Puisi-puisi Nurngaini Solihati

BIMBANG DALAM BINGUNG


Dalamnya darah tak terhitung

Pertanyaan melontar

Adzan melemparkan semangatnya di masjid tanpa henti

Sementara shalawat menginjakkan bahagianya di pondok hati

Urusan bicara tak bisa begitu saja selesai

Lembaran-lembaran hidupnya dimiliki dalam dua kompor kehidupan

Sumbu-sumbunya menguraikan air mata dan darah

Didihan darah tak hentinya menarikan tarian kebimbangan

Pertanyaan terus mengemisjawaban dalam sunyinya pasar mayat

Api mulai membatik kehidupan dalam api neraka

Di bawahnya berdiri mayat-mayat kesunyian

Warna berhamburan di atas batik

Memberontak, mencakar, marah, dan membakar api neraka

Kehancuran tak terhindar

Jamur-jamurpun ikut menyobek batik kehidupan

Hingga akhirnya mereka mati dan kelaparan

Mati dalam semak- semak sumbu

Kelaparan akan cinta, kehausan akan kasih

Ibunya kini sebagai pengangguran

Padahal harus memberi makan dan minum kitab dan tasbih

“Sunyi rasanya dunia ini tanpa mereka semua”


Teater Asba SMP Negeri 23 Purworejo, Jawa Tengah, 2007


KEBIMBANGAN DUNIA SUNYI


Kadang jantung ini tak mau kalah dengan lancarnya buang air besar

Jantung harus menang dalam pertandingan ini

Pertandingan dalam kebimbangan dunia sunyi

Lenggak-lenggok

Hanya tumpuan tangan ini yang tahu

Apa yang dimaksud surga

Hari yang begitu sunyi ini diisi oleh salawat-salawat

Dan nada lembaran sajadah

Muncul begitu saja dan tak diundang air terjatuh

Adzan bergema pada pojok-pojok telinga

Sunyi ini begitu berarti bagi menara

Yang roboh di samping sarapan pagi

Tak ada menyangka akan roboh

“Apa laukmu? Pasir atau batu bata?”

“Tidak tahu malu. Aku hanya ingin sertpihan dosa dan najis”

“ Ya,tunggu. Di kakus banyak sekali dosa dan najis.”

Makan saja hidupmu yang tak terarah ini

Titik-titik dosa dan najis hampir habis

Bahkan hampir lenyap ditelan dunia maya

Jika telah mendapatkan jangan lepaskan lagi

Biarkan kesempurnaan sarapannya ditelan malaikat

Cinta juga jijik melihat kesempurnaan sarapannya itu


Teater Asba SMP Negeri 23 Purworejo, Jawa Tengah, 2007


KELUHAN KEHIDUPAN


Pasir-pasir mengeluh akan tercabiknya tali kesetiaan

Kumbangpun ikut berpartisipasi dengan hancurnya batu bata

Pernikahan mereka menumbuhkan bunga baru

Bunga-bunga pun protes dengan datangnya ranting-ranting baru

Apabila kita ingin berbicara dengan kata sunyi

Agar batang ini tak terasa beku dan hampa

Sekujur tubuh akar-akar dibubuhi dinginnya hati embun

Bintang baru muncul di keheningan ujung akar

Pasir, air, lumpur tolong sampaikan bahwa

“Aku ingin bangun dari tekanan ini”

“Tapi ini semua berlari dan tak bisa dibatasi”

Suasana tak menentu dan bertahta dalam hati

Radio inipun tak segan-segan membanting semua yang terjadi

Dari kelamnya tembok kehidupan

Hingga bermuaranya batang-batang kesucian

Aku ingin malaikatMu memelukku. Memeluk dalam indahnya cinta

Hingga semua orang di sini tahu.  Engkau ada

Dalam sela-sela musik

Dalam isakan tangis

Dalam apa pun, di mana pun, dan kapan pun


Teater Asba SMP Negeri 23 Purworejo, Jawa Tengah, 2007


MENUNGGU PAGI DALAM SURYA


Semut-semut ini terhenti oleh putihnya kertas

Tiada segores cinta pun dalam keheningan kalbu

Hanya suara-suara kendaraan menuju kesejahteraan hidup neraka

Pagi ini mulai terbangun oleh tingginya kepulan asap

Terserah panggung atau menara yang akan menjadi supir masa dapan

Hidung ini tak bisa merasakan hangatnya pelukan mesra

Mungkin samapi di sini kalbu ini berbicara

Atau terus berlari dengan terus membawa dosa

Apakah aku harus pulang dengan membawa banyak najis dalam pundakku?

Atau aku harus pulang dengan bus dan langsung menuju dapur?

Karena ibu sudah memasak api di rumah

Dengan bumbu-bumbu yang sangat lengkap

Tiada yang kurang

Ada najis, dosa, darah, air mata, dan masih banyak lagi

Dan juga masih ada di kakus yang akan diambil

Tapi nanti setelah aku dikerubungi

Ular, ulat, bahkan dikerubungi para bidadari neraka

Mungkin benar aku akan pulang


Teater Asba SMP Negeri 23 Purworejo, Jawa Tengah, 2007

ROBEKAN KEBINGUNGAN WAKTU


Lima belas hari sebelum ini

Semua mencabik-cabik rongga kebingungan

Ini semua bukan milik orang-orang hina

Melainkan tanggapan dari satu perasaan

Harus di mana letak kebingungan ini

Ranting-ranting menjadi pudar dengan adanya manusia lain

Tak ada yang bisa mencegah dia akan ke mana?

Ke dalam hatiku, ke dalam surga, atau tidak untuk semuanya

Padahal itu harus kembali

Hanya itu tidak untuk yang lainnya

Yang lain hanya pengganggu mekarnya alam

Tiada yang sanggup melemparkan makna ini

Terlihat coklat dari kejauhan

Apakah ini bahasa batu?

Atau hanya korban patahan kalbu


Teater Asba SMP Negeri 23 Purworejo, Jawa Tengah, 2007


SEKARANG DAN DAHULU


Jamur ini terpaku dalam pintu surga

Kini telah menjadi tua

Guru barupun telah berganti menjadi hiasan kalbu

Harus berubah jalan anugerah ini

Semula hanya lipatan hati. Kini seruan kalbu

Belum ada pijakan hujan yang istimewa

Awal yang baik untuk menentukan hari esok

Hanya itu yang bisa disentuh oleh angin kamar mandi

Birunya hitam menggambarkan gemuruh kalbu

Saat ini tadak ada kasih sayang dulu. Tidak cinta dulu

Nilai menuju ujian kuburan sungguh tinggi

Harus ada kenaikan sifat

Semua ini tak perlu dikejar

Berjalan menelusuri ruang rindu tak begitu menakutkan

Ketakutan tak membuat kelancaran dunia angin

Kemerahan di atas koran menyerukan protesnya

Ia tak mau mendapatkan kekalahan dari malam ini, esok

Namun seterusnya entahlah


Teater Asba SMP Negeri 23 Purworejo, Jawa Tengah, 2007

Tulislah Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: