Belantara Perang – Cerpen Talitha Aslamiyah

BELANTARA PERANG

 

     Bersama ukiran langkahku, kuterjang raga para serdadu musuh, dengan lantunan semangat di sukma jiwaku, merampas nyawa mendampras raga. Di atas Sang Saka kumengabdi untuk bangsa, di antara kobaran semangat yang berkelebat. Disaksikan oleh semesta dan iringan tasbih di setiap detak jantungku. Mentari terus berdenyar dan terus mengeringkan tubuhku yang berselimutkan darah. Butiran angin yang terus berirama dalam setiap tetesan darah. Kobaran debu yang terus membelit embun semangat dan awan yang terus menorehkan kegusarannya di langit yang semakin rabun oleh mentari yang seakan ingin berhenti menyaksikannya.

Hatiku terus meradang oleh pertanyaan-pertanyaan. Mengapa hidupku terus dihantui oleh rasa takut ke ubun-ubun jiwaku? Aku takut tanganku akan terus kugunakan untuk mencabut hidup sesama, demi mewujudkan kedamaian di negeri ini. Bukankah lebih baik kedamaian itu diwujudkan melalui kerja sama, bukannya peperangan, seperti ini?  Bagaimana cara menghentikan peperangan yang akan melekatkan tangis dalam tiap keping hati yang merangkainya? Hatiku terus bertanya sampai ratusan kali, namun tak sepatah kata pun yang terlintas di hatiku untuk menjawab pertanyaan yang terselubung di dalamnya. Kumerenung melampaui batasan dimensi waktu sambil duduk di atas batu besar, yang kusebut batu renungan, karena setiap aku duduk di atasnya seakan batu itu mengajakku merenung. Tiba-tiba salah satu teman seperjuanganku berkata sambil berteriak dengan lantang dari bawah bukit.

“Jihan, ayo turun, kita harus berjaga, agar tidak diketahui musuh, bukannya melamun seperti itu.”

Aku pun terkejut dan meninggalkan renunganku, aku pun menjawab, “Baiklah aku akan turun!“.

Mentari mulai tersenyum, aku pun  telah bersiap dengan pedang dan perisai dan pakaian yang seakan menegaskan bahwa aku seorang pahlawan. Hari ini aku dan pasukanku hanya bertugas untuk menjaga gerbang timur, sedangkan seratus pasukan yang lain pergi untuk berperang. Mereka pergi membawa semangat dan berharap kembali membawa kemenangan. Hari itu harapan mereka terwujud, mereka berhasil membawa kemenangan. Namun ada kemenangan pasti ada pengorbanan, jenderal perang kami gugur. Aku pun lantas teringat  perkataannya semalam padaku, yaitu apabila ia gugur di medan perang, maka aku harus menggantikannya. Kini aku pun mempunyai tanggung jawab baru.

Aku terus berlatih di atas bukit dan berusaha  memecahkan batu besar yang biasa membantuku meringankan kejenuhanku. Aku terus mencoba memecahkannya dengan pedang kayuku, sampai ratusan kali, namun tak sedikit pun batu itu retak. Sorak angin dan gurauan daun yang gemersik terus membaurku dalam semangat, terlebih dorongan semangat ibuku yang masih tertanam di benak ku. Ibuku tadi pagi menyampaikan segulung kartas berisikan kata-kata suci dari hati bersih untukku agar aku dapat mewudjudkan cita-cita bangsa ini. Selain itu ia juga memberiku senandung cinta. Aku pun menulis kata-kata penyejuk jiwa untuknya, walaupun aku rindu dengan dekapan kasih dan kelembutan hatinya, tetapi aku bangga  padanya di saat hatiku yang tergoyah, ia masih memberikan kasih sayang dan semangat untukku, walau di batasi tebalnya dinding jarak  dan hampanya waktu.

Nyanyian camar mengetuk semangatku, rumpat-rimput yang melambai-lambai seakaan bisikan semangat padaku.  Petikan ranting-ranting menebarkan irama musik, serta mega yang berarak menyejukkanku dari mentari. Tiba-tiba terdengar hatiku berkata bahwa air saja dapat memecahkan batu  dengan tetes demi tetes. Tak mungkin kayu yang lebih keras dari air tak dapat memecahkannya. Kata-kata itu membuatku bersemangat kembali dan terus berusaha tanpa menyerah begitu saja. Akhirnya semua usahaku tidak sia-sia, batu besar itu dapat kupecahkan, walaupun keringat mengguyur deras karena terik matahari.

Inilah pagi yang kunanti untuk mewujudkan baktiku pada negeri demi cinta damai. Berdenyar, aliran semangat dalam nadi dan jantung memompanya ke seluruh sudut-sudut ruang tubuhku. Semua pasukan, termasuk aku berjajar ke medan perang dengan panji-panji dan semboyan bangsa. Dalam benakku tertanam kenyakinan untuk mepertaruhkan nyawaku. Daun-daun meneteskan butiran embun bersama debur angin yang membisikkan semangat padaku. Pasukanku mendapat bagian sebagai umpan bersama pasukan yang dipimpin oleh Boentara. Kami bertugas memancing musuh untuk sampai ke lembah hitam tempat para pasukan penyerang. Sedangkan pasukan lain bertugas menjaga tempat persembunyian.

Tibalah saatnya, kami menembakkan anak panah ke pasukan musuh yang sedang menuju ke medan perang. Kami menyerang sambil berlari dan bersembunyi agar pasukan musuh mau mengikuti kami. Satu persatu pasukanku pun gugur dan terluka oleh serangan musuh. Aku terus berusaha mengalihkan perhatian mereka, tapi apa daya pasukan kami yang hanya berjumlah 300 tak mampu lagi melawan pasukan musuh yang berjumlah lebih dari 3000 orang. Akhirnya Boentara menyuruh pasukan kami mundur. Kami terus berlari hingga menemukan suatu tempat yang aman, tempat itu terletak di pinggir hutan dekat dengan sebuah sungai. Kami pun beristirahat sejenak sambil menghitung jumlah pasukan yang tersisa. Boentara pun berkata padaku.

“Sekarang ini kemungkinan kecil dapat melanjutkan peperangan ini.”

Aku menjawab, “Tidak, aku yakin kita masih bisa melanjutkannya.”

“Mungkin bisa, namun dengan sisa pasukan kita kemungkinannya kecil.”

Tiba-tiba salah seorang dari pasukanku berkata  “Pak, kami siap!“

Aku tak mengerti apa yang dikatakannya, tapi tiba-tiba Boentara menjulurkan pedangnya dan mendampras sepuluh orang yang terluka itu. Mereka meninggal dengan sekejap. Tubuhku tiba-tiba berkeringat dingin dan darahku bergejolak. Aku berkata padanya dengan kata-kata yang tersendat-sendat.

“Apa yang kamu lakukan? Mengapa sepuluh pasukanmu yang terluka itu malah kaubunuh? Seharusnya kau tidak berhak mengadili orang dengan membunuh.”

Boentara menjawab, “Aku membunuhnya karena mereka terluka. Pasukan yang terluka akan menyusahkan kita dan dapat tertangkap dan dipaksa bahkan disiksa untuk membuka rahasia kita, jika mereka tetap melanjutkan peperangan.”

“Tapi tetap saja kamu tak berhak membunuh mereka.”

“Ini bukan berbicara tentang hak tapi ini adalah kewajiban sekaligus janji mereka, termasuk kita bahwa jika dalam peperangan pasukan yang terluka hingga ia tidak dapat berjalan maka ia harus dibunuh agar tidak menjadi beban.”

Aku masih tak dapat menyangka dan membayangkannya sebelumnya, karena menurutku kami sebagai sesama pasukan berusaha untuk saling menolong yang terluka, bukan menyingkirkan bahkan membunuh.

Aku berusaha mencari strategi. Tiba-tiba aku  menemukannya, “Aku punya ide, bagaimana jika kita menggunakan akar tumbuhan ini?”

Boentara berkata, ”Bagaimana cara menggunakannya? Bukankah akar itu beracun?”

“Justru itu kita menggunakanya walaupun jumlah pasukan kita sedikit.”

“Beri tahu aku caranya!”

“Baiklah. Kita jebak musuh dengan membuat asap dari kayu bakar dan kita letakkan daun tanaman ini di atasnya, pasti para musuh akan menuju sungai. Kita tumbuk akar tanaman ini dan kita sebarkan pada air sungai, maka para musuh pun akan merasakan reaksi dari akar tanaman yang telah kita tumbuk tadi.”

“Itu ide yang sangat bagus.”

“Tetapi aku punya satu syarat jika ini berhasil.”

“Sebutkan syaratnya.”

“Tolong jangan bunuh pasukanku maupun pasukanmu jika ada yang terluka.”

“Baiklah.”

“Ayo kita lakukan siasat ini.”

Pasukan kubagi menjadi dua kelompok, pasukan pertama di pimpin oleh Boentara dan pasukan kedua kupimpin sendiri. Kami melaksanakan siasat itu. Setelah menunggu beberapa jam musuh pun datang ke sungai itu. Siasat berhasil seperti yang kuperkirakan. Musuh berjatuhan terkena racun saat menyeberang sungai. Kami keluar dari persembunyian dan memastikan para musuh telah mati. Setelah itu, kami berkumpul dengan semua pasukan dan memutuskan kembali ke pemukiman kami bersama pasukan.

Sesampai di sana kami di sambut dengan baik dan ternyata berita kemenangan telah terdengar. Di saat kami merayakan kemenangan, tiba-tiba 5000 bala tentara musuh mengepung kami. Malam berubah mencekam, anak panah api memanaskan malam itu, para pasukan berusaha melawannya, namun jumlah pasukan kami yang hanya berjumlah 1000 orang saja tak dapat melawan mereka. Sebagian besar pasukan telah gugur oleh ganasnya malam itu, sedangkan sebagian kecil dari pasukan yang tersisa, termasuk aku dan Boentara serta panglima perang kami berhasil menyelamatkan diri di suatu hutan. Kini keselamatan negeri berada di tangan kami, dan kehancuran telah di ambang pintu.

Akupun teringat akan ibuku. Aku bermaksud menyelamatkannya karena kudengar dua hari lagi desa tempat tinggal ibuku akan dibumihanguskan.

Aku beranjak dan berlari menuju rumah ibuku. Sesampainya di sana ternyata ada sekelompok musuh yang telah menjaga desa itu. Aku berusaha membunuh salah satu dari mereka untuk kuambil bajunya untuk menyamar, dan berhasil. Aku menuju rumah ibuku dan membawanya ke tempat persembunyian kami, namun ternyata diam-diam salah satu pasukan musuh mengikuti kami sampai ke tempat persembunyian, hingga akhirnya ribuan musuh bersenjata lengkap mengepung kami di sudut-sudut tempat persembunyian. Kami pun makin terdesak, kami berusaha membuat formasi lingkaran. Tiba-tiba terlintas ingatanku saat memecahkan batu besar yang berada di atas bukit. Hatiku berkata bahwa batu besar saja kupecahkan, pasti peperangan ini dapat dihentikan.

Aku berkata dengan lantang “ Tunggu, berhenti!!! Kita pasti mempunyai tujuan sama dengan kalian yaitu mencapai kedamaian di negeri kita masing-masing, bagaimana jika kita berdamai saja!”

Pemimpin pasukan musuh berkata, “Apa maksud perkataanmu?”

“Begini, dengan kita berperang terus-menerus seperti ini kita tidak akan mendapat kedamaian, tetapi yang ada dendam.  Pihak yang kalah akan membalas kekalahannya dan itu akan terjadi berulang-ulang sehingga tidak akan terwujud kedamaian.”

“Sekarang apa yang kamu ingin pertaruhkan untuk mewujudkannya?”

“Aku berani mempertaruhkan apa saja.”

“Apakah itu termasuk berani membunuh ibumu sendiri?”

Hatiku terasa tersendat oleh kerikil dan debu setelah mendengarnya. Tiba-tiba ibu berkata, “Bunuhlah ibu, demi nusa dan negara ibu ikhlas menyerahkan nyawa.”

“Tapi, Ibu …”

“Lakukanlah.”

“Maafkan saya, Ibu.”

Perlahan mataku semakin buram. Aku tak merasakan aliran darahku mengalir, hanya ada sesak di dada dan langit seakan menutup pekatnya alam. Tiba-tiba aku merasa berjalan di atas awan dan sesosok wanita berbaju putih memelukku.

Teater Asba SMP Negeri 23 Purworejo, Jawa Tengah, 2010

One response to this post.

  1. saya suka cerita anak bangsa

    Balas

Tulislah Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: