucuk senja  menyambut senyuman manis dari sang candra kepada semesta di antara himpitan helaian kabut di sudut lintang-lintang yang berkedip. Dengan alunan tetembangan gema suara jangkrik yang merayap mewarnai eloknya sang malam, dengan memanjat dahan-dahan kerinduan.

Semua itu sudah bisa diresapkan oleh seorang anak bernama Dewanasa Jaka Rudha, yang akrab dengan nama panggilan Jaka. Ia hidup di tengah keluarga dan dibesarkan dengan kesederhanaan. Ayah Rudha bekerja sebagai tukang becak dan ibunya bekerja sebagai tukang cuci keliling. Kedua orang tuanya bekerja setiap hari bermandi keringat menyusuri jalan-jalan, menawarkan jasa, untuk memenuhi kebutuhan harian dan membiayai sekolah Jaka.

Sampai saat ini Jaka telah berusia tiga belas tahun. Ia bersekolah di Sekolah Menengah Pertama. Ia murid yang pandai dan cerdas. Ia patuh kepada kedua orang tuanya. Ia tak pernah meminta apapun yang berlebih kepada orang tuanya. Ia tak pernah peduli kepada gaya hidup orang lain dan teman-temannya yang memiliki berbagai fasilitas dari orang tua. Oleh karena itu, orang tuanya begitu menyayanginya, meskipun keadaan tak memungkinkan untuk memberi segala sesuatunya yang lebih.

Sejak kecil Jaka dilatih menjadi anak yang mandiri dan diberi pitutur-pitutur oleh orang tuanya. Selalu diberi penjelasan mengenai kehidupan dan belajar dari kehidupan tokoh-tokoh yang terdapat dalam cerita wayang, terutama kehidupan para Pandhawa dan seorang pengasuhnya yang bernama Semar. Kehidupan tokoh-tokoh itu bisa dijadikan contoh, dari watak-wataknya hingga tingkah lakunya dalam menghadapi persoalan hidup. Semua itu dapat dijadikan pedoman hidup agar tidak terkecoh oleh hantaman dan guncangan godaan yang membandangkan insan-insan di muka bumi ini.

Hari terus berganti, sambutan mentari di pucuk langit bersinar menyebarkan kehangatan dan kedamaian. Suka ria yang terpaut di wajah Jaka bersinar meninggalkan jejak di jalan tapak meraungi semak-semak yang melambai serasa menyapa hari baru. Nyanyian tembang emprit melayang di udara mewarnai dunia.

Gedung tua yang tampak masih berwibawa berdiri menjulang didepannya. Canda tawa murid-murid teraduk di pelataran luas di depan pintu ukiran. Jeritan bel listrik bergema. Gaduh murid-murid pun mereda. Semuanya pun membisu . Mereka terpangku di atas  kayu yang telah menjadi kursi-kursi tua yang berjajar rapi menderet di atas lantai mengkilap yang terhias butir-butir debu yang terbawa dari sepatu-sepatu.

Jaka terdiam di kursinya. Memang dia pendiam. Dibalik kecerdasannya itu, dia juga mahir menggambar wayang kelima Pandhawa dan seorang pengasuhnya bernama Semar. Anugerah dari Sang Mahakuasa kembali memberinya kelebihan yang berbeda dari anak lainnya. Dia sangat mengagumi para ksatria Pandhawa dan Semar.

Pria berkumis tebal, jangkung, dan bersepatu hitam mengkilat yang ber-thok-thok saat digunakan berjalan, mengayuhkan tangan besarnya yang ditumbuhi rambut hitam halus dengan bertindihkan arloji antic penambah wibawanya. Pak Fisika, benar itu Pak Fisika yang datang masuk ke ruang kelas melalui pintu berukir.

“Selamat pagi, anak-anak!” ucap salam Pak Triatmojo yang sering dijuluki murid-murid dengan sebutan Pak Fisika itu, karena mengajarkan mata pelajaran Fisika.

“Selamat pagi, Pak!” salam balas murid-murid serentak seperti regu paduan suara yang bermacam-macam nada dasarnya.

“Sesuai dengan jadwal kita, hari ini ulangan harian.”

Murid-murid mengeluarkan selembar kertas folio bergaris. Pak Triatmojo berkeliling membagikan soal menyusuri sela-sela deret meja.

“Sudah semuanya?”

“Sudah, Pak.”

“Kalian kerjakan soal-soal itu dan bila sudah selesai, kalian dapat mengumpulkan lembar jawaban kalian di meja guru ini.”

Semua hiruk-pikuk mereda menjadi sunyi sepi kecuali siulan burung-burung di ujung dahan-dahan kering di pohon samping timur ruang kelas. Semua murid sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.

Memasuki jam kedua, Pak Triatmojo melihat Jaka tampak lain daripada murid lainnya. Pak Triatmojo curiga, kemudian pelahan mendekati Jaka.

“Jaka, sedang apa kamu?”

“Saya sedang menggambar tokoh wayang Puntadewa, Pak.”

Kok, malah menggambar? Sudah selesai belum mengerjakan soal ulangannya?” tanya Pak Triatmojo dengan nada suara meninggi.

“Ini, Pak. Sudah selesai.”

Kemudian Pak Triatmojo mengambil lembar jawaban milik Jaka, ditelitinya sebentar. Pak Triatmojo tidak percaya dengan hasil yang telah dikerjakan Jaka dengan waktu hanya empat puluh menit. Sementara teman-temannya masih sibuk mengerjakan soal ulangan itu. Dan yang lebih mengherankan, Jaka mampu mengerjakan dengan benar. Jawabannya begitu tepat, sangat jarang murid yang dapat berpikir secerdas dan secepat itu.

“Jika sudah selesai, telitilah kembali pekerjaanmu. Dan mengapa kamu menggambar di lembar jawabanmu ini?” tanya Pak Triatmojo sambil meletakkan lembar jawaban Jaka di meja. Jaka diam saja.

Hari-hari telah berlalu. Jaka masih berkelakuan seperti itu. Setiap kali mengerjakan soal ulangan harian, Jaka selalu menggambari lembar jawabannya dengan gambar salah satu tokoh Pandhawa atau Semar. Waktu ulangan harian Fisika, Jaka menggambari tokoh Puntadewa. Saat ulangan Matematika, digambari Wrekudara. Tokoh Janaka mendapat giliran digambar di lembar jawaban Bahasa Inggris. Nakula di lembar jawaban Bahasa Indonesia. Sadewa di lembar jawaban Biologi. Tokoh Semar digambar saat ulangan harian IPS. Dan sangat luar biasa, nilai yang diperoleh Jaka tertinggi di kelasnya, kecuali Bahasa Inggris yang hanya memperoleh nilai 75.

Meskipun nilai Jaka tertinggi, tetap saja hal itu menjadi bahan pembicaraan di kalangan guru-guru. Sampai-sampai Jaka sudah dipanggil oleh guru BP, tetapi masih saja Jaka bersikap seperti itu. Bahkan kadang-kadang saat pelajaran berlangsung dan guru menjelaskan materi pelajaran, Jaka pun menggambar. Akhirnya guru BP menyerahkan kembali persoalan itu kepada Pak Triatmojo, selaku wali kelas Jaka.

Seperti saat pelajaran Fisika suatu hari. Pak Triatmojo berjalan cepat dengan hentakan sepatu di lantai dan wajah tertekuk menyeramkan, menuju ke arah tempat duduk Jaka yang lagi-lagi sedang menggambar.

“Jaka, kenapa kamu menggambar lagi saat pelajaran berlangsung? Tidakkah kamu memperhatikan penjelasan pelajaran Bapak?”

Semua murid menatap kegigilan Jaka yang tampak merasakan sesuatu yang masih dipendamnya.

“Tidak, Pak. Saya memperhatikan penjelasan Bapak.”

“Lantas bagaimana kamu memperhatikannya sementara tanganmu lebih sibuk menggambar dengan pensilmu?”

“Maafkan saya, Pak. Tapi saya tetap memperhatikan penjelasan Bapak.”

“Bagaimana kamu ini? Jelas-jelas kamu sibuk menggambar. Mana mungkin kamu memperhatikan penjelasan saya? Atau kamu ingin melecehkan saya, Jaka?” suara keras Pak Triatmojo meledak. “Jaka, nanti sepulang sekolah kamu menghadap saya di ruangan saya!”

Setelah pelajaran usai, Jaka pun berjalan  menuju ke ruangan Pak Triatmojo yang berada di sebelah selatan ruang kelas Jaka. Jaka perlahan melangkahkan kakinya menuju pintu masuk yang menghadap ke barat. Tampak gemetar memang, tetapi Jaka tetap mangayunkan kakinya itu dengan yakin. Sementara Pak Triatmojo sedang duduk dengan tegap dan pandangan matanya yang kian tajam.

Jaka pun mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan  setelah dipersilakan oleh Pak Triatmojo. Jaka duduk di depan Pak Triatmojo. Pak Triatmojo langsung melanjutkan pembicaraan yang tadi terputus saat di kelas.

“Sudah begitu banyak guru menasihatimu. Namun tetap saja kamu mengulanginya lagi. Setiap ulangan bahkan saat pelajaran berlangsung kamu sering menggambar. Sampai-sampai kamu dipanggil oleh guru BP pula. Tetap saja kamu tidak menghiraukannya. Akhirnya guru BP tidak sanggup menasihatimu lagi dan menyerahkan kembali kepada saya selaku wali kelas kamu. Kamu begitu keras kepala. Seharusnya kamu dapat lebih koreksi diri kamu. Pelajaran di sekolah ini bukan hanya pelajaran Seni Budaya. Sudah semestinya kamu menyesuaikannya. Mengapa kamu tidak bisa mengubah kebiasaanmu itu di dalam kelas?”

Jaka diam saja. Tampaknya ia bingung, harus menjawab pertanyaan yang dilontarkan Pak Triatmojo dan memberi alasannya itu atau tidak. Tapi Jaka masih terdiam. Kemudian Pak Triatmojo kembali melanjutkan bicaranya kepada Jaka.

“Jaka mengapa kamu diam saja? Apa kamu tidak memperhatikan semua yang saya katakan?”

“Maafkan saya Pak, saya memperhatikan semua yang Bapak katakan.”

“Jaka, saya tahu kalau kamu anak yang cerdas dan pandai menggambar. Tetapi mengapa setiap kali sekolah memberimu kesempatan untuk mengikuti lomba menggambar  kamu selalu menolaknya. Tidakkah itu kesempatan untuk menunjukkan bakatmu itu?”

“Saya selama ini memang tidak ingin mengikuti lomba menggambar, Pak.”

“Mengapa?”

“Karena saya hanya ingin menggambar tokoh wayang saja, terutama tokoh Pandhawa dan Semar. Lomba menggambar yang ada selama ini tidak pernah ada yang bertema wayang.”

“Jaka, siapa Pandhawa dan Semar yang begitu kamu agung-agungkan?”

Jaka pun menjelaskan tokoh-tokoh Pandhawa secara rinci dan jelas mangenai  siapa Puntadewa, Wrekudara, Janaka, Nakula, Sadewa, hingga Semar. Sementara Pak Triatmojo mendengarkannya dan merasa kagum terhadap Jaka yang mampu menjelaskan dengan penuh penjiwaan bahkan disertai penjelasan mengenai makna dan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam kisah Pandhawa dan Semar.

Akhirnya Pak Triatmojo pun tersenyum sambil menatap wajah Jaka yang tampak tersirat rasa bahagia saat melihat senyum haru di wajah Pak Triatmojo. Pak Triatmojo pun membelai kagum kepala Jaka.

“Jaka, saya sekarang sudah mengetahui mengapa kamu begitu mengagumi para tokoh Pandhawa dan Semar itu. Hal itu sangat baik untukmu. Bapak tidak menyangka kamu semendalam itu menguasai kisah-kisah sosok Pandhawa dan Semar dengan hubungan nilai-nilai budaya yang ada selama ini.”

“Iya Pak, oleh karena itu saya ingin saya sebagai putra bangsa lebih menghargai tokoh wayang yang mempunyai  nilai-nilai budaya keluhuran, membela kebenaran dan keadilan,  untuk menuntun saya agar selamat hidup di dunia dan di akhirat kelak.”

Gema suara indah Jaka melayang di hangatnya kalbu. Seakan percikan ketulusan melantun menerangi jagad raya yang masih redup, hampa, dan sunyi. Kabut-kabut berlumur tinta yang tercecer di liukan otak-otak insan terhapus oleh kekaguman dan keyakinan yang kian membalut di jiwa. Bersama senyuman bagaskara di sudut wajah mega yang mewarnai likunya hidup bersama kedamaian di hari ini, hari esok, dan selanjutnya.

***

Teater Asba SMP Negeri 23 Purworejo, Jawa Tengah, 2011

Tulislah Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: