Cerpen Dwi Ulfatun Khasanah: Menapak Percik-percik Ketidakpercayaan

Juara 1 Lomba Cipta Cerpen SMP/MTs

Tingkat Kabupaten Purworejo Tahun 2007

MENAPAK PERCIK-PERCIK KETIDAKPERCAYAAN

Kegundahan merayap dalam batin Santi. Ia terus berusaha berjalan merayap dengan bertongkat kekuatan hidupnya yang mulai rapuh oleh percik-percik ketidakpercayaannya. Ia menatap menyaksikan kesibukan orang-orang yang sedang mempersiapkan acara tradisi ruwatan di rumah kakaknya. Ia merasakan ancaman kesabaran, ketenteraman, dan keselamatannya, termasuk keselamatan janin yang dikandungnya. Ia pun teringat pada arti namanya. Santi yang berarti sareh, tentrem, dan rahayu. Namun batinnya memberontak karena kehidupannya terus dalam kebimbangan. Kini dirasakannya kesabarannya sudah hampir habis. Ketenteraman dan keselamatan seolah berada pinggir jurang.

Santi tetap terus menatap kesibukan itu. Acara ruwatan akan dilakukan dua hari lagi. Semangat dan tawa ikut meramaikan suasana di rumah kakaknya yang mempunyai anak kembang sepasang, dua perempuan semua, yang akan diruwat. Kakaknya sebagai kepala desa. Tak heran jika seluruh warga desa akan patuh kepadanya.  Sentono, nama kakaknya itu, berbadan tinggi, tegap, berkumis  tebal, dan wajah yang garang., tetapi terkenal ramah dan dermawan.

Suaminya mendekatinya dengan wajah yang memancarkan kasih sayang.

“Sudahlah San, itu semua sudah kepercayaan warga sini.“

“Tapi Mas, kepercayaan itu tak masuk akal,” jawab Santi sambil menahan sakit di kegetaran hidupnya. Detakan jarum jam dinding yang tergantung di dinding bercat putih itu mengikuti detakan jantung dan alunan nafas.

“Sudahlah, San. Aku pergi ke rumah Mas Sentono dulu dan jangan dipikirkan terus. Jalani saja apa yang akan terjadi dengan penuh kesabaran dan kepasrahan, toh semua itu sudah ada yang mengaturnya,” kata suaminya berusaha menenangkannya.

“Tapi, Mas ..” seru Santi tidak berlanjut karena suaminya hanya menoleh sebentar di ambang pintu dan melangkah meninggalkan Santi yang makin tenggelam dalam kebingungannya.

Sehari menjelang acara ruwatan, batin Santi semakin tidak menentu.

“San, bersiaplah. Kamu dan ibu-ibu hamil lainnya akan dijemput oleh  Pak Agus suruhan Mas Sentono,” kata suaminya yang masih menggosok-gosokkan handuk kecil hijau ke rambutnya.

“Tidak, Mas! Aku tidak akan meninggalkan desa ini. Aku akan tetap tinggal di desa ini, karena tradisi ruwatan tidak ada hubungannya sama sekali dengan keselamatan kandungan,” jawab Santi tanpa menatap suaminya yang sudah berdiri di belakangnya.

“San, kamu harus mengerti, semua ini sudah merupakan kepercayaan masyarakat desa ini. Lagipula kamu pergi hanya untuk sementara. Apa kamu mau janin yang di kandunganmu keguguran?”

“Aku ngerti, Mas. Aku juga tidak mau kehilangan anak kita. Namun kepercayaan itu harus kita tinggalkan,” jawab Santi menahan sakit dalam hatinya.

“Tidak segampang itu. Sebuah kepercayaan yang telah diyakini sejak dulu dan tiba-tiba harus ditinggalkan? Sungguh aneh. Kamu tahu sebagai penerus leluhur kita dan sebagai seseorang yang menghargai para leluhur, kita harus meyakini semua kepercayaan para leluhur kita.”

Percakapan mereka terpotong oleh suara ketukan di pintu depan. Suami Santi menuju ruang tamu. Di ambang pintu sudah berdiri kakak iparnya, rupanya ingin menemui Santi. Didampingi suaminya, Santi menemui kakaknya itu.

“Ada apa, Mas?” tanya Santi saat melihat kakaknya itu duduk di kursi tamu dan menatap wajah Santi dengan tajam.

“Santi, duduklah. Dan kamu, tolong tinggalkan kami berdua,” kata Sentono kepada adiknya lalu kepada adik iparnya. Suami Santi pun meninggalkan kakak beradik itu dengan perasaan penuh kekhawatiran.

“San, nanti jam sepuluh. Pak Agus akan menjemputmu. Kamu harus pergi dari desa ini. Kalau tidak janin yang ada dalam kandunganmu akan keguguran.”

“Tidak, Mas. Kepercayaan itu sama sekali tidak masuk akal.”

“Santi, kepercayaan itu adalah keyakinan dari para leluhur, kamu jangan seenaknya bicara. Kalau kamu melanggar keyakinan itu kamu akan mendapatkan tulahnya. Kamu masih ingat sebuah pepatah yang pernah dikatakan oleh almarhum bapak kita sebelum meninggal? Amit-amit karo Mbah Buyut, mengko kuwalat. Ingat itu?”

“Aku masih ingat. Teapi sekarang aku sudah tidak percaya dengan semua itu. Kamu tahu, Mas, kepercayaan itu sama sekali tidak masuk akal. Kalau memang benar, apa hubungannya ruwatan dan suara gamelan wayang kulit dengan sebuah kandungan?”

“Santi, coba kamu ingat-ingat, apa yang terjadi dengan Bu Imah, Bu Siti, Bu Murti, dan istri Pak Bagus yang pindahan dari Jakarta itu? Mereka semua menentang kepercayaan itu. Akibatnya kandungan mereka keguguran. Semua itu adalah tulah bagi mereka.”

“Mas, aku ingat kejadian itu. Tetapi semua itu bukan karena ruwatan. Mereka keguguran karena mereka tidak bisa menjaga kandungan mereka.”

“Terserah kamu! Aku tidak mau kehilangan keponakanku yang selama ini aku nanti-nantikan. Jadi aku mohon, kamu pergi dari desa ini. Tapi jika tidak mau, jangan salahkan aku bila berakibat kandunganmu keguguran! Sekali lagi kukatakan, kamu dijemput jam sepuluh!” bentak Sentono sambil melangkah meninggalkan Santi.

Deru mesin mobil yang mengangkut lima ibu hamil itu menutup kecerahan di pagi itu. Saat melintas rel kereta api tanpa palang pintu, tiba-tiba mobil mogok. Naas sekali, saat itu bertepatan dengan meluncurnya kereta api dari arah barat. Kecelakaan pun tak bisa dihindari. Terenggutlah nyawa empat ibu hamil bersama janinnya dan seorang sopir. Meskipun anugerah yang luar biasa dirasakan oleh Santi karena hanya dialah yang selamat dari kecelakaan maut itu, tetapi jiwanya sangat terguncang.

“Dok, kenapa saya dan anak yang saya kandung ini selamat? Lebih baik saya turut mati bersama mereka,” ungkap Santi menangis terisak-isak kepada dokter setelah sehari dirawat di rumah sakit.

“Ibu ini bagaimana? Ibu harus bersyukur. Ini sebuah mujizat yang ibu terima. Ibu hanya luka-luka ringan dan bayi yang ada di kandungan ibu baik-baik saja. Tenangkan hati Ibu. Ibu perlu perawatan di rumah sakit ini demi kesehatan Ibu dan bayi Ibu. Tidak apa-apa,” kata dokter menenangkan. Setelah dokter itu meninggalkan ruang perawatan, Santi meminta kepada suaminya yang dengan sabar menungguinya agar dia diizinkan pulang hari itu. Namun suaminya tidak mengizinkannya. Ketika suaminya sedang mengurus administrasi perawatan, Santi diam-diam meninggalkan rumah sakit.

Memasuki desanya, Santi sudah mendengar suara alunan gamelan mengiringi pertunjukan wayang kulit untuk tradisi ruwatan. Alunan gamelan yang mengiringi doa kidung yang melantun dari mulut sang dalang. Lantunan doa kidung yang dipercaya memberi keselamatan kepada anak kembang sepasang, dua keponakan perempuannya. Santi melangkah terus melewati rumah para tetangganya yang baru kehilangan istri tercintanya sekaligus bayi yang dikandungnya. Dia sempatkan mampir sebentar menyampaikan bela sungkawa terdalamnya dalam cucuran air mata tak terbendung.

Tiba di halaman rumah kakaknya, Santi langsung menyeruak kerumunan orang yang sedang menyaksikan pertunjukan wayang kulit dengan lakon “Murwakala”. Saat itu sang dalang masih melantunkan doa kidung ruwatan.

“Berhenti!” teriak Santi menghentikan acara ruwatan itu. Semua mata menatap Santi yang berdiri tegar di depan panggung pertunjukan. Namun sang dalang terus melanjutkan acara tradisi itu. Melihat hal itu, Santi langsung naik panggung. Beberapa orang yang berusaha mencegahnya didorongnya dengan kuat. Santi mendekati sang dalang.

“Hentikan, Pak Dalang!”

Seketika itu terdengar riuh orang-orang memberi tanggapannya atas kejadian itu.  Sentono dengan wajah merah padam, rasa malu bercampur aduk dengan kemarahan, langsung naik panggung memburu Santi. Kakak beradik itu pun berhadap-hadapan.

“Mas! Harus kukatakan ini! Acara ruwatan boleh dilakukan karena itu memang sudah menjadi tradisi peninggalan leluhur kita. Tapi kepercayaan tentang ibu hamil yang akan mengalami keguguran kandungan bila mendengar alunan gamelan ruwatan, harus dihentikan! Lihat, kepercayaan itu sekarang justru mengakibatkan malapetaka! Sembilan nyawa telah jadi tumbal kepercayaan yang tidak masuk akal itu. Siapa yang masih akan mempertahankan …. “

“Cukup, Santi!”

Sentono langsung mencengkeram lengan Santi dan menggelandangnya turun dari panggung menuju ke sebuah ruangan dalam. Keduanya diikuti suami Santi yang ternyata menyusul Santi ketika tahu Santi melarikan diri dari rumah sakit. Di dalam ruangan itu  Sentono mendorong Santi hingga terduduk di kursi.

“Kamu sudah membuat malu kita di hadapan orang banyak! Di mana mukaku ini akan kutaruh sekarang? Kamu sudah keterlaluan!”

“Mas! Aku hanya ingin kepercayaan yang keliru itu dilenyapkan! Apakah tidak cukup bukti sekarang ini kalau kepercayaan itu justru merenggut sembilan nyawa?”

“Mas Sentono, maafkan saya. Saya harus ikut campur dalam hal ini!” sahut suami Santi yang baru saja masuk ruangan itu.

“Mas Pram?”  seru Santi yang langsung mendekati suaminya.

“Mas Sentono, kita harus mengerti apa yang sedang dirasakan Santi sekarang ini. Jiwanya terguncang akibat tragedi kecelakaan itu. Yang dikatakan Santi benar. Kepercayaan yang keliru itu harus segera dilenyapkan. Jika kepercayaan itu tidak ada, tidak akan terjadi kecelakaan yang mengerikan kemarin itu,” kata suami Santi tegas.

“Heh! Pram, Santi, kecelakaan itu tidak ada hubungannya dengan kepercayaan itu! Kecelakaan itu akibat kelalaian Pak Agus yang tidak memeriksa mesin mobil sebelum dipakai! Ah, sudahlah. Aku harus memberi penjelasan kepada orang-orang sekaligus minta maaf atas kejadian ini. Pram, urusi istrimu! Aku tidak ingin dia membuat malu dan onar lagi!”

Sentono segera meninggalkan Santi dan suaminya. Santi menangis terisak sambil menyandarkan kepalanya di dada suaminya. Belaian suaminya di rambutnya dirasakan sedikit menenangkannya.

“Santi, tenanglah. Aku mendukungmu”

“Benar, Mas?” tanya Santi. Suaminya mengangguk.

Detak perjuangan terus mengalir di pembuluh nadi kehidupan Santi. “Ya, aku tidak boleh berhenti berjuang. Aku harus berjuang bersama suamiku untuk meyakinkan orang-orang di desa ini agar meninggalkan kepercayaan keliru itu!” Percik-percik perjuangan terus menebarkan cahayanya berhiaskan ketulusan dan kesucian.

***

(Dwi Ulfatun Khasanah, Teater Asba SMP Negeri 23 Purworejo, Jawa Tengah, 2007)

Tulislah Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: