Puisi-puisi Melly Sagita

SEBATAS KATA


kuraut pasir duri dengan penuh cinta

kauanyam keranjang walet dengan untaian syafir

kita berbagi hari ini yang masih bau lumpur

saat kuingat degup jantungmu menebarkan sejuta mimpi

dalam cahaya bintang kupetik satu jiwa

untuk mengubur mawar berdurimu

tapi gelapnya kepiting yang kaumasak di senja itu

masih terngiang di kaki semu

buih mataku di balik senyum bekumu kaujeratkan

sebatas kata dalam sukmaku yang meronta

kaualirkan pedihnya luka sayatan

di laut senyum manismu


BADAI DI HATIMU


lambaian asap cerutumu

yang berdiri di serumpun padi memanggil namaku

untuk kita petik senyum kehidupan

kita bagi separuh napas

dalam lukisan syahid burung-burung malam

dia rantai sukma kita dalam kabut namrud kegelisahan

tapi mengapa kausembah angin dingin

yang merobohkan sejuta mayat

dalam kelambu angan-angan

maafku telah kauremas jadi abu yang pahit

bagai aroma kesunyian

kau adalah lentera

yang menyiram tangis setiap tebing tak berawan

rindu biru sang surya menjemput langkahku

untuk rebah ke sudut hatimu

tak kuasa kutolak membawa keranjang waktu

dan rangkaian senyum lilin-lilin kehidupan

hanya untukmu


LENTERA SENYUMMU


di kesunyian bibir merahmu

teriris makna derita bunga kegelapan

lonceng waktu yang kaualirkan

dalam tembok-tembok kegundahan

menerpa setiap benteng-benteng nyawaku

kucoba memberikan roda bermakna

tapi glamor harapanmu terus menjeratku

dengan rantai siksamu

kautaburkan debu pesakitan

di setiap lampu dan daun luka

awan hitam itu menangis padahal masih pagi di mataku

dia lantunkan langkah kecewa pada sudut sarang laba-laba

dingin malam pun takut pada petir menyambar tebing rapuh

yang bernyanyi lagu kemalangan

pada senja itu terus kucari lentera senyummu

dengan kubawa kunang-kunang jiwa

untuk mengisi hidupmu


LAMUNAN ZIKIR


embun mendanau menetes di antara dua kaki

melayang, menembus lorong-lorong doa

saat itu lamunan indah kasih

terus membuat mimpi panjang tak berujung

firdausi kenyataan seperti memutih

mengapa tak kaukobarkan mata air

dalam tiang lamunan

di sajadah berguguran zikir


SEBUAH KESUNYIAN


kesunyian ayat-ayat memanggil dalam kasidah sajadah panjang

puncak murani membasuh diri dalam telaga zikir

membiolakan mekar mawar kekhusyukan

di gurun oase dan kurma melambai

senyum bibir tasbih menatap jalan-Nya


MENANTI NUR


nafas menjelma kabut zikir dalam waktu bergulir

terkesan pada berjuta kisah kiblat

sampai masa tiba penantian tangisan sang redup

menunduk kaku dalam ayat renungan dosa

di air mata bahasa batu-batu

terpanah aku pada keagungan sang hujan

sebuah arafah nyata menulis perasaan tetes air

ah, aku ingin menanti di tengah azan sunyi

walau hanya menemani sepenggal kisah rindu

hingga kutemui Nur


SEBUAH KISAH


berkisah aku di telaga keheningan

bermuaranya segala sungai doa dan iman keteguhan

walau digoda rayu keruh dunia

kurengkuh keilhaman dalam sekaca takbir

tertunduk sujud di kening sang akbar

pasir ini sangat haus akan kiblat sang suci

dan tangisan alam merindu senyumnya

kuingin lesung dan antan di tangan tetap menanti

ayatmu menjelma diri


DALAM LANGKAH


langkahku dalam keraguan

menghunus doa pada dosa

hentakan nafas iman terjerat

wahai, angin hilang ke mana

jiwa yang tak lagi kokoh

terus merindu kumandang mesjid

aku ingin kembali berazan

kepakkanlah imajinasi dalam teriak ketobatan

iringilah aku dalam terbang seperti permata surga

meninggalkan neraka


DALAM TANGIS


siapa menangisi diri di goresan azab

segala telah terhukum

dalam genangan dosa


siapa menangis dalam sujud

karena kehilangan jiwa

tak mampu menatap bumi layu


siapa dalam tangis membawa tasbih keridaan

untuk rembulan dan matahari

yang selalu mendampingi doa panjang


(Melly Sagita, Teater Asba SMP Negeri 23 Purworejo, Jawa Tengah, 2004-2005)

Tulislah Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: