Puisi-puisi Jumali

SAYAP DI SENJA ITU

Akan kudaki aroma mentari yang terbang di surga

untuk menyongsong cakarawala yang sedang tidur

belaian mutiara membuka hati, pikir

kupahat dua kuntum bunga mawar

untuk merona sebuah ketulusan yang biru

surya yang lembut akan terdiam

memutuskan sayap – sayap di angan lembang

Saat di senja itu

kupu – kupu dan kumbang menyatukan cita – cita itu

untuk melintasi rona – rona kasih sayang

di senja itu langit akan tertawa bersama sayap

sang Elang yang begitu gagah berani

Tembok – tembok kehidupan ia lalui

dalam menerawang bahasa antologi

Sayap di senja itu membawa

lelehan dunia ke dalam asa Ilahi

UKIRAN – UKIRAN KASIH

Duri dari bola mata itu teriringi Sang Sujud

adakah modal dari bagaskara yang datang

demi memilih ukiran-ukiran kasih

dari kehidupan di atas sanubari

untuk menghias tarian bayu

antologi cahaya

ukirlah seruling kasih itu

dengan ketulusan yang tercerita dengan nyenyak

Apa arti belaian kasih itu

jika Sang Dunia merengut tentang

artinya perpisahan dan persahabatan

maka jeritan itu akan bersorak sorai

di atas jeritan ukiran-ukiran kasih

Peluru itu terbang melayang memandang

langit dan bumi dengan penuh asamara

pori-pori kasih penuh ukiran

api-api kasih pun penuh dengan ukiran

yang terucap dengan kemarahan


BADAI ADALAH MAUT

Jeritan maut melambung dalam air mata

membuat lagu-lagu semut ingin menjatuhbangunkan

derita-derita dalam luluhan sang berlian

Dewi rembulan sembunyikan rembulan kehidupan

Badai adalah maut

yang menerjang di setiap helaian kursi kejahatan itu

Dunia ini adalah dunia yang terlahir dari rahim

Sang Khalik tapi

Badai itu mengahantam seluruh tarian hidup

lagu dan senandung maut mengakhiri Bulan pupus

hingga Badai adalah maut

Hati yang kian terbakar dalam rongga goa

menyenandungkan petikan lagu kasih dari Badan

oh, Badai yang menghantui malam yan jauh

sinarilah sang petunjuk untuk memendam api

Gunung-gunung tak kembali retak


ENTAH APA

Pesan yang datang itu telah membilur hati

rasa ini telah tertekan untuk membuka topeng itu

keharuan akan bintang mengingatkan aku untuk

mengalur antologi kehidupan

Entah apa yang terjadi

untuk menguntai sajak-sajak embun di pagi hari


JAUH

Ketika peluru bergaerak dari senapannya

aku terbangun dari mimpi salju yang penuh kasih

melihat derita anak-anak dari suara deru petir

lambaian bola mata pun terhampar dengan lemas

Lambat laun di pojok kanan dunia terpatri

dengan kukuh candi-candi tapi apa daya

sang maut telah mengahantam jeritan dunia itu dengan jauh.

dan di saat cahaya itu tenggelam

dunia pun sempat bertanya

Apa daya hidup ini. Ia pun membisu

Sang Khalik tau akan keberadaan orang yang sedang letih

tapi semua itu telah hilang, entah termakan oleh apa

Ibu dan Bapak Negeri menyeru dengan tangis dan terbangun

untuk mengukir kehidupan yang lebih anggun


(Jumali, Alumnus Teater Asba SMP Negeri 23 Purworejo, Jawa Tengah, 2007)

Tulislah Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: