Cerpen Nurngaini Solihati: Malam Rahasia

MALAM  RAHASIA

Malam kemenangan yang dinanti-nanti, kini telah berada di depan mata. Mulut-mulut saling bercakap satu sama lain. Takbir saling bersahutan dari rumah Allah di sini dan di sana. Teriakan kemenangan kini telah datang, teriakan-teriakan senyum dari umat beriman telah ada. Tapi tidak dengan dia. Dia tidak mau tahu apa yang terjadi dalam hidup ini. Dia membiarkan perahunya berlayar ke berbagai arah dan tujuan hingga terdampar. Setiap hari yang di depan mata hanya komputer, puisi, cerpen; ini semua tak pernah ketinggalan dalam kegiatan sehari- hari. Daun-daun terus berguguran tiada sisa di tangkai. Saat dunia ini kembali ke masa lalu, sikapnya tidak separah dunia berputar sekarang ini. Entah luka apa yang membuat gerak-geriknya menjadi berubah. Kata kabar burung, ada seseorang yang menyimpul keindahan berlian telah meninggalkannya.

Dia merasa dunia ini telah tiada manusia satu pun, semua orang musnah. Teman- temannya hanya huruf. Dia hidup di dalam dunia tulis. Tubuhnya huruf, semuanya huruf. Huruf dunia ini, huruf tubuh ini, huruf masa ini, huruf kehidupan ini. Dia sangat menikmati hidupnya kini, masa lalu kelam dipendamnya. Mendatang dan sekarang digalinya dalam-dalam. Bahagia satu dengan yang lain terus berganti. Dia sangat menikmati dunianya kini, dibanding dunianya masa lalu. Saat itu dia sedang bermain- main dengan teman hurufnya, tiba- tiba dia memunculkan pertanyaan.

“Apakah ini kebahagiaan yang selama ini semua mencarinya?“ tanyanya.

Tapi teman hatinya tak mau menjawab. Dia ngotot bertanya, dengan membentak.

“Apa sebenarnya aku?”

“Kau ini manusia,” balas teman hatinya.

Tiba- tiba huruf lain menyahut, “Tapi betapa beda, apakah mulut ini sama dengan hatimu?”

“Pasti sama,” jawabnya.

“Betapa jarang kau jujur.”

“Aku memang tak bisa.”

Keramaian tiba-tiba berubah hening, lalu keheningan itu diisi dengan isak tangisnya.

“Kenapa kebahagiaan yang selama ini kucari, kini hilang karena ucapanku? Apa yang telah aku lakukan?”

Kini semua telah berakhir. Tapi kenapa? Di depan matanya muncul cahaya. Cahaya ini berakhir dalam tuntunan malam gelap, kenapa, kenapa, dan kenapa?

“Adakah mereka yang menolongku? Tak mungkin ada karena mereka semua sibuk dengan langkah hati mereka sendiri.”

Satu masa lalu telah kembali pada tempatnya. Dia tetap tidak ingin kembali. Dia mengutarakan perasaannya kepada hembusan angin.

“Apakah aku bisa terus mendapatkan emas kebahagiaan ini?”

“Mungkin kau mampu membawa kuda dekat air tapi belum tentu berhasil memaksanya untuk minum,” jawab teman anginnya.

Tapi dia membantah lagi, “Cinta mampu merayap di tempat air yang tidak bisa mengalir!”

“Tapi tidak untuk air keruh!” balas kemarahan angin.

Dia terdiam dan merenungi ucapan angin. Teriakan-teriakan percikan air membasahi cuaca hari itu. Dengan deras dan tak tersembunyi semua kata perpisahan tiba-tiba hilang dari dinding hati. Gesekan-gesekan persahabatan makin erat. Dari perkataan angin dia bisa kembali meraih kebahagiaan. Karena terlalu sibuk memikirkan ini semua, dia merasa lapar dan ingin melahap beberapa tulisan hatinya. Tapi apa yang terjadi, lagi-lagi dia mendapatkan keterpurukan, setelah dia baru saja mendapatkan kebahagiaannya kembali. Dia tidak dapat memakan tulisan hatinya karena dia harus lebih dulu mencari kunci emas untuk membuka almari yang berisi makanannya itu. Dia menanyakan keberadaan kunci emas itu. Tak ada yang tahu! Hingga dia bertanya kepada teman hatinya. Sunyi! Dia putus asa, lelah, lunglai. Lapar semakin mendesak-desak. Hanya keluhan yang keluar dari keputusasaannya.

“Di mana, di mana, di mana sebenarnya kauletakkan kunci emas itu? Aku tak  sanggup lagi. Kenapa ini kembali? Kenapa salah satu masa laluku kembali? Kenapa ini kesengsaraan? Kenapa aku? Kenapa dunia ini?”

Suaranya menggema membentur dinding hati, memantul kembali dalam bahasa berbeda.

“Jika kamu melihat-lihat orang yang memiliki jiwa besar, pertimbangkanlah untuk menjadi seperti dia! Jika kamu menemukan orang berjiwa lemah, periksalah dirimu! Jika kamu tidak mampu menemukan kunci emas itu, tidak ada artinya kamu hidup selama ini!”

“Tak mungkin bisa. Aku lelah. Setelah aku mendapatkan kebahagiaan, kesengsaraan datang lagi merebut kebahagiaanku. Saat itu kuhanyutkan air mata di sungai keruh. Aku tak mampu.”

“Terserah kamu!” bentak sang Gema.

Sang Gema menyeretnya dalam ladang siksa. Api terus menyembur dari mulut sang Gema. Dia terbelit-belit derita. Di sela-sela kesempatan dia mencoba mengorek-ngorek di puing reruntuhan. Hanya sakit yang ditemukan.

“Lebih baik aku hidup di masa laluku. Tapi waktu yang hilang tak akan dapat ditemukan kembali. Tak ada salahnya bukan kalau aku mencari waktuku yang hilang? Kenapa hidupku penuh dengan pencarian?”

Sang Gema menggeram, “Tentu boleh. Analisalah waktu dan masalah yang selama ini mengganggumu!”

“Tak selamanya persoalan dapat diselesaikan dengan analisa,” sahutnya yang tidak setuju dengan nasihat sang Gema.

“Jika kamu ingin berbuat baik, lakukanlah sekarang. Jika kamu ingin berbuat keji, tunggulah sampai besok!”

Tetesan waktu begitu ramai. Helaian air matanya berlinang di atas bayang kesucian putih. Kesucian dalam keputihan dihapus oleh tinta kebencian yang berlubang. Lubang semakin menganga menelannya. Lubang menganga dan gema. Dua hal tak terpisah. Dia merasa menjadi makhluk beda dan aneh di antara keduanya. Beda dan aneh sering menjadi pusat perhatian. Dia merasa bahagia menjadi pusat perhatian.

“Tidak! Ini semu. Kebahagiaan mengalir dari kebencian. Ini pasti akan berubah kembali kesengsaraan. Aku membaui kebusukan kesengsaraan,” katanya ketakutan.

Dia masih berusaha mencari kunci emas. Semua bagian tubuhnya digalinya sangat dalam. Akhirnya dia dapat bergembira karena pada saat menggali sebagian dari hatinya dia menemukan cahaya yang bersinar. Dia terus menggali dalam-dalam hatinya, tak sia-sia. Kunci emas yang selalu dicarinya telah ditemukannya. Hidup yang selama ini dicarinya telah ditemukannya. Dia merasa sempurna. Dia berada pada kemenangan. Dia mendapatkan arti kehidupan. Dia merasa berkuasa. Tak ada yang mampu menandinginya. Dia langsung menuju ke tempat penyimpanan tulisan hatinya. Dia ingin melahapnya habis-habis. Kelaparan mengalahkan segalanya. Kebuasan kelaparan menjalar ke mana-mana. Termasuk ke sudut-sudut kematian.

“Tidak, tidak! Aku tidak bisa menerima kematian sebelum aku mendapatkan kesempurnaan dunia ini!”

Goncangan-goncangan saling berseberangan. Menjalar ke sekujur jiwa. Kunci emas bergetar di jemarinya. Dia menjauh dari tempat penyimpanan tulisan hatinya. Dia harus mencari tempat lain. Didekatinya sebuah tempat bertirai.

“Apakah ada tulisan yang bisa aku makan di sini? Aku sangat lapar.”

“Siapa kau?” tanya sang Tirai.

“Aku? Entah apa aku ini. Aku tak punya apa pun dan siapa pun. Aku hanya tahu aku berada dalam pencarian. Kesempurnaan yang aku cari.”

“Kau begitu bodoh. Kau pasti punya kunci emas. Carilah hidupmu sendiri juga matimu sendiri dengan memberi makna pada kunci emas itu. Mulailah dengan menguak diriku!” kata sang Tirai sambil lebih menebarkan dan menebalkan tubuhnya.

“Aku lapar … Aku sudah tak kuat lagi … “

“Kuaklah aku dengan kunci emasmu!”

“Aku tak kuasa … “

“Cepat! Waktumu tinggal beberapa detik!”

“Aku tak bertenaga. Tak ada dayaku menggerakkan kunci emas untuk menguakkanmu. Aku hanya punya huruf-huruf tersisa … “

“Gunakan itu!”

Gemetar dia gerakkan hatinya menggunakan kunci emas untuk membentuk huruf-huruf tersisa menjadi sebuah kata.

“Salah!” sang Tirai membentak.

Semakin gemetaran hatinya mengubah susunan dan bentuk huruf-huruf itu menjadi sebuah kata lain.

“Masih salah!” hardik sang Tirai semakin keras.

Dia ubah lagi. Dia susun lagi. Salah lagi. Dia ubah lagi. Dia susun lagi. Masih salah lagi. Tak terhitung lagi. Sampai akhirnya …

“Cinta … “

Lirih tapi jelas. Cenderung lembut. Pelan-pelan sang Tirai menipis, mengabur, sebelum lenyap sama sekali, sempat meninggalkan suara lembut.

“Cinta mungkin bukan sumber bahagia, tetapi ketiadaan cinta bisa menjadi sumber derita.”

Dia melangkah masuk ke tempat itu.

“Pelajarilah Cinta!” terdengar suara.

“Siapa kau?”

“Cinta.”

Cinta pun mulai dipelajarinya. Pelahan namun pasti dan teliti. Dia mulai belajar menulis Cinta dengan huruf besar. Bahkan dia meleburkan diri dalam huruf-huruf Cinta.

“Bukankah aku ini huruf?” bisiknya.

Dia mulai memasuki ruang-ruang Cinta dengan huruf Cinta. Dia mulai berbenah diri, berhias diri dengan huruf-huruf Cinta. Ketika malam tiba dinyalakannya lampu Cinta dengan energi yang ditiriskannya dari huruf-huruf Cinta.

Dia bahagia. Dengan Cinta tak ada siksaan, tak ada deraian derita, tak ada peluh duka bercucuran.

“Tapi adakah kebahagiaan Cinta ini Kesempurnaan?”

Selalu. Selalu saja segalanya menuntut jawaban. Menuntut tanggapan. Menuntut sikap. Menuntut tindakan. Menuntut …

Kejujuran!

“Ah, apakah aku mampu jujur? Selalu saja aku harus mengurai Malam Rahasia!”

(Nurngaini Solihati, Teater Asba SMP Negeri 23 Purworejo, Jawa Tengah, 2006)

Tulislah Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: