Di Antara Bayang-bayang

Cerpen: Pradoto Idi Hapsoro

(Juara Harapan 1 Lomba Cipta Cerpen Kopisisa Tahun 2002 Tingkat Kabupaten Purworejo dan Sekitarnya)

Sunyi senyap. Malam dingin. Angin bernyanyi lagu menggigil. Lolongan anjing mencengkeram perasaan. Di langit tak tampak satu pun bintang yang biasanya mengedip-ngedipkan matanya. Namun dua anak kakak beradik, Aldi dan Fiki, mencari belut di sawah Pak Amir. Sengaja mereka tak seizin Pak Amir. Mereka sangat membenci lelaki itu. Beberapa tahun yang lalu, mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri ibu mereka bertengkar dengan Pak Amir hingga Pak Amir memukuli ibu mereka. Anehnya setelah itu tersebar isu bahwa yang memukuli ibu mereka adalah ayah mereka sendiri. Akibatnya, warga kampung menjadi marah, lalu menghajar ayah mereka tanpa dapat dihalang-halangi sampai meninggal. Sampai sekarang peristiwa itu masih membayang-bayangi hidup Aldi dan Fiki.

Malam itu tak ada orang lain mencari belut di sawah.

“Wah, Ki, malam ini pasti kita dapat belut banyak sekali,” Aldi berkata.

“Benar, Mas. Besok kita dapat menjualnya di pasar,” kata sang adik, bersemangat.

Mereka mulai menyalakan lampu senter dan disorotkan ke tanah cangkulan di sawah. Dalam sekejap tang di tangan mereka sudah memangsa beberapa belut. Belut-belut itu dimasukkan ke dalam ember bertutup. Mereka terus berburu belut ke arah timur. Menurut orang-orang, semakin ke timur sawah Pak Amir semakin banyak belutnya. Namun semakin ke timur, kehangatan semakin menyingkir, berganti hawa yang semakin dingin. Angin semakin kencang bertiup.

Tiba-tiba angin kencang berpusar-pusar di hadapan mereka dan menghempaskan mereka ke hamparan lumpur sawah. Lampu senter dan ember berisi belut terpental jauh. Hanya tang yang masih tergenggam. Kemudian tubuh keduanya tersedot ke pusaran angin itu. Beberapa detik mereka diombang-ambingkan untuk kemudian dihempaskan lagi ke hamparan lumpur.

Terdengar suara hiruk-pikuk teriakan, jeritan, dan letusan bedil bersahut-sahutan. Cahaya berkilat-kilatan susul-menyusul berpancar hingga ke angkasa.

“Mas, sebenarnya ada apa ini?” tanya Fiki terengah-engah.

“Aku tidak tahu, Fik. Tetapi sepertinya sedang terjadi peperangan,” jawab Aldi tak kalah terengah-engahnya.

Belum sempat mereka mengetahui yang sebenarnya terjadi, kedahuluan seseorang menodongkan bedil dan menyorongkannya ke punggung mereka bergantian.

“Aduh…!” teriak Aldi dan Fiki terguling di hamparan lumpur kembali.

“Jangan bergerak!” bentak orang itu. Namun Fiki terlanjur bergerak dan akan berlari. Orang itu mengayunkan bedilnya akan memukulnya. Saat itulah terlontar anak panah, melesat cepat dari kegelapan, mengenai dada orang itu, dan robohlah dia. Datang seorang lelaki muda gagah, di tangannya busur panah besar. Aldi dan Fiki mengucapkan terima kasih kepada penolong itu.

“Ayo, ikut aku bergabung dengan para pejuang yang lain!” ajak lelaki itu.

Akhirnya Aldi dan Fiki mau bergabung dengan kelompok pejuang yang menyelamatkan mereka. Kelompok itu tinggal di pedalaman hutan.

“Mas, apakah tidak apa-apa bergabung dengan kelompok ini?” tanya Fiki suatu pagi dengan suara pelan, saat ada kesempatan berdua saja dengan kakaknya.

“Ah, kamu Fik. Tentu saja tidak apa-apa. Bukankah mereka bersikap baik kepada kita?” jawab Aldi yakin.

Namun Fiki tidak percaya begitu saja. Karena penasaran, ia ingin menyelidiki kelompok pejuang itu. Mereka pejuang yang baik atau jahat. Tiga hari berikutnya, ia berhasil memperoleh jawaban. Ternyata kelompok pejuang itu bernama kelompok Halilintar Merah, kelompok yang sering melakukan pengancaman kepada penduduk apabila penduduk itu tidak mau bergabung dengan mereka. Kelompok itu adalah kelompok yang ingin melepaskan diri dari negara kesatuan dan ingin membentuk negara sendiri.

“Mas, mereka adalah gerombolan yang menginginkan kemerdekaan sendiri!”

“Memangnya salah? Kita semua bebas menentukan kemerdekaan sendiri!”

“Tetapi, Mas …”

“Ah, sudahlah, Fik. Yang penting mereka bersikap baik kepada kita.”

“Mas, percayalah padaku. Kita sangat keliru jika bergabung dengan mereka.”

“Aku bilang sudahlah, ya, sudahlah!”

Karena tidak sependapat dengan kakaknya, Fiki pun memikirkan rencana untuk melarikan diri. Ia akan naik ke atap kamar kecil dari dalam kamar kecil itu, lalu melompat mencebur ke sungai yang letaknya di belakang kamar kecil itu. Sehari kemudian, ia laksanakan rencana itu. Namun sayang usahanya itu diketahui oleh seorang anggota Halilintar Merah. Ia ditangkap dan dijebloskan ke dalam ruangan bawah tanah.

Fiki tidak jera. Ia terus berusaha melarikan diri. Ia telusuri ruangan bawah tanah itu sampai menemukan sebuah lubang angin. Dengan susah payah ia akhirnya berhasil melepas jeruji besinya dan keluar melalui lubang angin itu. Begitu keluar, ia melihat seorang penjaga yang siap dengan bedilnya. Ia pungut sebuah batu dan ia lempar ke arah yang berlawanan dengan arah yang akan ia tuju untuk melarikan diri. Penjaga itu terkecoh. Fiki berhasil melarikan diri.

Fiki berusaha keluar dari pedalaman hutan dengan berenang menyeberangi sungai. Setelah sampai di seberang, ia merangkak menaiki bukit. Namun begitu sampai di puncak bukit, beberapa moncong bedil telah mengarah kepadanya.

“Hai, kamu anak komplotan Halilintar Merah,ya?” bentak seseorang.

“Bukan. Bukan. Aku hanya anak pengembara …” jawab Fiki ketakutan dan tiba-tiba saja meluncur pengakuannya itu.

“Jangan berbohong!” bentak seseorang yang lain.

“Aku tidak berbohong. Sumpah. Demi Allah!”

Mendengar jawaban Fiki, orang-orang itu pelan-pelan menyurutkan bedilnya.

“Siapa namamu?”

“Fiki.”

“Ayo, ikut kami!”

Fiki pun mengikuti mereka. Mereka menuju daerah perkemahan yang dikelilingi oleh bukit. Di pintu gerbang masuk perkemahan itu tertancap tiang kuat dan di pucuknya berkibar bendera Merah Putih. Demi melihat itu, yakinlah Fiki bahwa orang-orang di perkemahan itu adalah orang-orang yang baik.

Fiki dihadapkan pada pemimpin mereka. Di hadapan pemimpin itu Fiki bercerita tentang pengalamannya bermula dari kegiatannya bersama kakaknya mencari belut di sawah Pak Amir sampai ia berada di perkemahan itu. Namun pemimpin itu menertawakannya karena tidak percaya.

“Sudah, kamu istirahat dulu sana! Besok kami antar pulang ke ibumu,” kata pemimpin itu.

Malam itu Fiki tidur di perkemahan itu. Di tengah malam, ia terbangun dikejutkan oleh bunyi tembakan-tembakan. Ternyata secara tiba-tiba perkemahan diserbu oleh kelompok Halilintar Merah. Tanpa pikir panjang lagi Fiki berlari menjauh dari perkemahan. Berlari terus berlari. Namun ia terhadang oleh beberapa anggota Halilintar Merah.

Fiki tertangkap. Ia dibawa kembali ke markas Halilintar Merah. Karena dianggap berkhianat, ia dihukum mati. Ia diikat di sebuah tiang dan akan ditembak sampai mati. Pemimpin Halilintar Merah memutuskan bahwa sang penembak adalah Aldi.

“Kenapa harus aku yang menembak? Bukankah banyak yang lainnya?” Aldi berusaha menolak putusan itu.

“Lakukan saja! Kalau kamu tidak mau, kamu juga akan dihukum mati!”  bentak pemimpin itu sambil menyodorkan bedil kepada Aldi.

Aldi gemetar. Keringatnya bercucuran. Bagaimanapun juga Fiki adalah adiknya. Oleh ibunya, Aldi ditugaskan untuk melindunginya, bukan untuk membunuhnya. Sebaliknya, Fiki bertanya-tanya, apakah kakaknya akan tega menembaknya?

Dengan gemetar Aldi mengangkat bedil itu, mengarahkan ke adiknya. Telunjuk tangan kanannya sudah masuk ke lingkaran pelatuknya.

“Dor! Dor!”

Tiba-tiba keadaan menjadi gelap gulita. Fiki berteriak-teriak memanggil kakaknya. Begitu pula Aldi, memanggil-manggil adiknya. Dalam kegelapan, mereka berusaha saling menghampiri dengan meraba-raba. Akhirnya mereka dapat saling berpegangan.

“Fiki, kamu selamat?”

“Ya, Mas. Mas Aldi juga?”

“Ya.”

“Mas, tadi aku melihat pemimpin Halilintar Merah menembak Mas Aldi, setelah itu dia juga mengarahkan bedilnya kepadaku.”

“Fik, ayo, kita lari menghindar dari sini!”

Belum sempat mereka bergerak, mereka telah dicengkeram oleh seseorang dengan kuat sekali, kemudian dihempaskan ke tanah.

“Kalian pencuri!”  bentak orang itu lalu menyorotkan lampu senter ke wajah kakak beradik itu. Aldi dan Fiki tidak merasa asing dengan suara itu. Orang itu adalah Pak Amir.

“Fik, ayo, lari!”

Aldi dan Fiki cepat-cepat bangkit dan lari sekencang-kencangnya.

“Hai, jangan lari! Dasar anak penjahat!”

Kakak beradik itu terus berlari menuju rumah mereka. Pikiran mereka dipenuhi berbagai pertanyaan yang sangat sulit dijawab.

(Pradoto Idi Hapsoro, Teater Asba SMP Negeri 23 Purworejo, 2002)

Tulislah Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: