Puisi-puisi Hanik Luluk Anifah

UNTAIAN SYUKUR


kutulis antologi gemercik air dalam sungai hidupmu

dalam senandung indahmu dan rangkaian dukamu

aku tahu nada-nada lagumu telah mendendangkan

sayap-sayap merpati mengepak membawa impian

dan melesat ke ujung langit


burung-burung malam mencari untaian syukurmu

yang masih terbelenggu dalam kekosongan

tidakkah kausambut dalam galian semangatmu

untuk meluruskan jalan ke samudra biru

sedang layar tuntunan pun telah lama

memanggil-manggil perahu kita

untuk mensyukuri segala yang telah kita terima


SEBUAH PERJALANAN


kupuisikan sanggulmu di lembar kertas hati

bersama daun kehidupan tertiup angin

membawa lagu merpatimu jauh pergi

senantiasa kaubela rintihan kebayamu

mengubah awan hitam berselimut tangisan batu

menjadi putih kapas

percik cahaya dari suara rantingmu

mengharap memetik bintang-bintang

teruslah setia

sepejalan denganku


SEBUAH KENANGAN


langkah sunyiku tersendat di ujung angin

membungkam suara cinta di lorong tua

mengembuskan wajah layu di pangkuan masa

kemudian merampas syair padang senja

tempatku selama ini merangkakkan angan-angan surga


kesunyian ini mengundang kenangan purba

membawa gemericik air rindu

meraba-raba di antara goresan duka


SUATU KETIKA


ketika kubuka lembar hari-hariku kembali

kutahu senja itu kautaburkan pahit bulan lelah

yang menuntun renungan asap kiblat

mengumpulkan wajah surya

meludah mangsa yang bertumpu derita


tak juga kau bertanya

mengapa kautuangkan dosa lagi

pada jiwa yang semakin terjepit

memenjarakan suara-suara padang

yang mengingatkan pada siksa

yang tertulis lewat batu-batu nisan


suatu ketika kau akan membuka mata

menumbuhkan benih suara nuranimu

lalu menderu ke segenap penjuru


SAJAK SUARAMU


malam dalam derap suaramu

membuka jurang menganga

menutup mata kalbu


malam bintang telah hilang dari kendali

nakhoda membisu beku

meratapi hari-hari palsu

yang membelenggu


suaramu tak lagi pagi

kaubiarkan mengering

jadi abu


PAGIKU


bulan telah menghentikan perjalanan sinar

menyalin kisahnya dalam penantian fajar

menulis sajak dalam buku harian

yang berkali-kali hujan lelah mengusik mukanya


mataku membangkit langit dari bias malam

menerawang gema kata peneduh

mendaki atmosfir di antara naungan anugerah

kunyalakan lentera menerangi bentang kelir sandiwara

lalu kugulungkuburkan dalam pagiku menjelang


(Hanik Luluk Anifah, Teater Asba SMP Negeri 23 Purworejo, Jawa Tengah, 2004-2005)

Tulislah Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: