Puisi-puisi Ifanatul Khasanah

DI BALIK SENYUM

ketika rembulan pucat menampakkan wajah

kaupetik desir jengkerik dengan pilu

dan bibir manis yang meraba jejak rindu

biasnya membawa renungan lewat detik waktu

bagi langkah kepak sayap harapmu

yang datang di antara gerak kehidupan

dan bayang-bayang kuncup kematian

kauramu semua itu dalam rangkai tarian bintang

di relung mata hati menatap rembulan mimpi

di balik senyummu

GEMERICIK WAKTU

dalam mimpi kutemukan segumpal kenangan

senantiasa bertualang setiap petang

mencari-cari gemericik waktumu

yang tersisa untukku di penghabisan jalan

kugapai ranting puisimu

biar terjatuh di atas sekuntum jiwaku

kuingin saat mentari mendendangkan syairnya

kaupahatkan nada senyum di jemari hatiku

kaupadamkan tetes api jadi tetes embun

menyejukkan aura wajahku

agar aku dapat menemukan pagar hidupku

menjelma  gemericik waktu bercahaya


KEPAK CEMPAKA

aku tetap menatap tajam pada gontai langkah ragu

yang masih terselip di celah sanggul tuamu

yang menyembunyikan tumpukan roh

yang tersimpan dalam perjalanan abad

aku masih menanti seperti juga musim ke musim

cempuring membuka seberkas doa untukmu

menyenandungkan halus kepak-kepak cempaka

berumbai tawa berdawai rumbia

di atas surban tawakal

menggoreskan senyum dalam dinding ketabahan

dengan pena tidur tenangmu

DALAM SUJUDKU


cahaya adam hawa merenung lirih dalam dadaku

menasbihkan firdausi hati

saat lautku membeku dalam azan sang penyair

bunga zikirmu pun menjemput kerinduanku

mengepakkan sujud zam-zam

dalam aliran rebana kabahmu

yang melegenda hingga akar-akar nafasku

BUNGA  TASBIH

bunga-bunga itu

untaian tasbih ditiup angin senja

bergemuruh di lubuk jantungku

membulan dan membintang dalam kelam jilbab

kesunyian dan lamunan khusyuk

melirik cahaya malikul mulki

angin menguncupkan jendela surga

menetes bagai embun

menafasjejaki sayap-sayap sajadah

menengadah ke langit mengobar ayat-ayat

damai

SAJAK  BAYANG-BAYANG

masih kukabutkan senjamu di atas sebuah harapan

yang merakit tanga-tangga tanganku

aku termenung

menari terbebani isak tangis tawamu

dalam pembaringan aku melirik

menebarkan tinta-tinta penyesalanku

berdakwah tentang dirimu

yang selalu mencahayakan nafas-nafas bayanganku

melemparkan lantunan tiang-tiang perahu

aku melihat bayanganku dalam tetes embun kepahitan

tapi hatimu telah merebut bayanganku untuk kaupudarkan

hingga aku termenung kembali

dalam ikatan bayang-bayang

BISIKAN UNTUKMU

ketika angin mengalirkan nafas-nafasku

kutengadahkan kebutaanku dalam sayup kebisuanmu

senyummu melambaikan kerlip mata

menyinari rintihan dermaga dalam laut kerinduan

perahu di titik mataku masih berlabuh

redup menanti badai reda

hari ini kucoba lagi memetik musim

mengayuh hidup sambil berbisik

: apakah dunia masih melihatku

(Ifanatul Khasanah, Teater Asba SMP Negeri 23 Purworejo, Jawa Tengah, 2004-2005)

Tulislah Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: