Cerpen Latifatul Musafiro: Wajah di Balik Topeng

Juara Harapan 1 Lomba Cipta Cerpen SMP/MTs

Kabupaten Purworejo Tahun 2007

WAJAH DI BALIK TOPENG

Jumat Legi, 4 Mei 2007 – Rabu Legi, 9 Mei 2007

Warga Desa Semono geger. Secara beruntun banyak sapi hitam milik warga mati diracun. Beruntun pula banyak ladang kedelai hitam rusak, tanamannya mati layu. Sangat misterius. Tidak seorang pun tahu siapa pelakunya. Beraneka macam desas-desus pun terus menyebar merayapi setiap sudut desa.

Kamis Paing, 10 Mei 2007

Kokok ayam jantan telah berhasil membangunkan sang surya. Sinar hangat mulai membelai sudut-sudut Desa Semono. Asap hitam mulai mengepul dari sebuah gubuk kecil di pinggir jalan setapak yang menghadap ke utara. Dinding anyaman bambu dan atap seng masih layak dipakai. “Waroeng Minah” Begitu spanduk yang tergantung di depan gubuk itu dengan kain putih yang sudah lusuh. Di dalam warung itu sudah terpajang beberapa wajah warga Desa Semono yang sedang menikmati hidangan yang disediakan sambil berbincang-bincang tentang musibah misterius yang menimpa warga desa.

Pembicaraan menarik dilontarkan oleh Pak Kasan dan Bu Minah yang dua malam yang lalu melihat sesosok manusia yang mencurigakan, memakai pakaian hitam-hitam dan bertopeng.

“Kita ingat tidak pada desas-desus cerita tentang kolor ijo dan hantu asap yang suka membunuh orang itu? Jangan-jangan manusia bertopeng itu sama seperti hantu kolor ijo dan hantu asap, dia menyamar sebagai manusia dan suka membunuh sapi hitam dan merusak ladang kedelai hitam,” kata Pak Semito mencurigai orang bertopeng itu yang membunuh sapi-sapi hitam dan merusak ladang kedelai hitam.

“Oh, iya, bisa juga itu. Bagaimana kalau nanti malam kita beronda secara ketat. Kita cari si manusia bertopeng itu,” kata Pak Sastro menganjurkan kemudian yang lainnya menyatakan setuju.

Minggu Kliwon Malam, 13 Mei 2007

Orang-orang mengejar manusia berpakaian hitam-hitam dan bertopeng. Manusia bertopeng berkelebat cepat. Orang-orang kehilangan jejak. Mereka kembali ke pos ronda lagi. Dalam perjalanan mereka bertemu seorang pemuda dengan ransel besar di punggungnya.

“Selamat malam, Bapak-bapak.”

“Adik ini siapa ya?” tanya Pak Kasan.

“Saya Gayuh Aji. Saya dari Jogja akan ke rumah kakek saya. Kakek Wiryo yang telah meninggal delapan tahun lalu,” jawab pemuda itu dengan senyum ramah dan sopan.

“Sebentar. Sebentar. Oalah, Nak Gayuh ta? Yang dulu tinggal bersama Pak Dhe Wiryo? Wah, sekarang sudah besar ya? Saya jadi pangling,” kata Pak Kasan

“Maaf, Bapak-bapak, saya mau meneruskan perjalanan. Badan saya lelah sekali.”

“O, silakan. Silakan, Nak.”

Gayuh Aji kembali melangkahkan kaki menuju rumah Pak Dadang untuk mengambil kunci, kemudian menuju ke rumah kakeknya. Selama menuju rumah kakeknya, dia masih tidak dapat menepis rasa ibanya yang terselip di antara perasaan-perasaannya yang lain.

Masuk ke rumah kakeknya, ingatannya melayang ke masa kecilnya. Bagian dalam rumah kakeknya itu masih sama seperti dulu. Bersih. Perabotannya tertata rapi. Sebulan sekali rumah itu dibersihkan oleh orang suruhan kedua orang tua Gayuh Aji. Dan wayang kulit asli Bagelen, tokoh-tokoh Pandawa, masih terpajang di dinding di atas pintu menuju ruang tengah. Rasanya ingin lebih lama mengenang masa kecil dengan melihat-lihat keadaan di dalam rumah. Namun dia ingin mandi dan ganti pakaian. Dirasakannya pakaiannya begitu lengket karena keringat di sekujur tubuhnya.

Malam semakin sunyi. Meskipun sinar bulan sabit tak begitu menerangi bumi, terlihat sebuah bayangan sesosok manusia berkelebat cepat dari belakang rumah kakek Gayuh Aji. Bayangan itu berlari menuju ke arah timur.

Senin Legi, 14 Mei 2007

Pagi itu orang-orang geger lagi. Sapi hitam milik Pak Mangun mati misterius dan ladang kedelai hitam milik beberapa orang warga lagi rusak. Pembicaraan hal itu masih ramai dibicarakan hingga siang hari. Semuanya mencurigai manusia bertopeng sebagai pelakunya. Gayuh Aji pun terlibat pembicaraan dengan beberapa orang di warung Bu Minah.

“Manusia bertopeng? Siapa sebenarnya manusia bertopeng itu?” tanya Gayuh Aji.

“Menurut karna binandhung, kabar dari mulut ke mulut, dia adalah sesosok laki-laki berpakaian serba hitam dan bertopeng hitam. Tapi menurut saya, itu bukanlah kabar burung. Itu memang kenyataan, karena tadi malam saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri. Yang jelas akibatnya para warga menjadi takut karena banyak yang beranggapan dia itu sejenis dengan hantu kolor ijo dan hantu asap. Orang-orang sibuk mencari penangkal seperti daun kelor, bambu kuning, kembang setaman, kemenyan, dan masih banyak lagi. Malah banyak juga orang yang pergi ke cungkup pesarean Nyai Ageng Bagelen, menginginkan air khusus yang terdapat di lubang stupa pada puncak batu monolith. Setelah dibacakan doa dan diletakkan di sesaji bunga, dibakarkan kemenyan, air itu bila diminum dapat menghilangkan kesialan dalam tubuhnya,” kata Pak Sastro.

Gayuh Aji mendengarkan dengan serius. Tetapi di dalam hatinya muncul niat untuk membantu meringankan beban Pak Mangun yang baru saja kehilangan sapi hitamnya. Setelah membayar sepiring nasi yang dimakannya, Gayuh segera menuju rumah Pak Mangun. Dia berikan bantuan uang kepada Pak Mangun.Semula  Pak Mangun menolaknya. Setelah Gayuh Aji memaksanya, Pak Mangun akhirnya menerimanya. Berita bahwa Gayuh Aji membantu Pak Mangun cepat menyebar ke orang-orang. Apalagi Gayuh Aji juga membantu warga lainnya yang kena musibah tersebut. Warga Desa Semono sangat berterima kasih kepada Gayuh Aji.

Selasa Wage Dini Hari, 22 Mei 2007

“Ayo! Cepat! Cepat kejar!” teriakan bersahut-sahutan para warga yang sedang mengejar manusia bertopeng. Ada yang membawa oncor, tongkat, balok kayu, senter, pedang, dan clurit. Wajah-wajah mereka tampak garang oleh api kemarahan yang makin berkobar. Dan ketika mereka semakin dekat dengan manusia bertopeng, salah satu warga melemparkan cluritnya mengarah ke manusia bertopeng.

“Rasakan cluritku ini yang sudah dimandikan dengan air khusus dari cungkup pesarean Nyai Bagelen!”

Clurit itu mengarah mulus, tidak ada hambatan. Namun manusia bertopeng tidak kalah gesit. Dia melompat. Clurit itu menyerempet kaki kirinya. Terdengar jeritan mengaduh. Meskipun begitu, manusia bertopeng masih kuat berlari. Para warga terus mengejarnya. Manusia bertopeng berkelebat cepat, mengecoh para warga. Namun darah segar yang terus mengucur dari kakinya meninggalkan jejak kepada para warga. Para warga itu pun mengikuti jejak bercak darah itu dengan diterangi oncor dan senter. Ternyata jejak itu menuju ke rumah kakek Gayuh Aji. Wajah-wajah saling tanya mulai berhadap-hadapan.

“Tidak mungkin pelakunya Gayuh!”

“Ah, mungkin saja!”

“Gayuh pelakunya!”

“Kita dobrak saja pintunya!”

“Tenang, tenang semuanya! Saya akan mencoba mengetuk pintu!” kata Pak RT.

Ketukan tak ada yang menyahuti dari dalam. Akhirnya pintu didobrak. Di sudut ruangan tergeletak tak berdaya sesosok tubuh berpakaian hitam dan topeng hitam di wajahnya. Para warga segera menyerbu masuk. Namun Pak RT menahan mereka. Pak RT segera membuka topeng hitam itu.

“Gayuh!” teriak para warga bersamaan.

“Jadi kamu yang selama ini memporakporandakan desa kami?” kata Pak RT dengan tatapan mata tajam. Untunglah Pak RT bisa mencegah warganya untuk tidak menghajar Gayuh Aji. Mereka pun membawa Gayuh Aji ke balai desa dihadapkan ke Pak Kades. Di sana Gayuh Aji memberi penjelasan atas tindakannya.

“Gayuh, kami sangat kecewa atas perbuatanmu ini. Ternyata kamu adalah gagak nganggo laring merak, orang jahat yang menutupi diri dengan sekilas perbuatan baik. Kenapa kamu lakukan itu semua? Dan kenapa kamu juga membantu warga yang sapi hitamnya kamu bunuh dan ladang kedelai hitamnya yang kamu rusak? Apa maksud semua itu?” tanya Pak Kades tidak mengerti.

“Maafkan saya, Pak, dan juga bapak-bapak semuanya. Saya hanya menjalankan amanat kakek saya sebelum meninggal. Kakek saya berpesan agar saya terus melestarikan tradisi turun temurun dari para leluhur di desa ini. Bukankah dalam tradisi itu ada pantangan untuk memelihara sapi hitam dan menanam kedelai hitam? Dulu ketika Nyai Bagelen sedang menenun, ada seekor anak sapi hitam milik Bagus Gentho sedang meneteknya. Nyai Bagelen menganggap bahwa itu anaknya yang bernama Rara Pitrah dan Rara Taker. Nyai Bagelen marah ketika ternyata anak sapi hitam itu yang meneteknya. Sedangkan kedua anak putrinya itu meninggal karena tertindih tumpukan kedelai hitam. Sejak itulah Nyai Bagelen bersumpah dan berpantang agar anak cucu keturunannya tidak memelihara sapi hitam dan menanam kedelai hitam. Apakah kita tidak bisa ikut merasakan penderitaan Nyai Bagelen? Kenapa di sini masih banyak yang memelihara sapi hitam dan menanam kedelai hitam? Karena itulah saya melakukan semua ini. Namun saya masih punya hati nurani. Maka saya pun membantu meringankan beban orang yang sapi hitamnya saya bunuh dan ladang kedelai hitamnya saya rusak!”

“Gayuh, saya pribadi sangat menghargai tekadmu melestarikan tradisi turun-temurun itu. Tetapi cara yang kamu lakukan itu keliru. Sekarang ini sebenarnya yang dimaksud sapi hitam dan kedelai hitam itu adalah ajaran hitam yang tidak sesuai dengan ajaran agama,” kata Pak Kades menjelaskan.

Pagi itu Gayuh Aji dibawa ke kantor polisi untuk membayar perbuatannya. Setiap perbuatan apa pun alasannya harus tetap dipertanggungjawabkan. Gayuh Aji pasrah. Namun di lubuk hatinya ada semacam kepuasan karena dia berhasil menyampaikan amanat kakeknya kepada warga Desa Semono.

***

(Latifatul Musafiro, Teater Asba SMP Negeri 23 Purworejo, Jawa Tengah, 2007)

Tulislah Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: