Cerita Anak Ustadji Pantja Wibiarsa: Bulan di Riak Air

*Cerita anak ini dimuat di Kedaulatan Rakyat, Minggu Wage, 2 Februari 2003

BULAN DI RIAK AIR

Tiap kali melihat bapak dan ibunya bertengkar, Muhdi selalu ingin melerai mereka. Namun beberapa kali ia mencobanya, malahan dimarahi bapaknya. Bapaknya selalu bilang bahwa Muhdi hanya anak kecil, tidak akan mengerti keruwetan orang tua.

Lama-kelamaan ia tidak tahan saat melihat orang tuanya bertengkar. Apalagi sejak tiga hari ini, setiap pulang kerja jam delapan malam, bapaknya selalu marah-marah.  Sebenarnya ia ingin melindungi ibunya dari tindak kekerasan bapaknya. Namun apa daya?

“Yati! Mana air hangat untuk mandi?” teriak bapaknya kepada ibunya.

“Belum ada. Sebentar saya jerangkan,” jawab ibunya.

“Tidak usah! Dasar perempuan tak tahu diri! Kerjamu apa?”

Ya, Tuhan, lindungi ibuku. Muhdi memohon kepada Tuhan. Ia tahu persis, pekerjaan rumah yang telah dikerjakan ibunya sangatlah banyak. Dari benah-benah rumah, mencuci pakaian, sampai memasak. Bahkan untuk menambah penghasilan keluarga, tiap hari ibunya membuat bermacam makanan dari bahan ketela, dan dititipkan di warung-warung.

Ia juga tahu persis. Bapaknya capek, seharian bekerja di kantor swasta yang hampir bangkrut. Namun, ia sangat jengkel kalau bapaknya marah-marah terus. Ia mencoba terus belajar. Besok pagi ia harus mengumpulkan tugas yang diberikan oleh gurunya yaitu membuat sebuah karangan  berisi pengalaman pribadi yang menarik.

Karena pikirannya risau, Muhdi tidak dapat mengarang. Ia lalu ke luar rumah. Di samping rumah ada jembatan kecil. Ia duduk di jembatan itu. Suasana malam sebenarnya indah. Malam itu bulan purnama. Bayangan bulan jatuh di riak air sungai kecil. Ia terkesan dengan pemandangan itu. Tiba-tiba saja ia menemukan kalimat bagus untuk mengawali karangannya. Kalimat itu berbunyi: Bayangan rembulan di riak air membuatku dapat melupakan kesedihan dan kerisauan hati.

“Di, kenapa kamu di sini? Tidak belajar, ya? Malas kamu!”

Muhdi dikejutkan kehadiran bapaknya yang langsung menegurnya dengan kasar.

“Saya sedang belajar, Pak,” jawabnya agak gugup.

“Belajar? Belajar kok di jembatan? Belajar apa?”  tanya bapaknya dengan kesal.

“Saya belajar mengarang, Pak. Besok saya harus mengumpulkan tugas mengarang. Baru saja di sini saya menemukan kalimat pertama untuk membuka karangan saya itu.”

“Huh! Omong kosong! Mana mungkin?”

“Benar, Pak.”  Kemudian Muhdi mengucapkan kalimat itu. Tidak disangka-sangka bapaknya terkejut mendengar kalimat itu. Ia lihat bapaknya menatap bayangan rembulan di riak air sungai kecil itu. Lama sekali. Muhdi mencoba agak mendekat ke bapaknya.

“Maafkan saya, Pak. Jika kalimat saya tadi membuat Bapak marah.”

“Tidak, Di. Bapak tidak marah. Bapak justru sangat bangga denganmu,”  ucap bapaknya dengan suara bergetar seperti menahan tangis. Tiba-tiba bapaknya memeluknya erat. “Maafkan Bapak, Di. Kalimat yang kamu buat tadi menyadarkan Bapak. Tidak sepantasnya Bapak marah-marah. Kamu benar, mestinya saat Bapak sedih, risau, ruwet memikirkan kesulitan keuangan keluarga kita, Bapak harus bisa tetap bersikap sabar dan lembut seperti rembulan  menyinari seisi bumi di malam hari.”

Mendengar kata-kata bapaknya itu, Muhdi sangat bahagia. Terbayang di angannya, bapak dan ibunya selalu rukun. Ia dipeluk bersama oleh bapak dan ibunya dalam kasih sayang kebersamaan dan kerukunan.

(Ustadji Pantja Wibiarsa, Sanggar Kalimasada Kutoarjo, Purworejo, Jawa Tengah, 2003)

Tulislah Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: