Cerpen Ustadji Pantja Wibiarsa: Perempuan di Rumah Kabut

*Cerpen ini dimuat di Jawa Pos, Minggu, 5 Mei 2002 dan di kumpulan cerpen “Para Penari” (Lingkaran Komunikasi, Batu, Jawa Timur, 2002)

PEREMPUAN DI RUMAH KABUT

Perempuan itu selalu saja merasa setiap hari, senja datang terlalu cepat. Angin yang jekut mengabarkan tanah berbukit-bukit meremukkan perjalanan angin, hingga kebekuanlah yang sampai sebagai belaian di urai rambut panjangnya. Kursi-kursi santai dan mejanya, pot-pot dan tanaman bunganya, serta relief dinding Rama-Sinta di beranda depan, akrab dengan basah dingin. Lampu-lampu menyala, tetapi selalu saja bercerita keredupan. Lalu selalu saja desah sebagai luapan sesuatu yang menindih jiwa begitu berat.

Sesungguhnya, ia tak harus merasa begitu, karena telah diberi kebebasan. Setidak-tidaknya dia telah mencoba bebas melukis angan-angan. Suatu wilayah yang sebenarnya entah, tetapi kuasa menjadikannya apa pun, siapa pun, di mana pun, bagaimana pun. Suatu saat ia menjadi sungai, airnya mengalir. Mengalir terus, hingga berpeluk dengan samudra. Suatu saat yang lain, ia menjadi penari. Meliuk-liukkan tubuh diiringi musik slow juga musik hingar bingar. Di dalam kamar, di panggung, di taman, di jalan-jalan, di kantor-kantor. Jika perlu dengan tubuh polos menggiurkan. Pada suatu malam, ia  menjadi alam yang dijelajahi oleh petualang, juga menjadi harimau ganas menerkam-nerkam. Suatu hari ia menjadi alam semesta seisinya. Lalu menjadi sorga, juga neraka. Lantas menjadi setan, malaikat, bahkan Tuhan sekalian.

“Kenapa mesti kaularang aku untuk menjadi segala yang kuinginkan? Kau sendiri dengan seenaknya menjadi api yang menghangusarangkan kehidupan, lalu menjadi gempa bumi yang meluluhlantakkan kehidupan, lalu menjadi  banjir bandang yang menenggelamkan kehidupan!”   Ia menyalak keras. Dulu, sebelum kunci ada padanya.

“Kau istriku!”

“Aku gendakanmu!”

“Tapi kau sendiri telah berikrar, kau adalah bagian dari hidupku dan aku adalah bagian dari hidupmu!”

“Bukankah kau sendiri yang telah mengharcurleburkan ikrar itu? Kauperah aku sebagai sapi perahmu. Kautunggangi aku sebagai kuda pacuan di arena judimu. Kaubidikkan aku sebagai anak panah menghujam jantung buruanmu. Kauumpankan aku sebagai daging merah pada rakus harimaumu. Kautanam aku sebagai biji di ladang hompimpahmu.”

Lalu segalanya berubah sejak itu. Ia memasuki perjalanan hidup antara belenggu dan kebebasan. Lelaki yang telah sekian tahun membawanya dalam berbagai musim itu telah menyerahkan kunci rumah kepadanya.

“Terserah kau sekarang. Kunci telah ada di tanganmu. Sebagaimana rumah yang lain, rumah kita ini dari musim ke musim tentu ada bagian-bagian yang lekang atau lapuk. Setiap berganti musim perlu ada perbaikan-perbaikan. Bahkan perlu ada penggantian dan penambahan di sana-sini. Kunci di tanganmu untuk membuka atau mengancing pintu rumah. Pintu bukan menentukan ke mana rumah itu menghadap. Pintu bukan sekedar jalan masuk atau keluar. Pintu adalah juga gerbang menuju hakikat, tidak bergantung pada masuk atau keluar.”

*

Perempuan itu selalu saja merasa setiap hari, senja datang terlalu cepat. Beranda depan mendengungkan kidung kabut yang bergulung-gulung merayap dari punggung-punggung bukit.  Desahnya membentur pintu ketika ia memutuskan akan masuk ke dalam rumah. Dari duduk di beranda depan ke duduk di ruang tamu. Tapi selalu saja ada gemuruh gelisah menyerbu. Senja tentu merayap ke malam. Kunci ada di tangannya. Ia akan masuk, membiarkan pintu tetap terbuka, memberikan kebebasan aroma malam mencipta pagelaran di dalam rumah. Ataukah menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat, menolak kabut malam bertingkah di dalam rumah, karena rumah masih memerlukan perbaikan, penggantian, bahkan penambahan di sana-sini?

Aroma malam yang berkabut lahir dari penderitaan karena pemaksaan dan penindasan. Aroma malam berkabut yang lama-kelamaan mendesak-desakkan dendam dan pemberontakan. Sesungguhnya, ia sangat bisa menerima sebab-akibat kelahiran dan desakan itu. Siapa pun akan menderita karena terus-menerus kehilangan hak-haknya. Dirampas hak-haknya untuk dapat mengenyam kehidupan layak. Keluhuran manusia sebagai makhluk sosial bagai tiang lapuk dan rapuh manakala berhadapan dengan kepentingan-kepentingan pribadi. Manakala sang pencipta penderitaan itu semakin bersekutu dengan iblis, sedangkan si korban tak lagi setegar batu karang di geram badai lautan, akibatnya adalah magma yang siap menyembur dahsyat dari perut bumi.

“Jangan kaututup pintu itu! Jangan kaukunci! Biarkan rumahmu terbuka menerima kehadiranku,” ucap pemuda dari masa lalunya yang bergegas melangkah naik ke beranda rumah mewahnya. Sekejap kemudian, kabut sergap-menyergap di ruang tamu hingga di ranjang kamar biru. Tak jekut, tapi berpagut dalam bara. Membakar. Lalu reda.

“Untuk kesekian kalinya aku ingin menjemputmu. Tinggalkan dia!”

“Aku masih istrinya.”

“Kau gendakannya.”

“Masih ada sisi yang luhur dalam dirinya, meskipun dia telah iblis.”

“Akan sangat luhur jika kau bergabung dengan kami melawan mereka. Dulu kau bagian dari kami. Sekarang pun kami masih menempatkanmu bagian dari kami. Kau lahir di tanah perbukitan ini. Menghirup udara perbukitan ini. Minum air perbukitan ini. Makan hasil perbukitan ini. Ingatlah masa kecil yang begitu indah saat menelusuri lekuk liku perbukitan ini. Ingatlah masa remaja yang dibalur rasa cita dan cinta di perbukitan ini.”

Perempuan itu melayang-layang terbuai nyanyian nostalgia yang indah meluncur dari mulut dan nurani sang pemuda.

“Kami sangat bahagia dan sangat menaruh harapan yang besar saat kau memutuskan untuk kembali ke sini setelah menamatkan pendidikan tinggimu di kota. Cita-citamu luhur waktu itu, membangun tanah lahirmu, membawa kehidupan para petani di sini ke taraf kehidupan yang lebih baik. Baru beberapa langkah kaulakukan bersama kami, kau telah dirampas paksa dari kami oleh iblis itu. Sayangnya, kau tak sadar waktu itu bahwa kau akan dimanfaatkan olehnya dan kelompok orang asingnya untuk mengeruk kekayaan perbukitan ini.”

“Cukup. Tak usah kaulanjutkan. Aku sudah sangat tahu. Sekarang pulanglah. Sebentar lagi mungkin dia datang.”

“Kau menantinya?”

“Dia masih suamiku.”

“Aku mampu menjadi suamimu.”

“Pulanglah.”

Kembali perempuan itu sendiri di ruang tamu, lalu di ranjangnya, setelah mengunci semua pintu. Benarkah telah menguncinya? Semuanya? Berarti rumah telah tertutup bagi lelaki yang mungkin sebentar lagi datang? Ia bimbang. Ia merasa sudah selayaknya ia tutup rapat-rapat seluruh pintu bagi lelaki itu. Lelaki yang dengan kekuasaan dan kekayaannya begitu mudah membeli seluruh lahan di perbukitan, bahkan membeli seluruh ketakberdayaan dan kebodohan penghuni perbukitan, lalu menjualnya kembali kepada pihak asing. Lelaki yang sebenarnya dulu ia letakkan di pundaknya harapan untuk mewujudkan cita-citanya, tetapi akhirnya berbohong dan berkhianat. Lelaki yang telah menyorongnya ke dalam labirin pilihan yang amat sulit.

“Dia masih suamiku…” gumamnya. Sudah selayaknya ia menantikan kedatangannya dengan pintu-pintu yang terbuka sepenuhnya. Menyambut, menerima, dan memelukciumi segala kelebihan dan kekurangannya. Kekurangan akan dilunasi oleh kelebihan. Dari proses pelunasan akan ditemukan perbaikan, bahkan penggantian bagi yang lekang atau lapuk. Dari proses perbaikan dan penggantian itu akan ditemukan keputusan untuk penambahan demi semakin baik atau semakin lengkap. Itulah rumah yang harus ia bina.

“Aku harus membukakan pintu-pintu sepenuhnya untuknya…”  gumamnya. Ia merasa lelaki itu sedang dalam kesulitan sejak semula. Ia tak percaya lelaki itu begitu saja menyediakan dirinya sebagai pemaksa atau perampas. Ia pertama kali mengenal lelaki itu sebagai seorang yang sangat idealis, sama seperti dirinya. Ia sangat cocok dengannya. Jika dalam perkembangannya lelaki itu menjadi iblis, ia yakin dunia asinglah yang mencekokinya. Hingga lelaki itu diperbudak oleh dunia asing itu. Ia berkeputusan, lelaki itu perlu dibasuh, dimandikan, agar daki-daki dari dunia asing mengelupas dan rontok.

Ia beranjak, menuju kamar mandi. Memutar kran. Menghangatkan air bak. Ia siapkan handuk dan waslap lembut, serta pakaian ganti yang bersih, telah diseterika, dan harum. Ia hangatkan lagi nasi dan sayur yang telah dimasaknya sore tadi. Ia siapkan meja makan dengan keromantisan bunga. Ia siapkan ruang keluarga dengan pilihan siaran televisi acara keluarga sakinah. Ia siapkan kamar tidur dan ranjangnya dengan kelembutan wangi. Ia siapkan dirinya dalam kecantikan lahir-batin. Ia beranjak, membuka pintu depan sepenuhnya. Bersiap menyambut lelaki itu. Harapannya memawar mekar. Kunci ada padanya. Hakikat pintu dan rumah digenggamnya.

Namun lelaki itu tak pernah datang. Ia hilang secara misterius bersama direktur utama agroindustri yang orang asing itu. Pihak yang berwajib berusaha melacaknya. Lalu menginterogasi dan menangkapi para pemuda yang dicurigai.

*

Perempuan itu selalu saja merasa setiap hari, senja datang terlalu cepat. Dan senja terlalu cepat merambat ke malam. Dan kabut dari punggung-punggung bukit terlalu cepat bergulung-gulung mengepung. Lalu menyergap terlalu cepat.

Dengan jemari nyaris beku, ia tutup seluruh pintu. Tak ada lagi kehadiran yang dinantikannya. Kunci tetap ada padanya.

***

(Ustadji Pantja Wibiarsa, Teater Asba SMP Negeri 23 Purworejo, Jawa Tengah, 2002)

Tulislah Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: