Cerita Anak Melly Sagita: Semangat yang Tak Pudar

SEMANGAT YANG TAK PUDAR

Tiga tahun yang lalu rumah kami terbakar. Tak ada harta benda yang dapat kami selamatkan. Pakaian pun hanya yang melekat di badan saja. Sekarang aku dan keluargaku tinggal di sebuah rumah berdinding anyaman bambu. Walaupun rumah kami kecil, tapi kebersamaan kami tetap besar. Bapak sering mengajariku tentang sikap yang baik, Mas Arman, kakakku,  sering mengajariku mengaji dan Ibu mengajariku tata krama.

Saat ini aku tidak bersekolah lagi setelah lulus SD. Karena ekonomi yang ditanggung keluargaku semakin berat, aku pun juga ikut bekerja sebagai penjual koran. Bapak menjadi penarik becak, ibu berjualan kue di pasar, dan Mas Arman bekerja sebagai buruh bangunan. Sebagian uang hasil berjualan koran aku tabung untuk rencana biayaku meneruskan sekolah yang tertunda karena tak ada biaya. Penghasilan keluargaku sehari hanya cukup untuk modal ibu dan makan sehari. Bapakku sering menasihatiku “Walaupun susah, kita tidak  boleh mencuri.” Bapak juga berpesan agar aku harus selalu tegar menghadapi cobaan dan jangan pernah meninggalkan salat lima waktu.

Siang itu udara di terminal sangat panas. Aku terus saja berjalan dari orang ke orang menawarkan koran. Satu demi satu koran di tanganku terjual. Langsung saja aku pergi ke tempat agen dan menyetorkan uang setoran koran.

“Lumayan juga pendapatanmu hari ini, Gus!”

“Siapa dulu, Agus Riswanto!”

“Kecil-kecil memang cabe rawit kamu!”

“Terima kasih, Pak.”

Setelah menyerahkan uang setoran, aku pun langsung pergi pulang. Sampai di rumah, ternyata ibu belum pulang. Setelah lama aku menanti ibu, akhirnya ibu pulang juga.

“Loh…..Gus, kamu pulangnya sudah dari tadi?”

“Iya, Bu, habis korannya laris banget!”

“Alhamdulillah hirobbil’alamin.”

Aku pun masuk ke rumah setelah Ibu membuka gembok rumah. Di dalam rumah, ibu menceritakan padaku kalau kuenya tidak laku. Modal untuk membuat kue makin lama makin dirasa berat. Ibu pun memutuskan ingin berganti pekerjaan. Entah apa, Ibu pun masih bingung. Tiba-tiba Ibu terkejut dan berkata, “Gus, bagaimana kalau Ibu jadi tukang cuci baju?”

“Ya … boleh juga. Nanti urusan bersih-bersih rumah biar Agus saja.”

Ibu pun tersenyum dan pergi ke dapur untuk menyiapkan beberapa makanan untuk makan siang dan makan malam.

Malam ini ada yang aneh dengan sifat Bapak. Setelah makan malam Bapak tampak gelisah.

“Bapak kenapa? Dari tadi kok kelihatan bingung?” tanyaku.

“Oh…nggak ada apa-apa, kok, Gus!”

Bapak pun masuk lagi ke dalam kamar. Sedangkan Mas Arman belum pulang dari tadi siang. Aku, Ibu atau Bapak tak ada yang tahu di mana Mas Arman. Karena hari semakin malam, kami tidur di kamar masing-masing. Saat semua sedang tertidur aku mendengar ada seseorang yang membuka pintu kamarku. Aku pikir Mas Arman karena Mas Arman dan aku tidur di kamar yang sama. Pagi-pagi sekali sekitar pukul tiga pagi, aku bangun untuk salat tahajud. Kulihat di sampingku tak ada Mas Arman.

“Masa sih Mas Arman jam segini sudah bangun?” gumamku dalam hati.

Aku langsung ke sumur akan bertanya kepada Ibu tentang Mas Arman. Ternyata Ibu belum melihat Mas Arman dari tadi malam ketika aku tidur. Karena yang aku tanya hanya itu, aku pun langsung mengambil air wudhu dan langsung salat di kamar. Setelah salat, aku membantu ibu mencuci baju.

Saat masuk waktu salat Subuh, Ibu dan aku telah selesai mencuci. Kami mengambil air wudhu dan salat bersama dengan Bapak yang waktu itu baru bangun tidur dan langsung mengambil air wudhu. Selesai salat subuh, tak seperti biasanya Bapak langsung pergi sambil membawa becaknya. Aku pun pergi ke kamarku untuk membersihkan kamar yang kelihatan acak-acakan. Ketika aku menyingkap alas almari bukuku, betapa paniknya aku. Tabunganku untuk meneruskan sekolah ke SMP hilang. Aku pergi ke kamar ibu dengan pikiran panik

“Bu….Bu…Bu…”

“Eh…. Ada apa ta ini? Kamu kok teriak-teriak?”

“Uang tabunganku hilang. Padahal uang itu sedang aku kumpulkan untuk meneruskan sekolah.”

“Kok bisa hilang?” Ibu tampak juga bingung. Bersama Ibu, aku cari kembali ke seluruh bagian kamarku. Hasilnya nihil. Ibu berusaha menenangkanku.

Perasaanku saat itu sangat sedih. Tubuhku lemas dan gemetar. Aku merenungkan dan berpikir siapa orang yang telah mencuri tabunganku. Biarlah mungkin ini memang sudah menjadi cobaan dalam hidupku. Aku harus lebih giat lagi untuk mengumpulkan uang dari awal.

Pagi ini kumulai dengan semangat yang baru dalam berjualan koran. Mungkin karena semangat itu, koran yang aku jual langsung habis tanpa menunggu siang. Terpikir dalam pikiranku untuk menambah penghasilan dengan menjadi pengamen. Ternyata penghasilan untuk sehari ini bertambah. Dari dua puluh menjadi dua puluh lima ribu. Akhirnya sepuluh ribu penghasilanku aku tabungkan.dan yang lima belas ribu akan aku berikan ibu untuk belanja. Setelah mengamen, aku pulang ke rumah. Dalam perjalanan pulang, sebuah mobil hampir menyerempetku. Aku pun terjatuh dan kaki sebelah kiriku terlindas motor di belakang mobil yang hampir menyerempetku. Aku teriak kesakitan dan pingsan.

Saat sadar aku telah berada di rumah sakit di temani Ibu di sampingku. Dan yang kurasa saat itu sangat menyakitkan, kaki sebelah kiriku telah hilang. Agar membuat ibu tidak bertambah sedih, aku pura-pura tegar. Karena biaya yang amat sangat berat untuk operasi dan rawat inapku, Ibu memutuskan untuk merawatku di rumah saja.

Malam itu Ibu tak seperti biasanya. Ibu tertidur lemas di tempat tidurnya.

“Bu, Ibu sakit?”

“Nggak tahu nih! Seluruh badan Ibu pegal-pegal.”

“Ya sudah, Ibu istirahat saja. Kalau masalah makan malam, nanti biar Agus yang beli.”

Aku pun pergi membeli nasi bungkus. Tak lupa pula aku membeli nasi bungkus untuk Mas Arman dan Bapak. Mungkin saat makan malam nanti mereka pulang. Aku berjalan dibantu tongkat membeli nasi bungkus. Dalam perjalanan, aku melihat Bapak di sebuah warung kopi. Kudekati dan kuperhatikan dari balik semak-semak dekat warung. Tampak juga beberapa orang yang sedang bersama Bapak sambil tertawa terbahak-bahak. Setelah aku cermati betul-betul, ternyata Bapak sedang main judi. Betapa kagetnya aku. Ternyata Bapak telah berubah. Karena teringat tentang nasi bungkus yang harus kubeli, aku langsung pergi ke warung dan membeli empat nasi bungkus. Aku pun pulang.

Dalam perjalanan pulang, aku melihat Mas Arman. Ia seperti orang ingin mencuri sepeda yang sedang diparkir. Ternyata dugaanku benar, Mas Arman mencuri sepeda. Batinku sangat terguncang waktu itu. Aku tidak tahan dengan perbuatan Bapak dan Mas Arman, aku langsung saja pulang. Sampai di rumah, aku dan Ibu makan terlebih dahulu tanpa menanti Bapak dan Mas Arman.

Malam demi malam aku dan Ibu terus menanti. Jam dinding pun menunjukkan pukul sebelas malam. Akhirnya kami berdua memutuskan untuk tidur. Lagi pula ibu butuh istirahat karena keadaannya tak kunjung membaik.

Aku mulai kegiatanku seperti biasa yaitu berjualan koran di terminal. Tak sengaja aku melihat Mas Arman dan Bapak sedang membicarakan sesuatu. Kudengar mereka berbicara.

“Man, Bapak merasa bersalah sama Agus.”

“Memangnya Bapak melakukan apa?”

“Mm….Bapak sudah mengambil uang tabungan Agus.”

“Pak, Arman juga merasa bersalah sudah mencuri sepeda.”

Sejenak Bapak dan Mas Arman terdiam. Aku terus saja memperhatikan mereka berdua. Lagi-lagi mereka berdua membicarakan sesuatu.

“Pak, sebenarnya Arman mencuri ada alasannya. Arman tidak betah harus hidup miskin terus. Arman malu, Pak!  Makanya Arman nekat mencuri.”

“Bapak juga! Bapak ingin cepat kaya dengan berjudi, main kartu dan memasang togel. Awalnya Bapak cuma coba-coba. Tapi lama-lama Bapak ketagihan Apalagi hadiahnya gede banget.”

Di tengah pembicaraan mereka, aku muncul dengan tongkat yang membantuku berjalan. Seketika Bapak dan Mas Arman kaget melihat keadaanku. Mereka hanya bisa tertunduk diam dan malu.

“Pak, Mas aku ingin Bapak dan Mas Arman cepat pulang. Kasihan Ibu memikirkan Bapak dan Mas Arman terus hingga akhirnya Ibu sakit. Kesalahan yang lalu biarlah berlalu yang penting sekarang Mas Arman dan Bapak berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan itu lagi. Aku sudah memaafkan Bapak kok. Masalah untuk sekolah biar nanti aku mengumpulkan lagi dari awal. Yang penting sekarang Bapak dan Mas Arman pulang ya?”

“Agus, Bapak minta maaf….Bapak minta maaf…”

“Udah Pak, jangan menangis. Kadang manusia bisa khilaf.”

Aku, Bapak, dan Mas Arman pulang ke rumah. Dalam perjalanan Bapak dan Mas Arman menanyakan tentang kakiku. Kuceritakan semua kejadian yang telah menimpaku. Sampai di rumah, ibu terkejut dan turun dari tempat tidurnya.

“Bapak, Arman….kalian sudah pulang!”

“Bu…maafkan Bapak, ya!”

“Arman juga minta maaf, Bu!”

Hatiku menjadi sangat senang dan lega melihat kebahagiaan keluargaku. Aku mengharapkan agar keluargaku tetap selalu bersama-sama. Dan aku pun harus terus berjuang untuk bisa bersekolah lagi walau sekarang keadaanku cacat.

***

(Melly Sagita, Teater Asba SMP Negeri 23 Purworejo, Jawa Tengah, 2006)

Tulislah Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: