Puisi-puisi Dany Septian

LENTERA KEDAMAIAN

 

Kulihat lentera kedamaian yang memerciki

ruang rindu surgaku

berpagar jubah putih membening

Lantai suciku membiaskan ranjang cahaya ketenangan

 

yang mengajak bibirku menyibak kelambunya

sehingga lentera adalah makanan roh dan raga

yang menyunting tubuh gelapku

dari buluhku hingga pijakku

Kini hati dan jiwaku ikut merasakan tawanya

bersenda gurau dengan arterinya

bercanda mengoyak tabir buram kehidupan

Segala cerita ikut tersenyum

menolong jenuhku dengan sebongkah lembayung senja

Dia adalah mata batinku

sehingga tak ada kelam yang menceraikan

seperti debur pantai dan ombak keikhlasan

Langit luas menyelimuti tawanya

dan meraba kesirnaan duka

mengusir debu-debu dan menghujani cahayanya

dalam nyanyian angin datang dan meniup habis perih jiwa

hingga telentang damai di ranjang bahagia

 

Teater Asba SMP Negeri 23 Purworejo, 2007

 

SANG GERIMIS

 

Gerimis meneteskan embunnya di kehidupan ini

Yang sebelumnya awan-awan kasih sayang berubah gumpalan mendung

Daun dan ranting haus akan tetesan gerimis

hingga seluruh kulit yang berongga dibasahi air kebahagiaan

Tanah-tanah melunak menyambut sang hujan

Semak dan rumput mungil bertunas

Pagar rumah keberanianku bersemi menjadi mahkota

Keheningan embun tak lupa menghiasi pucuk daun

Kilatnya membuat mata sipitku menjelma

hingga embun itu jatuh mengena hati rumput

dan rumput seakan mengepakkan sayapnya

menuju asal mula kehidupan datang

membawa jiwa-jiwa yang putih kembali yang dulunya mati dalam kelam

Mentari menerangi kehidupan seluas ini

merayu tumbuhan memunculkan bunga-bunga cinta yang wewangi

pada menit demi menit yang menjelma buah madu

Dengan mengagetkan

hama kegelapan datang menggerogoti batang-batang kepedulian

meracuni otot-otot daun yang tak bersalah

satu demi satu tertidur menghitam lunglai

Beruntunglah gerimis datang membawa kasih sayang

sampai-sampai kegelapan luntur dikeroyoknya

lebur menjadi debu pendosa

 

Teater Asba SMP Negeri 23 Purworejo, 2007

 

 BUKU BERDEBU

 

Kudengar lantunan seorang bocah membuka lembaran-lembaran

buku berdebu yang terpapar di meja pengorbanan

Kupikirkan apa yang akan dia lakukan untuk menemukan sebuah makna

Bocah itu menunjuk dan mengejakan a sampai z

huruf-huruf bijaksana

Dirangkainya kata-kata hingga kalimat sederhana

dijadikannya pegangan hidup yang berornamen

Angannya menjangkau sebuah cita-cita

Dia memilih seorang guru mengejakan pikiran dan ilmunya

Ditapakinya jalan kesuksesan

agar tidak terperosok ke dalam jurang kemiskinan

Orang-orang dekatnya ikut terciprati kebahagiaan

Dia berkata, buku adalah puisi hidupnya

yang selalu tersimpan di dinding awan

isi-isinya tak pernah terlelap

matanya setia menatap penuh sejarah

Sewaktu dia buka kembali buku berdebu

ditemukannya satu kata tak jelas asal-usulnya

dia berusaha mencari tempat bernaung kata itu

sampai ke negeri seberang yang penuh dengan kata-kata suci

sehingga kata semakin tercium raganya

dan angin fajar pun menemukan rohnya

 

Teater Asba SMP Negeri 23 Purworejo, 2007

Tulislah Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: