Cerpen Amad Sholeh: Bayang-bayang Perjalanan

BAYANG-BAYANG PERJALANAN

Rangkaian terang telah pudar. Bundaran merah mulai memejamkan matanya. Gumpalan mendung pun serentak menjatuhkan bulir kebasahan, melumpurkan tanah  halaman, teriringi tangis kepasrahan. Seketika gerimis petang mencengkeram haluan penderitaan di tengah jeritan mutiara kesedihan, yang terus menyelimuti penyesalan dalam kepahitan. Di dalamnya aku merangkak di tengah bara yang dahsyat seakan melelehkan sumsum hatiku.

Tekanan itu terus membayang dalam pelangianku. Rasa yang tak mungkin terhapus dalam pikiranku. Bekas memar itu terus kurasa. Ini semua memang salahku. Tapi kata-kata dendam membuat pikirku berdesir. Mungkinkah derita dan tekanan batin yang menyeret dalam keamarahan, yang terus bersarang di dalamnya? Atau ada tekanan sesuatu di masa lampau? Atau malah melakukan sesuatu yang berakhir dalam penyesalan? Kini hanya kurasa dan kurasa.

Begitu kalian tega mencampakkan aku dalam kepetangan ini. Kalian lemparkan aku dalam penderitaan ini. Aku ingat rangkaian kata bunga itu membuatku terlena dan percaya bahwa kalian akan bersunggguh-sungguh. Tetapi kini hanyalah kekecewaan yang merasuk membuat retak dan retak seluruh keping dan sel-sel darahku. Seolah-olah malaikat datang menghantarkan sakaratul maut. Apa kalian tega dan apa ini mau kalian setelah kalian dapatkan sesuatu itu dariku. Seakan tupai pun sungkan untuk makan berdiam diri membiarkan dirinya mati. Dia merasa hidupnya telah membosankan bahkan dia ingin pulang secepatnya. Mungkin dia kecewa karena selama ini dia banyak berbuat munkar dan dosa yang besar terhadap para tani kelapa. Hanya ada rasa malu dan iba yang ada, dia merasa  membuat negara ini semakin miskin dan orang-orang pun meniru sifat dan akal buruknya. Apakah aku pantas hidup di dunia? Dia mungkin sama seperti aku, aku mungkin banyak kemunafikan dalam kumenjalani bundaran hidup ini.

Ikrar? Aku tak mungkin lagi percaya padamu. Kau yang membuat petangku kembali membayang. Dulu detik-detik rasa itu pernah kubuang karena pemberinya masih sedarah denganku. Kucampakkan dia dengan cintanya yang tersia-sia. Aku tak mungkin menerimanya. Aib bagiku bila aku bersanding di pelaminan dengannya. Cintanya teraniaya. Tapi aku tahu, dia masih menyimpan rasa itu. Dia berikrar.

Apa mungkin ini balasan Sang Kuasa? Aku ganti tercampakkan, tersia-sia. Aku dan hati ini marah seakan bumi ini aku jebloskan dan langit-langit itu kuruntuhkan.

Aku murka. Seandainya kumampu air laut pun akan kutumpahkan, bintang kupadamkan, bulan kumatikan, dan matahari kusirnakan, agar dunia ini terselimuti petangku, agar dunia ini gelap seperti gelapnya pikir dan hatiku, waktu dan detik ini.

Apakah ini akibat diriku tak merangkai kata kejernihan orang tuaku, aku menjadi lalai dan ah, memang begitu malang dan bodohnya kenapa kumunculkan rasa itu sebelum waktunya, dan memang rasa itu dengan sekejap menyirnakan beban hidupku. Tetapi dengan sekejap juga dia menghilang dan meninggalkan memar dan luka di dalam dan di luar kondisi jiwa ragaku. Kurasa jika kuterus begini aku akan menjadi stres dan aku harus bangun dan bersemangat. Mungkin ini hanya cobaan dari-Nya. Hiburan, ya aku harus mencarimu. Kumajukan langkah menuju suatu cahaya. Mungkin meringankan beban hatiku. Kulontarkan tali dan kuhanyutkan dirimu. Tir – tir – tir, bunyi itu, ya, itu bertanda kudapat dirimu. Ya,  bahwa kau menyerahkan dirimu untuk kuhanyutkan kembali. Sudah lama kutunggu bunyi itu tak berdering kembali. Rasa itu kembali membayang di hadapan mata sipitku. Ya, rasa cinta. Aku tak bisa mendustai diriku. Aku tak kuasa menolaknya. Rasa cinta. Tapi pada sedarah. Sedarah. Dan dulu aku telah menolaknya.

Petangku kembali mengguncang seakan-akan roboh paru hatiku, seakan kau membuat kebutaan dalam jiwaku. Kaualihkan tatapan hatiku pada dua ekor kupu-kupu yang yang bercinta. Tapi seakan terpisah karena bertabrak dengan hembusan angin yang menjadi halangan dalam kebahagiaannya. Tanpa disengaja dan tak diduga, tanpa gangguan apa pun, bahkan sang Putri meninggalkan Pangerannya. Kupu-kupu betina itu pun hinggap di sekuntum bunga dan seakan-akan sungkan untuk terbang kembali. Madu pun tak dapat menggugat kesedihannya. Tapi kupu-kupu betina itu tak puas. Dia pun meneruskan perjalanannya dari bunga ke bunga lain. Dan dari taman ke taman lain sampai mampu menuju puncak kenirwanaan. Tetapi sangat memilukan dan sangat menyedihkan walaupun berusaha, kupu-kupu betina itu terancam bahaya yang terus mengintai seakan kelelawar yang cerdik dapat memangsanya. Tetapi dengan bantuan kelelawar, sang kupu-kupu betina dapat terus menghidupi hidupnya.

Ah, biarlah. Mungkin rezeki lain dapat kudapat. Tak apa sedikit. Tapi kurang memang.  Kulangkahkan dengan ragu, kubawa pancingku ke sebuah empang. Plung. Detik-detik pemancing mulai beraksi. Tir-tir-tir. Suara itu berdesir kencang. Wah, aku dapat ikan gabus. Plung. Beban dan pancing kembali dilontarkan ke air. Wah, dapat lagi, nih. Ikan bawal. Plung. Wah, dapat lagi. Memang empang ini banyak ikannya. Waktu sesingkat ini aku dapat tiga ekor ikan. Memang aku beruntung. Benar-benar bahagia dan ramai rasa hatiku saat ini. Riang yang terkandung sekarang. Derita dan kepetangan kuhempaskan segera. Dunia yang menjepit kurenggangkan dengan tenaga jiwa. Semangat untuk apa pun kembali terbangun. Seakan musim penghujan datang dan pepohonan bersemi dan bunga-bunga bermekaran, wewangian beterbangan. Bercanda tawa kejernihan rasa ini. Semakin jernih dan terus mengalir. Berlari ke sana kemari tawa yang teriringi di lakuan dan langkah cepatku. Kulepas segalanya. Pohon itu seolah-olah melambaikan hatinya. Aku berbahagia. Deraian angin sejuk memeluk dan menerpa kulit menembus pori-pori dalam pikirku. Ini akan menjadi keutuhan rasa bahagia ha … ha … ha …. Aduh … aduh, bahagianya hatiku. Bas … sret … cep … butir kebahagiaan itu tercengkeram.

Tiba-tiba dia datang. Menari-nari di hadapanku. Merentangkan kedua tangannya yang berjemari lentik menyambutku. Tak mungkin aku menerimanya. Meski aku tak bisa mendustai hatiku sendiri dan bahagia kurasa.  Bahagia yang sangat membahayakan. Tak mungkin. Meski aku ingin juga. Tapi adalah aib. Sedarah. Sedarah. Kutolak senyum dan tubuhnya. Dia terjengkang. Tangisnya membuatku merasa bersalah dan tak bisa melindunginya.

Plak-plak! Tamparan itu  menebas di selaput pipi. Perasaanku bimbang. Tetapi tangis dan tebasan itu membuatku bingung. Hanya terbayang kemerahan dan perih. Lalu rasa lain yang kurasa memperdengarkan rintih memohon menggugah pikir dan hatiku. Aku tak mampu menolak rasa itu. Rasa yang mendesak-desak. Aku tak tahu selanjutnya. Tahu-tahu tanganku berlumuran warna merah. Mungkin pertanda gelora rasaku yang menyala.

Busyet. Aku apa, apa?

“Apa yang kaulakukan? Ya, Allah! Kenapa ini?”

“Tolong! Tolong! Tolong!”

Hiruk-pikuk. Gaduh. Jerit. Bersahutan.

Tubuhnya yang berlumur merah juga segera diangkat, menjauh dariku. Aku yakin warna merah berlumur di tubuhnya juga pertanda gelora rasa yang menyala. Tangan-tangan kuat mencengkeramku. Tangan-tangan kuat lainnya menudingku.

“Kalau memang kamu tak bisa menjaganya, jangan kaukatakan iya dan jangan kau terima tawarannya. Dasar bodoh. Kamu itu gimana sih? Sampai dia jadi begini? Apa yang membuatmu ceroboh seperti ini? Apa yang membuatmu biadab seperti ini? Dasar kakak bejat yang tak mampu menjaga sang adik. Dasar anak tak berguna. Bisanya merepotkan keluarga! Menyusahkan keluarga!”

Iya, aku jadi, ah, bodoh sekali aku, apa tadi khayalan atau mimpi? Sudahlah ini terjadi semua gara-gara dia. Dia begitu menggoda. Merayu dan menggoda. Aku harus melupakan kejadian itu dan ini kuharus buka lembaran baru dalam menjalani langkah kehidupan menyongsong kebahagiaan dan cita-cita semoga Sang Kuasa melimpahkan rahmat-Nya pada hamba-Nya yang khilaf pada diri-Nya.

Dengan tak kusangka dan tak diduga semua memandang, menatap pas pada bundar hitam di mata ini. Angin yang setiap waktu berlari dan bernyanyi, tetapi kini diam terpana. Lalat yang selalu terbang dan berdering, tapi kini sepi dan sepertinya janggal untuk terbang. Menatapku seribu pelototan, mutlak dipancarkan padaku. Aku pun bingung kenapa dan ada apa ini? Mungkin lalat itu juga bingung kenapa dia diam dan sayap yang selalu berkepak tapi ini kok diam dan merenggut pandangku.

Apa ini? Apa yang terjadi? Tiba-tiba aku di tengah suatu simpul yang berpusar-pusar.

Pak, minta maaf, saya numpang tanya. Pak. Pak, Pak, Bu, saya mau numpang tanya, boleh kan? Bu, Bu, Ibu, Dik …Dik, Adik, kalau boleh tahu ini tempat apa? Dik, Adik. Hallo, Adik!

Aneh. Kenapa semua diam. Ah, sebenarnya aku manusia atau … Ah, tidak, tidak, tidak mungkin. Plak-plak. Terasa aku sakit ketika kutampari pipi-pipiku sendiri. Berarti ini nyata.

Hei, kenapa kalian pergi? Tunggu, mau ke mana kalian? Tunggu! Apa maksud kalian meninggalkan aku sendirian di sini? Aduh aku capek nih dipusar-pusarkan. Hei, ke mana kalian?

“Kamu khilaf, kamu ceroboh, kamu pembunuh, pembunuh!”

Hei, kalian jaga mulut kalian! Bisa saya robek mulut kalian nanti!

“Coba kalau kau bisa, jika kau memang mampu!”

Kurang ajar. Hiaaa!

Kenapa, kenapa aku tak bisa melawan? Tak bisa merobek mulut mereka? Sukma, apa mereka sukma? Siapa kalian sebenarnya?

“Aku, aku yang ada dalam dirimu dan mengiringimu agar kau menjadi orang yang jujur, baik, rendah hati, mau mengakui kesalahan sendiri. Tapi kecerobohan membuat petangmu menjadikan kami tak memihakmu.”

Kemudian sunyi. Cukup lama. Aku bimbang.

Hei, kalian jangan pergi!

“Aku tak pergi. Aku hanya memberimu waktu untuk menguliti dirimu sendiri. Apa kau sudah kaya? Apa pengertian kaya menurutmu?”

Apa yang terjadi dalam kehidupan ini? Terlalu aku. Dalam hal harta aku memang kaya raya. Tapi untuk apa jika aku tak kaya cinta dan kasih sayang? Rasanya hidup ini sia-sia percuma!

“Mas, Mas, maaf, Mas, saya mengganggu.”

“Eh, Bapak. Ada apa Pak RT?”

“Mari, Mas, ikut mengantar Adik. Bukankah Mas mencintai, mengasihi, dan menyayangi adik Mas?”

“Ya. Memang. Tapi mengantar Adik?”

“Ya, adik Mas sudah pulang, dipanggil menghadap Yang Kuasa.”

“Pulang? Dipanggil Yang Kuasa? Tidak mungkin. Tidak …”

“Ya, sudah. Tenangkan dulu perasaan dan pikiran Mas. Nanti kalau sudah tenang, lebih baik Mas turut mengantarkan adik Mas ke peristirahatannya yang terakhir.”

Jika memang adikku mendahului pulang, seharusnya aku yang mengalami hal ini. Tapi kenapa dia mendahuluiku? Seolah-olah lidah api menjilat bumi. Mendung dan bledeg seakan menghancurkan bumi ini.

“Puas kau sekarang? Kau ceroboh. Pembunuh. Kau pembunuh. Dasar manusia kejam. Kau pembunuh!”

Hentikan. Hentikan, kalian selalu datang membuatku pusing dan panik. Sebenarnya apa mau kalian?

“Membunuhmu! Biar impas! Utang nyawa, dibayar nyawa!”

Silakan! Kalau kalian bisa. Aku sudah mengizinkan kematianku. Mungkin semua orang menginginkanku mati.

“Baiklah. Bersiap-siaplah kamu!”

Berhenti cukup lama.

Kenapa kalian?

“Kau manusia bejat. Dirimu telah terkuasai nafsu cinta dan amarahnya membuatmu hebat dan tak mempan senjata apa pun. Mungkin kau akan lebih menderita jika kau tak segera membuang nafsu cintamu. Dan karena amarahnya kau akan menderita seumur hidup. Dalam kegelapan yang selalu terselimuti kepetangan ejekan dan hinaan. Kau akan menderita dan menderita!”

Hei, apa maksud kalian?

“Kau pembunuh. Pembunuh!”

Tidak!

Ini semua hanya kebetulan saja. Apa mungkin selimut kepetangan mampu membelenggukan terangku dalam penderitaan? Kini angin tak lagi meniupkan udara segar. Hampa rasa segalanya.

“Kau pembunuh! Pembunuh kau!”

Diam! Diam! Kalian membuat hidupku lebih petang. Terus dan terus hati ini merengek gara-gara kalian terus mengatakan kata-kata itu.

“Apa kau mengingkari dan juga akan lari dari kenyataan ini? Kau sekali pembunuh tetap pembunuh. Kau pembunuh!”

Tidak! Tidak mungkin aku pembunuh. Apa aku pembunuh? Yah, aku pembunuh. Tidak. Tidak mungkin. Aku bukan pembunuh. Dia pembunuhnya. Dia siapa, aku tidak tahu. Pokoknya aku bukan pembunuh! Bukan pembunuh!

“Hallo, ini rumah sakit jiwa?”

“Ya, ini dari siapa?”

“Dari keluarga Wibisono”

“O, ya Pak. Ada yang bisa saya bantu?”

“O, ya. Tolong kirim ambulan ke jalan anu nomor sekian.”

“Ada yang sakit parah ya, Pak? Mengamuk, ya, Pak?”

“Ya. Segera ya?”

“Ya.”

“Terima kasih”

“Sama-sama.”

Aku bosan disuruh menanti. Menanti adalah pekerjaan yang membosankan dan melelahkan. Aku berharap semua urung. Tapi akhirnya mereka itu pun datang. Berpakaian serba putih. Baunya tidak enak.

“Aku bukan pembunuh. Mau apa kalian? Mau apa? Aku bukan pembunuh!”

“Ya, benar Anda bukan pembunuh.”

“Sungguh? Kalian percaya kalau aku bukan pembunuhnya? Ya, kan?”

“Percaya. Sekarang Anda ikut kami. Mari.”

Aku bukan pembunuh. Aku tahu aku bersalah. Tapi begitu rendah jiwa dan martabatku jika aku sampai membunuh. Apalagi pada adik perempuanku, yang sedarah. Sekarang selimut tebal hitam itu telah menutup rapat hingga petang remang yang tampak.

Sesungguhnya tempat ini sangat ramai dan penuh tawa ria yang mengiringi. Tetapi keramaian itu serasa sunyi yang membuatku tak tahu apa yang terjadi. Ramai. Bahagia. Hanyalah percuma. Di tempat yang bersih, terang, luas, dan selalu ramai tapi sunyi ini  terus terhuni bayang-bayang, tanda tanya, dan rintihan perjalanan. Inilah petangku. Tetapi kepetangan itu mungkin dapat berubah terang. Hiburan dan raja jiwa yang mampu menerangkan, terpandang, menyorot ke pojok-pojok hidupku. Nyatanya, rasa bahagia, tawa, dan ria selalu bertarung dengan derita, tangis, dan amarah. Mungkin harusnya tak kurasa bahkan kematian pun tak kutakuti. Begitu kejamnya dunia dan alam yang mengiringi dalam ketakmengertian. Kasihan, ya? Memang telah tergaris dan kodrat telah menentukan penderitaan akibat sesuatu yang dilakukan pada masa lampau atau mungkin dosa yang begitu besar yang terkandung dalam jiwa dan raga.

Semoga terdapat hikmah yang bahagia di balik semua ini. Amin.

(Amad Sholeh, Teater Asba SMP Negeri 23 Purworejo, Jawa Tengah, 2006)

Tulislah Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: