Cerpen Yulia Atma Putri: Selaput Masa Lalu

SELAPUT MASA LALU

Di dalam keheningan malam dan di antara pikiran yang menghanyutkan jiwa. Alvo merasa kesepian dan hanya ditemani sang rembulan. Semua itu membuatnya bertanya-tanya, “Mengapa hidupku hanya seorang diri di tengah angin-angin yang terus berlarian?” tanya Alvo pada rembulan.

Seakan di sudut pintu terdengar suara yang menggema dan mengatakan, “Tingkah lakumu yang aneh itu membuat kamu menjadi seperti ini.”

Alvo bagaikan orang yang tak punya pikiran dan pandangan. Pandangannya tampak kosong dan hanya terlihat daun-daun yang gugur dihempas angin kebingungan.

Keesokan harinya, rintihan hujan membuat ia kembali melamunkan masa-masa lalunya yang menyedihkan dan menyakitkan itu. Semua itu membuat ia merasa lain melihat wajah wanita. Dan hanya bisa melamun dan melamun. Terkadang orang-orang yang lewat di depan rumahnya dan melihatnya merasa kasihan dan iba. Tapi ada juga yang mengatakan ia gila. Karena ia lari jika melihat wanita. Pendapat-pendapat itu tidak ditanggapi Alvo sama sekali. Petir-petir yang semakin menggelegar membuat Alvo bangkit dari duduknya dan masuk sambil mmbanting pintu

*

Seorang teman curhat Alvo yang bernama Arlan tidak setuju kalau sahabatnya dikatakan gila. Alvo bercurhat pada Arlan.

“Masa lalu yang menyakitkan itu takkan bisa hilang dari pikiranku,” kata Alvo.

“Itu bisa hilang dari pikiranmu, tapi apakah kau akan terus begini dan juga menyelepekan pendapat orang-orang tentangmu, soal wanita itu?” tanya Arlan.

“Tidak! Akan kucoba mengubur masa lalu ini sedikit demi sedikit bersama hanyutnya sampah-sampah hidupku,” kata Alvo kembali.

“Kalau aku boleh tahu masa lalu apa yang membuat kau menjadi seperti ini?” tanya Arlan lagi.

“Tidak! Hal itu tidak mungkin aku ceritakan pada siapa pun termasuk padamu, tapi akan kuceritakan lewat hembusan surga dan bersama dengan ketenangan angin,” jawab Alvo dengan nada rendah.

Ternyata Alvo menjadi seperti itu karena dulu ia mempunyai sebuah keluarnya yang selalu hidup dengan harmonis dan tenteram, bagaikan daun yang tak pernah gugur dari tangkainya. Ketika seorang wanita bernama Reva, berkuliah satu kampus dengan Alvo. Alvo dan Reva pun berkenalan, satu bulan bersahabat. Mereka berpacaran dengan tenang dan tenteram. Sapasang kekasih ini tak pernah bertengkar, barang sekali pun. Bagaikan surat dengan perangko.

Tapi sayangnya keluarga Reva maupun Alvo tak ada yang mengetahui hubungan ini. Reva ingin memberitahukan hubungan ini kepada kedua orang tuanya, tapi ia takut. Begitu juga dengan Alvo, ia ingin memberitahukan begitu juga pada keluarganya, tetapi ia takut keluarganya tidak merestui. Hubungan itu berlanjut dengan cara sembunyi-sembunyi.

Pada keesokan harinya Reva dan Alvo bertemu di taman dekat kampusnya. Alvo mengatakan pada Reva kalau ia tidak berani mengatakan pada keluarganya karena ia takut dan ia juga mempunyai seorang bibi yang galak dan menakutkan.

“Bibiku pernah berkata kalau aku tidak boleh berpacaran sebelum mempunyai pekerjaan,” kata Alvo lagi. Mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Di rumah Alvo mencoba  memancing bibinya, ia bercerita tentang seseorang sedang berpacaran.

“Bi, bagaimana jika seseorang sedang berpacaran?” tanya Alvo sambil memancing bibinya. Bibinya penasaran mengapa tiba-tiba ia bertanya seperti ini. bibinya pun kembali bertanya.

“Kenapa kau bertanya tentang pacar? Apa kamu ingin ingin pacaran?”

“Kalau ya, gimana, Bi?” tanya Alvo kembali

“Kamu harus ingat pesan Bibi yang dulu,” kata bibinya. Dan Aldo langsung lari ke kamar karena malu dengan bibinya.

Pada hari Minggu, Alvo mengunjungi rumah Reva. Ia berkeinginan mengenalkan Reva pada ayah, ibu dan semua keluarganya termasuk pada bibinya. Ayah dan ibunya Alvo berniat menjodohkan Alvo pada anak seorang sahabatnya yang bernama Elisa. Alvo tidak mau menikah dengan Elisa. Karena selain Alvo belum pernah bertemu dengan Elisa, Alvo juga tidak mungkin mencintai Elisa.

Keesokan harinya, ketika Alvo bercerita kepada Reva tentang kejadian semalam, Reva hanya pasrah bagaikan orang yang tidak mempunyai nama dan nyawa.

“Ya sudahlah kalau orang tuamu tidak merestui hubungan kita. Lebih baik hubungan kita sampai di sini saja, OK!” kata Reva.

“Kalau seperti ini, aku tidak mungkin berpisah darimu, bagaimana kalau kita lari dari kota ini?” sambung Alvo dengan nada mengajak.

“Kamu ini gila, ya? Hal itu akan merugikan diri kamu sendiri dan juga kasihanilah keluargamu yang telah membesarkanmu hingga kamu menjadi sebesar ini,” jawab Reva dengan nada marah. Reva lari meninggalkan Alvo dan Alvo tidak mau mengejarnya.

Satu minggu, pasangan ini tidak saling bertemu, layaknya orang bertengkar. Keluarga Alvo terutama bibinya sama sekali tidak setuju. Bibi Alvo mengunjungi rumah Reva dan ia menghardik Reva di depan kedua orangnya. Orang tua Reva  tidak terima kalau anaknya dihardik orang di depan orang banyak. Terjadi pertengkaran antara bibi Alvo dengan orang tua Reva.

Sejak kejadiab itu bibi Alvo sangat membenci keluarga Reva terutama Reva. Seakan ia ingin membunuhnya. Setiap saat selalu terjadi perselisihan antara kedua pihak ini. dengan hati yang busuk bibi Alvo berpura–pura berbaik hati pada Reva. Bibinya mengajak Reva untuk makan malam bersama. Di dalam makanan dan minuman Reva dimasukkan racun tikus. Bibi Alvo berniat membunuh Reva. Seolah-olah ini hanya kecelakaan biasa. Sayangnya Reva tak semudah itu di kucing-kucingi. Ketika bibi ke kamar kecil, makanan yang terhidang di tukar oleh Reva. Setelah bibi kembali dari kamar kecil. Mereka menyantap makanan dengan lahap. Bibi terlihat seperti orang kebingungan dan setelah selesai makan ia pingsan.

“Aku bukan tikus yang mudah masuk perangkap,” kata Reva. Bibi ditingga begitu saja.

Keesokan harinya, bibi mendatangi Reva dengan kondisi yang marah sekali, Reva ditamparnya.

“Dasar anakkurang ajar dan lancang pada orang tua, tidak punya tata krama sedikit pun,” kata bibi.

Dengan segala cara bibi berencana membunuh Reva. Sampai-sampai bibi memesan orang bayaran untuk menculik, menyekap dan membunuh Reva. Tapi semua rencana busuk itu gagal. Karena Alvo selalu siap menyelamatkan Reva. Tapi sayangnya Reva tidak mau merepotkan Alvo dan ia juga tidak mau berhubungan dengan Alvo, jika orang orang tuanya dan keluarganya tidak setuju, itu juga akan menyusahkan dan merugikan dirinya sendiri. Ia tidak ingin Alvo dibenci dan dijauhi keluarganya. Begitulah kata-kata Reva. Alvo terus saja berusaha meyakinkan Reva.

“Kau adalah wanita pertama dan terkhir yang akan selalu ada di hatiku,” kata Alvo. Reva tahan haru mendengar kata-kata alvo.

“Untuk beberapa hari ini aku mohon jangan temui aku dulu, aku ingin menenangkan diri dari kamu, juga bibimu,” sambung Reva.

Bibi selalu berkeinginan Reva mati. Pada suatu seorang lelaki bayaran bibi , mencoba membunuh Reva. Pada saat makan malam bersama keluarga Alvo, penjahat bibi mengintai Reva dari jarak jauh. Bibi bersekongkol dengan pemilik restoran. Tindak kejahatan ini akan dibuat seolah-olah tidak sengaja. Pemilik restoran mematikan lampu-lampu yang ada di restoran itu. Sang penjahat bayaran mulai beraksi. Ketika cairan kimia itu di semprotkan ke wajah Reva. Malah yang kena cukup banyak seperti bibi sendiri, ibu Alvo dan juga Reva. Ternyata mereka tidak dapat meyelamatkan diri.

Tepat pukul dua belas malam terdengar jeritan dari kamar bibi. Alvo langsung ke kamar bibi yang berantakan. Wajah bibi juga mengelupas dan tampak menakutkan. Keesokan harinya Alvo sangat heran karena Reva tidak masuk kuliah. Siangnya Alvo mengunjungi rumah Reva. Dari arah kamar Reva terdengar suara tangis yang memilukan

“Jangan kamu temui aku! Sekarang wajahku telah berubah. Wajahku menakutkan. Kalau kamu ingin tahu wajahku, lihat saja wajah bibi dan ibumu!” kata Reva.

Meskipun wajahnya telah buruk, bibi tetap saja berniat membunuh Reva sedangkan Alvo berniat melakukan operasi plastik pada korban kecelakaan malam itu. Sebelum operasi itu dilaksanakan , bibi membuat perjanjian.

“Jika operasi ini tidak berhasil, maka nyawamu taruhannya,” kata bibi pada Reva. Dan sungguh sayang, operasi itu tidak berhasil. Bahkan luka bibi maupun Reva terlihat semakin menakutkan. Bibi Alvo selalu mengintai Reva sampai kemana pun ia pergi

“Aku tak sanggup lagi hidup seperti ini. kenapa harus aku yang dijadikan musuh. Sebenarnya apa salahku?” kata Reva sambil mengucurkan air mata.

“Jika kamu masih sayang dengan nyawamu, jauhi Alvo!”

“Aku tidak pernah mengejar Alvo t5api dia yang terus membututiku.”

“Bagaimana kalau kamu fitnah saja Alvo agar dia membencimu dan meninggalkanmu,” jawab bibi lagi.

“Maaf saya tidak bisa karena itu perbuatan dosa.”

Tingkah laku Reva yang semakin hari semakin aneh membuat Alvo bingung. Ia tidak tahu lkalau semua itu adalah suruhan bibinya.

Alvo tidak tahan lagi. Ketika ia ingin bertemu dan mengunjungi rumah Reva, Reva sama sekali tidak menemui Alvo. Pada malam hari di rumah pak haji ada pengajian dan ceramah. Reva termasuk warga yang aktif dalam kegiatan sekitarnya. Ketika ia hadir di sana, pak haji berceramah tentang bujukan setan. “Bujukan setab bisa di sampaikan dari manusia, terutama manusia yang berbuat jelek.” Mendengar itu, Reva jadi sadar dan hatinya terbuka.

Keesokan harinya Reva minta maaf pada Alvo. Maka dengan senang hati Alvo memaafkannya. Semua itu membuat bibi marah. Alvo heran mengapa bibinya mempunyai perhatian melebihio orang tua kandungnya.. semakin hari bibi semakin marah melihat Alvo dan Reva berjalan bergandengan dan berpelukan di muka umum.

Kali ini bibi Alvo memesan orang bayaran yang lebih hebat dan berpengalaman

“Kali ini aku tidak mau rencanaku gagal lagi,” kata bibi. Suami bibi Alvo sendiri heran, mengapa istri seorang polisi malah bertingkah laku aneh seperti itu.

Ketika Reva diculik Alvo sama sekali tidak tahu keberadaannya, orang tua Reva sudah sangat panik karena anaknya tiga hari tidak pulang. Alvo inginmencari Reva tapi sayangnya bibinya berpura-pura sakit agar Alvo tidak pergi. Di tempat penyekapan, Reva dianiaya dan ia juga sangat menderita. Sang ayah mencari anaknya bersama dengan pihak polisi. Seseorang telah memberitahukan tempat penyekapan itu, tapi sayangnya ketika para polisi menggeledah markas itu penjahat-penjahat suruhan itu sudah kabur dan hanya ditemukan Reva dengan keadaan lemah dan seluruh badan sudah berlumuran darah. Sang ayah langsung melarikan anaknya ke rumah sakit. keluarga Reva dan Alvo sudah tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Dan yang lebih menyedihkan lagi, nyawa Reva tidak terselamatkan. Pada detik-detik kepergian Reva,ia sempat mengatakan kepada Alvo.

“Semua ini adalah perbuatan Bibimu, dan kau juga akan menjadi orang  yang bagaikan burung merpati terbang di hempas angin tanpa arah tujuan.” Mendengar kata-kata Reva, Allvo langsung menghubungi polisi dan menyuruh agar bibinya ditangkap dan dijebloskan penjara.

“Walaupun aku dihukum seberat apa pun, aku ikhlas karena aku dapat membunuh wanita jalang itu,” kata bibi.

“Hukum mati saja orang gila itu,” tuntut ayah dan ibunda Reva sambil menangis.

Begitulah masa lalu Alvo yang diceritakan pada Arlan sambil meneteskan air mata. Tanpa disadari, Alvo sudah berada di tempat penyembuhan orang-orang gila, stress maupun kelainan mental. Alvo bisa berada di situ berkat bantuan Arlan, sang sahabat sejatinya. Alhamdulillah berkat bantuan Arlan, Alvo menjadi lebih baik dan makin lama makin waras dan sehat. Setelah Alvo sudah sembuh dengan total dan bersama Arlan hidup dengan tenang. Datang Elisa dengan wajah mengharap agar Alvo kembali ke keluarganya dan menerima Elisa.

“Kalau kembali ke keluargaku, aku mau. Tapi kalau menerimamu aku belum tentu siap. Karena kamu telah membuat aku mengingat masa laluku lagi,” kata Alvo.

“Sekarang kamu pergi, pergi, cepat pergi!” Usir Alvo. Keesokan harinya Alvo mengunjungi rumah orang tuanya, Alvo pun disambut dengan gembira. Ia kembali tinggal bersama orang tuanya dan kehidupan Alvo jauh lebih baik daripada hari-hari sebelumnya.

(Yulia Atma Putri, Teater Asba SMP Negeri 23 Purworejo, Jawa Tengah, 2006)

Tulislah Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: