Cerpen Rr. Tiyas Nurhayati: Cinta Rajawali Terusik

CINTA  RAJAWALI  TERUSIK

Hembusan angin berjalan membungkuk, mengarungi kehidupan Zandi yang kelam. Kerisauan yang terdahulu menjadi api pembatas yang tak bisa diuraikan. Apakah api yang terdahulu bersama Rere dapat menjadi goresan-goresan cinta yang bersemi kembali? Dan kesetiaannya terhadap Rere di mimpi yang terlelap di bayangan bunga tidur?

“Aku harus lari mengejarnya kembali, terbang membiaskan butir-butir cinta yang terhapus di dunia gemerlap,”  ungkap Zandi kepada angin.

Tiba-tiba Zandi terkejut karena dibangunkan oleh seseorang yang mengaku bernama Wahyu dan mengaku sebagai sahabat Zandi dari bentangan angannya. Wahyu menyodorkan foto-foto Rere yang tersenyum melihat Zandi tidur di kasur kesuraman. Zandi keluar dari dunia yang penuh kesuraman bayangan Rere. Terasa Zandi melihat Rere bergurau dengan teman-temannya, semua pepohonan dan hewan-hewan kecil membisiki Zandi untuk mendekati Rere kembali. Zandi terdiam membisu sejenak, lalu bertanya.

“Mengapa kau yang tak kukenal sebelumnya mengaku sebagai sahabat dan  berniat memberiku pengertian seluas samudra kesenangan yang tak bisa kuraih? Yang selalu berjanji untuk membawaku terbang ke alam mimpi yang digerimisi air-air keceriaan.”

Dari pucuk udara yang halus menyejukkan napas, Wahyu mendekat dan membisiki Zandi melalui naluri hatinya. Wahyu menuntun Zandi untuk melihat dunia samudra kesenangan. Di sana Zandi tertidur dan bunga tidurnya memancar ke penjuru warna merah. Warna merah mendekati tubuh dan hati Zandi yang terluka itu. Kupu-kupu mengitarinya dan suara jengkerik menghias indah. Zandi ternganga seperti melihat keajaiban. Zandi terbangun dari satu mimpi, tapi masuk ke mimpi yang lain. Wahyu lenyap. Zandi mencarinya. Dia masih belum selesai berbicara dari hati ke hati dengan Wahyu. Dia tak berhasil menemukan karena masih tidur di kesenangan yang meluap di mimpi yang lain. Kupu-kupu yang mengitar-ngitar di benaknya bertanya.

“Hai, siapa kau sebenarnya? Mengapa kau terlelap di samudra yang tak mungkin kauimpikan?”

Zandi tak tahu sebenarnya dia siapa.

“Apakah aku seekor burung, kerbau, atau yang lain? Dan aku terlelap di sini. Aku tak tahu samudra apa ini? Apakah kau tahu samudra ini?”

“Ini samudra kesenangan yang tak seorang pun dapat menembusnya”

“Lalu ke mana sesorang yang mengaku sebagai Wahyu dan mengaku sebagai sahabat yang akan setia menuntunku ke samudra kesenangan?”

“Kau terlambat dia sudah lenyap. Kau sendiri yang melenyapkannya. Sekarang kau harus berjalan sendiri menapaki hari-hari yang panjang!”

Hari-hari yang beruntun kemudian berjalan lambat. Selama 1435 hari dia bertarung mencari siapa sebenarnya dirinya? Jari-jari yang dia miliki ingin mengungkap semuanya. Jari-jari melukiskan diri Zandi yang dulu dan yang kini. Beberapa kabar baik datang menghampirinya. Namun gerimis kecil-kecil membawa kabar berlari ke tempat yang tak teduh. Bahkan lukisan jari-jari itu diterpa gerimis yang semakin berubah jadi hujan dan hanyut terbawa arusnya yang deras.

Zabdi benci kepada gerimis dan hujan itu karena dia tidak akan berhasil lagi menemukan siapa dirinya. Dari dasar kebenciannya dia melihat Wahyu yang dulu berjanji setia mengantarnya ke samudra kesenangan. Namun Zandi tidak mengenal sosok Wahyu yang sebenarnya. Mungkin Wahyu hanya tercipta dari sebentuk angannya yang sakit.

“Kau adalah sesosok manusia yang hilang keceriaan kemudian sakit karena ditinggal Rere pergi untuk selamanya.”

Sepertinya terdengar suara Wahyu dekat ke telinganya.

“Zandi, kau itu sakit dan sesungguhnya kau belum mengenal Rere.”

“Rere itu siapa menurutmu?”

“Rere merpati pujaan yang kaulihat dari dalam dunia suram. Dunia suram yang kauciptakan sendiri. Rere tak tahan oleh  kesuraman itu, hingga Rere pergi meninggalkanmu selama-lamanya”

Sedikit demi sedikit Zandi mengembalikan ingatannya ke masa telah berlalu.

“Aku sudah ingat semua. Aku mengaku salah. Agar salahku termaafkan boleh bukan aku ingin memperbaiki goresan-goresan cintaku kepada Rere ke merpati lainnya?”

“Silakan.”

“Tuntunlah aku!”

“Tidak bisa. Tuntunlah dirimu sendiri!”

“Kau telah berjanji kepadaku!”

“Kau sendiri yang telah menghancurkan janji itu!”

Zandi lalu berjalan sendiri menyelusuri jalan berbatuan kecil dan berkerimbunan daun-daun hingga tiba di sebuah taman. Dia termenung duduk di sebuah bangku di sudut taman. Tiba-tiba bola penglihatannya terpana oleh sekumpulan merpati yang tersenyum indah. Zandi ingin mendekati salah satu dari mereka yang mampu mencuri hatinya diam-diam. Tapi dia merasa kurang perkasa. Berhari-hari kemudian baru ditemukannya cara untuk mencoba pelahan-lahan mendekati merpati itu dengan memberinya sebuah kotak perhiasan berukir indah yang jika dibuka dapat melantunkan musik romantis. Namun dia tidak ingin dirnya diketahui oleh merpati pujaan hatinya itu.

Sore indah menyongsong Zandi kembali ke taman  itu dan menepuk pundak seorang bocah penjaja makanan kecil.

“Tolong berikan kotak perhiasan ini kepada gadis  bergaun batik di sana itu. Ini untuk kamu,“ kata Zandi sambil memberikan kotak perhiasan dan beberapa lembar ribuan kepada bocah itu. “Katakan saja dari seorang pria yang penuh cinta!”

Bocah itu segera menghampiri gadis bergaun batik yang sedang bersendau gurau dengan teman-temannya di tengah taman dekat kolam ikan hias.

“Mbak, kotak perhiasan ini untuk Mbak.”

“Dari siapa?”

“Dari seorang pria yang penuh cinta. Begitu pesannya.”

“Mana orangnya?”

“Itu di sana!”

Namun Zandi sudah menyelinap ke balik pagar taman yang ditumbuhi kerimbunan dedaunan.

“Dia sudah pergi, Mbak.”

Gadis bergaun batik itu terheran-heran.

“Siapa dia sebenarnya?”

“Ah, tak usah peduli. Buka saja hati-hati!”

“Ya. Buka!”

“Berdoa dulu. Siapa tahu ada guna-gunanya.”

Ucapan teman-temannya bergantian. Setelah mengucap doa, hati-hati dia buka kotak perhiasan itu. Musik mengalun. Indah. Romantis.

“Ada suratnya!”

“Baca saja keras-keras agar kami mendengarnya!”

“Berdoa dulu. Siapa tahu guna-gunanya ada di suratnya. Kita perlu waspada dan membentengi diri dengan kekuatan Tuhan.”

Seru temannya bergantian. Setelah mengucap doa, hati-hati lipatan surat dibukanya. Dia mulai membacanya.

“Untuk Merpati Impianku. Salam kenal. Aku adalah Rajawali Cinta yang membayang-bayangimu, namun butir-butir cinta itu belum di hadapanmu. Selama ini aku selalu memperhatikan polah tingkah yang kauciptakan. Aku terkesan atas polah tingkah yang kautunjukkan dan seperti aku dibawa terbang ke dunia mimpi yang di situ hanya ada sosok merpati. Untuk itu aku ingin lebih mengenal namamu. Balaslah suratku ini dengan menuliskan namamu di secarik kertas. Mintalah tolong kepada bocah penjaja makanan yang kusuruh mengantarkan surat ini kepadamu. Sekian semoga kau mau membalas perkenalan ini dengan tanpa ragu. Salam kenal, Rajawali Cinta.”

Hari berikutnya gadis bergaun batik semakin penasaran dengan seseorang yang memberinya kotak perhiasan. Dia lalu membalas surat yang tak beralamat itu melalui bocah penjaja makanan yang kemarin menjadi pengantarnya.  Teman-temannya diam-diam ingin menjebak Rajawali. Mereka diam-diam membuntuti bocah penjaja makanan itu.

Zandi tahu hal itu. Dia tak kehabisan akal. Dia menyewa seorang pria yang baru saja dikenalnya di taman untuk meminta surat itu dari tangan bocah penjaja makanan. Pria itu bernamaYudi. Yudi sebenarnya seorang preman berwajah kasar dan bertubuh kekar penuh tato. Teman-teman gadis bergaun batik mengira Yudilah pemberi kotak perhiasan itu. Mereka menceritakannya kepada gadis bergaun batik.

Yudi memberikan surat itu kepada Zandi. Ternyata merpati itu namanya Risa. Hari berikutnya, melalui bocah penjaja makanan, Zandi memberikan kado berisi gaun batik yang indah. Di dalamnya disertakan pula selembar kertas indah bertuliskan puisi ciptaannya.

“ Merpati Impian.

Merpati impian yang terbang mengepak-ngepak sayap indah

Kau menyejukkan hati yang suram dan kembali bersemi

Oleh tarian dan nyanyian yang kaucipta

Membuat hatiku bergetar penuh rindu

Rindu yang terpendam hanya dapat diungkap dalam benakku

Aku ingin semua harum cinta ini kuberikan kepadamu”

Risa bahagia mendapat kado gaun dan puisi indah itu. Namun dia sangat curiga atas cerita teman-temannya tentang sosok pria yang kemarin menerima surat darinya melalui bocah penjaja makanan. Rasa-rasanya tak mungkin pria itu yang mencipta puisi begitu indah.

Hari-hari berlalu terus dengan pemberian-pemberian hadiah kepada Risa oleh Zandi. Masih bersembunyi-sembunyi melalui bocah penjaja makanan yang setia menyimpan rahasia keduanya. Namun Yudi diam-diam mengikuti kejadian demi kejadian. Naluri premannya tergerak untuk merebut Risa dari tangan Zandi. Yudi tahu nama Risa dari hasil menguping pembicaraan Risa dengan teman-temannya di taman. Dalam kesempatan-kesempatan yang berbeda waktu Yudi berusaha mendekati Risa. Dia mengaku bahwa Rajawali Cinta itu adalah dia.

“Risa, aku Rajawali Cinta yang selalu menantimu dan merinduimu!”

“Bukan aku tidak percaya kepada pengakuanmu. Tapi kucium ada ketidaktulusan dalam pengakuanmu.”

“Aku tulus, Risa. Aku bersumpah!”

“Tidak sumpahmu itu palsu. Aku yakin kau bukan Rajawali Cinta itu!”

“Oke, oke! Risa, Rajawali Cinta yang kaumaksud itu adalah seorang pengecut yang tak mau menampakkan wujudnya karena sesungguhnya dia lemah!”

“Kau menghinanya melebihi kebaikan yang dia berikan kepadaku!”

“Kebaikannya hanya akan membuatmu hidup dalam angan-angan hampa!”

“Kenapa begitu?”

“Dia tidak akan pernah berani secara ksatria hanya untuk menemuimu. Apalagi untuk mengajakmu hidup bersama!”

“Mungkin ada benarnya kata-katamu itu.”

Dari balik pagar taman tertutup kerimbunan dedaunan Zandi mengintip pertemuan Yudi dengan Risa dan berusaha menangkap pembicaraan mereka meskipun lamat-lamat. Hati Zandi berkobar meluap-luap. Mentalnya mulai terombang-ambing. Di saat seperti itu wajah Rere jelas membayang di pelupuk matanya. Dia mengutuki diri sendiri. Dia tak mampu memposisikan kesalahannya di masa lalu sebagai kesalahan yang dapat termaafkan karena dia sekarang tak berdaya meraih Risa sebagai pengganti Rere.

Di sebuah jalan penyesalan yang bersimpangan Zandi  tak berkutik. Dia kehilangan Risa yang telah direnggut paksa dari impiannya. Meski dia tahu Risa masih dihantui pertanyaan tentang kebenaran sang Rajawali Cinta. Kini bilur-bilur trauma berloncat-loncatan mengusiknya dari mimpinya yang satu menuju mimpinya yang lain. Tiba-tiba dia rindu bertemu dengan Wahyu

(Rr. Tiyas Nurhayati, Teater Asba SMP Negeri 23 Purworejo, Jawa Tengah, 2006)

Tulislah Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: