Cerpen Wuri Handayani: Akhir dari Sebuah Permusuhan

AKHIR DARI SEBUAH PERMUSUHAN

Tangis darah yang selalu menyelimuti detak jantung perjalanan hidup Tara. Semakin tambah waktu semakin banyak kegelisahan dan penderitaan Tara, yang selalu mebayangi dalam mimpi-mimpi kepedihan. Siapakah Tara sesungguhnya? Dia hanya bisa duduk di kursi roda. Apakah ia akan selalu berjuang menempuh segala kegelapan ini?

Tara yang selalu terpojokkan di sudut-sudut kepedihan. Yang selalu mengalirkan derasan tangis darah. Apakah ia harus tahan menghadapi jalan hidupnya? Dan mampu mencapai cahaya bintang? Kini meratapi nasibnya dalam kegelapan. Begitu pahit hidup yang dijalani Tara hingga detik ini.

Di senja pagi yang memancarkan kenirwanaan yang penuh dengan sinar-sinar kesurgaan, Tara membuka mata hatinya di sebuah tengah-tengah keistanaan. Namun begitu banyak rintangan yang menerpanya, tapi ia tak pantang menyerah. Ia hadapi semua ujian inidengan penuh rasa tanggung jawab.akhirnya Tara juga melewati satu rahasia bintang yang bergelimang diraut wajahnya. Tara bisa meraih satu keberhasilan di tengah-tengah penderitaan, namun tibalah waktunya Tara alami kegelapan lagi. Tiba-tiba seorang gadis yang bernama Rima, dia iri atas keberhasilan yang telah dicapai Tara dengan penuh pengorbanan.

Apakah dengan keberhasilan ini Rima jadi memojokkan Tara? Rima begitu banyak memberikan ujian ataupun cobaan untuk Tara. Saat di sekolah ada pemeriksaan tas, Rima menaruh satu bungkus rokok di dalam tasnya. Ketika bu anik, selaku guru BP membuka tasnya, mereka sama-sama terkejut mengapa ada satu bungkus rokok di tas Tara padahal Tara tidak pernah meletakkannya, memegang saja tidak pernah. Mengapa begitu berat yang Rima lakukan untuk merendahkan derajat Tara. Tara sangat bingung karena ia di eri hukuman oleh bu Anik

Apakah dengan keberhasilan ini Rima jadi tambah memojokkan Tara? Mengapa Rima iri dan tidak dapat mengendalikan hawa nafsunya? Padahal Tara hanya gadis cacat dan sederhana. Namun senua yang dialami Taran ia selalu menjadi perhatian teman-temannya, ia juga pandai dan baik.

Di waktu cerah yang berhilir angin flamboyan, di sebuah taman keindahan, di tempat inilah Rima merenung memikirkan cara mengalahkan Tara. Akhirnya Rima mendapatkan sebuah bingkisan, yaitu dia menemukan satu jalan keberhasilan untuk melebihi kehebatan Tara. Karena ia belum puas melakukan ujian yang dialami Tara

Di waktu Rima berangkat sekolah, dia berbalik muka. Dia berpura-pura baik. Tiba-tiba ia juga berpenampilan yang aneh. Ia juga menirukan gerak-gerik Tara. Rima mencuri satu keindahan yang Tara punya. Ia mengambil satu tali pita yang ada di tas Tara. Rima melakukan semua ini agar ia diperhatikan oleh teman-temannya. Ia sekarang juga giat belajar. Akhirnya apa yang selalu Rima impikan tercapai. Hari-hari selamjutnya batin Rima terucap.

“Eh, Rim. Kamu kelihatannya berubah dan berperilaku seperti bidadari yang selalu memancarkan warna-warna keindahan di mata ini.”

“Makasih, ya. Kamu terlalu berlebihan memujiku.” Ujar batin yang satunya. Saat itu Rima jadi tambah terbuka mata hatinya. Ia merasa paling terpandang dan terhebat dan merasa segalanya. Namun tiba-tiba ia terkejut saat Ratih, sahabatnya menyiram Rima dengan derasan air.

“Jadi tadi yang saya lakukan hanya khayalan saja?” batin Rima. Kemudian Rima langsung pergi meninggalkan Ratih kemudian masuk ke kelas. Ia merenung memikirkan rencana apalagi agar semua temannya lebih memperhatikannya.

Saat berjam-jam kemudian ia mendapat jalan keluar lagi. Ia sangat bahagia bagaikan kupu-kupu yang sedang mendapatkan madu. Rima langsung bersorak sendiri dab berloncat-loncat di dalamkelas. Tiba-tiba waktu jam pelajaran semua teman-temannya menyoraki Rima. Rima tetap tidak sadar. Akhirnya bu Rini guru pembimbingnya melempar satua buah penghapus ke meja Rima. Karena terkejut, Rima langsung menghentakkan tangannya ke meja.ia tidak sadar kalau bu Rini ada di depannya.

“Rima, sedang apa kamu? Cepat bersihkan semua kamar mandi di sekolah ini!” kata bu Rini sambil bermuka merah

“Maaf, Bu. Saya tadi tidak sadar,” sahut Rima sambil ketakutan.

“Jangan banyak alasan,” jawab bu Rini.

Dengan hati yang penuh luka, Rima mengerjakan tigasny tanpa rasa kesal dan putus asa.

“Ya Allah, apa yang telah aku lakukan salama ini. apa ini cobaan yang kau berikan padaku? Ya Allah bukakanlah pintu hidayah-Mu padaku,” ujar Rima dengan penuh penyesalan

Setelah itu, tiba-tiba Tara mendekati Rima dan memberi nasehat.”Rim, masalah apa yang kamu hadapi sekarang hingga kamu di hukum oleh bu Rini?” tanya Tara.sambil sujud di depan Tara , Rima mengatkan.

“Tar, maafkan aku. Selama ini aku berniat mencelakakanmu semua hukuma yang kau alami itu. Gara-gara aku. Aku yang bernia mencelakaimu.”

“Jadi semua ini kamu yang melakukan. Aku tidak menyangka kamu tega melakukan ini ke aku!” jawab Tara

“Tar, aku menyesal. Aku sudah puas dan aku tidak akan melakukan ini lagi.”

“Aku sudah memaafkan kamu. Pokoknya diantara kita tidak ada yang bersembunyi. Kita harus saling berbagi. Kita jadi sahabat, kan? tanya Tara

“Tentu saja kita bersahabat. Tara, hanya kamu yang bisa mengerti perasaanku.” Sahut Rima sambil memeluk Tara dengan senyuman manis.

Sudah lewat beberapa hari Rima dan Tara jalani kehidupan ini dengan penuh perbedaan dan persaingan. Sekarang kedua hati mereka sudah menyatu dan sekarang tibalah waktunya mereka hadapi semua cobaan ini dengan bersama-sama.

Sekarang berbahagialah mereka yang dapat meraih satu cahaya bintang. sekarang tak ada lagi satupun yang mereka ragukan dengan persahabatannya. Persahabatan mereka berdua bisa menjadi tambah erat, kalau di antara mereka dapat saling mempercayai, saling berbagi rasa antara satu dengan lainnya. Persahabatan mereka adalah persahabatan yang terikat oleh batin yang kuat.

(Wuri Handayani, Teater Asba SMP Negeri 23 Purworejo, Jawa Tengah, 2006)

Tulislah Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: