Yang Kelam dan Yang Terbenam

Cerpen: Cici Hindayani

Ardi terseret arus bujukan dan rayuan. Entah kenapa, dia merasa bahwa bujukan dan rayuan itu adalah bisikan dari surga. Bisikan itu dari seseorang yang tak tampak wujudnya yang mengaku datang dari surga. Orang itu membisikkan kenikmatan-kenikmatan yang diperoleh bila berenang dalam kolam narkoba. Meskipun ada juga suara yang membisikinya tentang penderitaan akibat berlayar di samudra narkoba, tetapi dia lebih tergoda oleh kenikmatan.

Ardi sering keluar malam bersama teman-teman gengnya. Mereka berpesta minuman keras dan narkoba. Minum, menghisap, dan menyuntik. Ardi menjadi pemabuk dan pecandu. Tubuhnya menjadi kurus. Raut wajahnya menjadi berbeda. Dia juga telah menjadi pencuri. Kerapkali dia mencuri uang ayahnya atau perhiasan ibunya untuk dijual demi mendapatkan gelimangan kenikmatan neraka.

*

Via, kekasih Ardi, menangkap kabar angin. Ia menjadi bimbang dan ragu pada Ardi. Suatu sore, kesempatan pun didapatnya. Ia sangat perlu untuk membicarakannya dengan laki-laki yang dicintainya itu.

“Ardi, aku ingin kejujuranmu saat ini. Tolong jawab pertanyaanku ini …”

“Apa sih yang mau kau tanyakan? Serius amat,” kata Ardi seenaknya.

“Apa benar sekarang kau bersentuhan dengan dunia narkoba?”

Serta-merta Ardi menjauh dari Via, tetapi Via segera mendekati Ardi kembali.

“Kau ini ada-ada saja yang kau bicarakan, Via!”

“Aku serius, Ar. Jawablah dengan jujur!”

Sejenak Ardi mendesah, seperti membuang kekesalan. “Siapa bilang aku bersentuhan dengan dunia narkoba?”

“Desas-desus mengenai dirimu semakin santer, Ar. Aku tidak tuli dan tidak mau menulikan telingaku. Aku perlu kejujuranmu, Ar.”

Ardi mendesah lagi, kemudian menjauh dari Via, tetapi Via segera mendekati kembali. Ardi diam cukup lama.

“Desas-desus itu benar kan, Ar?”

Ardi mendesah lagi, masih diam.

“Benar kan, Ar?”

“Ya. Benar.”

Mendengar jawaban itu, Via menangis tersedu. Sejenak kemudian, ia berlari meninggalkan Ardi. Ardi hanya terpaku menatap kepergian Via.

Selang beberapa hari, Ardi menerima sepucuk surat dari Via. Hati Via telah patah dan hancur. Via tak ingin menjalin cinta dengan pecandu narkoba. Via memutuskan tali cinta yang telah terjalin selama ini. Ardi mencoba menjelaskan persoalan agar Via mau kembali kepadanya. Usahanya sia-sia. Via tetap tidak mau. Ia ingin melupakan seluruh kenangannya bersama Ardi. Ardi menyesali keputusan itu.

Putus cinta membuat Ardi semakin akrab dengan narkoba. Penyesalan dan kecanduan menjelma bayangan berpakaian serba hitam. Pada saat-saat ia fly, bayangan itu selalu menyongsongnya. Bayangan itu menuding-nuding sambil berkata bahwa perbuatan Ardi itu  akan diadukan kepada polisi. Ardi tak berdaya. Tubuhnya terkapar. Bayangan hitam itu juga mengejarnya hingga ke alam mimpi saat tidur. Ardi selalu terbangun dalam teriakan ketakutan. Bahkan saat melakukan kegiatan di rumah pun, tiba-tiba ia berteriak-teriak ketakutan karena merasa melihat bayangan hitam itu.

Kedua orang tua Ardi menjadi cemas melihat tingkah anaknya itu. Apalagi ketika Ardi ditanya, malahan menjadi semakin ketakutan. Akhirnya mereka bertanya kepada Via, karena beranggapan bahwa Via yang paling tahu tentang Ardi. Dengan jujur Via mengatakan bahwa Ardi telah menjadi pecandu narkoba. Walaupun telah tahu tentang Ardi yang sebenarnya, orang tua Ardi tak sampai hati memarahi anak laki-laki mereka satu-satunya.

Akhirnya orang tua Ardi membawa Ardi berobat ke psikiater. Dokter menyarankan agar Ardi dirawat di rumah sakit rehabilitasi pecandu narkoba. Perawatan Ardi di rumah sakit itu tampaknya membuahkan hasil. Seringnya Ardi bertukar pikiran dengan para perawat dan dokter, serta dengan pasien lainnya, membuat rasa kecanduan narkoba tersingkir jauh. Namun pikiran dan perasaannya tak dapat lepas dari Via. Sering ia memanggil-manggil Via.

Mendengar Ardi selalu sering menyebut-nyebut nama Via, orang tuanya menjadi bingung. Apalagi selama Ardi dirawat di rumah sakit, tak sekali pun Via menjenguk Ardi.

“Ardi, ada apa sebenarnya antara kamu dengan Via?” tanya ibunya.

Dengan tatapan mata menerawang jauh, Ardi menjawab, “Bunga yang dulu bersemi dan mekar, kini layu dan hampir mati. Bahkan tangkainya telah patah.” Mengertilah ibunya bahwa bukan hanya narkoba yang membuat jiwa Ardi sakit.

Setelah sebulan dirawat di rumah sakit, Ardi diizinkan pulang. Tiga hari beristirahat di rumah untuk penyesuaian kembali dan hari keempatnya mulai berangkat ke sekolah kembali. Penyesuaiannya kembali di sekolah mengalami kesulitan. Ia menjadi terasing karena dijauhi teman-temannya. Via pun menjadi acuh tak acuh kepadanya. Harapan Ardi untuk dapat merasakan kebahagiaan kembali karena telah bersekolah kembali menjadi patah. Hari demi hari di sekolah ia lalui bagai berada di pulau terpencil seorang diri.

Pada saat-saat seperti itulah ia dihadapkan kembali pada gelombang godaan. Ia sudah sadar dan menjauhi narkoba, tetapi kehadirannya tetap ditolak. Penolakan itu terasa menyakitkan. “Apa arti kesadaranku bila mereka tetap menolakku?”  Gemuruh pertanyaan dalam benaknya. Gemuruh itu bersatu dengan gelombang godaan. Membayang kembali kenikmatan sesat narkoba.

Melesatlah kembali Ardi mendatangi teman-teman gengnya yang pecandu narkoba. Angan-angannya kembali melayang-layang ke dunia maya yang menyesatkan. Ia reguk kenikmatan. Namun sisi angan-angannya yang lain membawanya ke alam bayang-bayang jiwanya. Di alam itu ia bertemu dengan sosok laki-laki yang mirip dirinya.

“Siapa kau?” tanyanya dengan gemetar.

“Aku adalah dirimu yang berada di alam bayang-bayang,” jawab laki-laki itu.

“Mau apa dan kenapa kau menemuiku?”

“Aku ingin bertanya, mengapa kau kembali melukai dirimu sendiri dengan narkoba?”

“Aku ingin melupakan seluruh masalah yang menimpaku.”

“Apa dengan narkoba kau dapat melupakan seluruh masalahmu?  Narkoba justru akan memperburuk masalahmu dan semakin menambah masalah! Narkoba akan merusak otakmu dan mengusungmu ke dunia kematian!”

Ketika kembali ke alam sadarnya, Ardi termenung. Ia mencoba memahami kata-kata sosok laki-laki yang mirip dirinya itu. Setelah lama merenung, ditemukanlah satu titik terang. Ia canangkan langkah. Jauhi narkoba, dekati kegiatan berguna!

Mulailah Ardi menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan ibadah, mengikuti kursus-kursus, dan kegiatan positif lainnya. Usahanya itu sangat didukung oleh orang tuanya. Di sekolah ia tak peduli teman-teman sekolahnya masih menjauhinya. Meski mereka menjauh, ia tetap berusaha mendekati mereka. Memang sulit meyakinkan orang akan kesadaran yang diperoleh setelah bertobat dari perbuatan maksiat. Termasuk sulit juga meyakinkan Via kembali.

“Via, aku ingin bersahabat kembali denganmu. Hanya sahabat, Via,” kata Ardi kepada Via seusai pelajaran.

“Sulit bagiku bersahabat dengan seseorang yang bersahabat dengan narkoba!” ucap Via sinis.

“Sekarang sudah kubuang jauh-jauh narkoba dari kehidupanku.”

“Kau tak akan mampu berbuat itu!”

“Aku mampu, Via. Buktinya, sekarang aku sibuk dengan kegiatan-kegiatan positif.”

“Sampai kapan kau mampu bertahan dengan kegiatan positifmu itu?”

“Aku akan berusaha tetap bertahan. Berilah aku kesempatan, Via! Bantulah aku!”

“Ah, sudahlah. Percuma, tak ada gunanya!”

Sambil berkata begitu, Via berlari meninggalkan Ardi.  Ardi hanya dapat menghela napas berat menatap kepergian Via.

*

Namun sejak kejadian itu, Via terus memikirkan ucapan-ucapan Ardi. Via merasa bahwa ada kesungguhan yang bersinar dari mata Ardi. Beberapa hari kemudian, Via mengamati dari kejauhan segala yang dilakukan Ardi. Pengamatan itu dilakukannya sampai lima hari. Memang Ardi telah sadar. Via percaya dan meminta maaf kepada Ardi.

“Ardi, bisakah kembalinya kau kepadaku tak hanya sekedar sahabat?”

“Kita jalin semuanya kembali mulai dari persahabatan, Via.”

*

Manusia boleh berencana, Tuhan yang menentukan.

Ardi sakit. Ia diopname di rumah sakit. Dokter menyatakan bahwa dari hasil pemeriksaan darah Ardi di laboratorium, Ardi positif terjangkit virus HIV. Virus mematikan itu menyerang Ardi karena pada waktu menjadi pengguna narkoba, Ardi menggunakan jarum suntik secara bergantian dengan teman-temannya sesama pengguna narkoba. Hasil pemeriksaan itu sangat memukul jiwa Ardi, juga jiwa orang tuanya dan jiwa Via.

*

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, Ardi tergolek tak berdaya. Kondisinya semakin memburuk. Segala macam obat tak mampu menyembuhkan sakitnya. Ia harus menerima suratan takdirnya. Di lubuk hatinya ada keinginan untuk meninggalkan dunia ini secepatnya. Terbayang cara-cara kematian yang menyeramkan. Dari bayangan-bayangan itu berkelebatlah sosok menyeramkan, menyeringai, menghampirinya.

“Siapa kau?” tanya Ardi ketakutan.

Sosok itu tertawa terbahak-bahak. “Aku adalah virus HIV yang bersemayam dalam tubuhmu!”

“Virus HIV?”

“Ya. Aku sengaja keluar dari tubuhmu agar kau dapat dengan jelas melihatku sebelum aku masuk kembali ke dalam tubuhmu dan merenggut nyawamu! Dengar, nyawamu sudah di ambang pintu!”

“Benarkah?”

“Kalau tak percaya kutunjukkan pintu itu kepadamu!”

Kemudian Ardi merasa tubuhnya diseret-seret melewati tempat-tempat yang mengerikan. Di tempat-tempat itu terjadi penyiksaan. Suara jerit dan tangis kesakitan sangat menegakkan bulu roma. Tiba-tiba Ardi melihat sosok berjubah hitam dan bertopeng memanggul Via. Via menjerit-jerit sambil berusaha melepaskan diri.

“Via! Via!” panggil Ardi sambil melepaskan diri dari seretan yang mencengkeramnya. Setelah mengeluarkan seluruh tenaganya, Ardi berhasil melepaskan diri. Dengan sigap dan cepat, ia berlari mengejar sosok yang membawa lari Via.

Ardi berhasil menangkap sosok itu. Terjadilah perkelahian. Tubuh Via terpental. Ardi dan sosok itu terus berkelahi.

“Kau tak mampu mengalahkanku!” seru sosok itu sambil menghantam wajah Ardi.

“Aku mampu mengalahkanmu!” seru Ardi sambil membalas menghantam bagian wajah sosok itu hingga topeng yang dikenakannya terpental.

“Topengku telah lepas. Lihat wajahku, kau telah mengenalku!”

“Kau yang tadi mengaku sebagai virus HIV!”

“Memang aku virus HIV. Rasakan pukulan terakhirku ini!”

Sosok itu melayangkan pukulan tepat ke jantung Ardi. Ardi merasakan sakitnya bukan main. Sosok itu kemudian menyeret tubuhnya kembali melewati tempat-tempat mengerikan. Tempat-tempat penyiksaan. Suara jerit dan tangis kesakitan sangat mengiris-iris dan mengerikan. Ardi berusaha keras melepaskan diri dari seretan itu.

Tiba-tiba sosok itu melemparkan tubuhnya ke sebuah ruangan putih. Namun ia merasa menempel di langit-langit ruangan itu. Dari situ ia melihat ke bawah.  Ia melihat seorang gadis menangis tersedu-sedu sambil memangku kepala seorang pemuda di ranjang bersprei putih. Setelah ia perhatikan sungguh-sungguh, ternyata gadis itu adalah Via dan pemuda itu adalah dirinya yang terbujur kaku. Ia tebarkan pandangan ke sekeliling. Ia ingat, ruangan itu adalah ruangan tempat ia dirawat. Ruangan di rumah sakit.

“Oh, apa yang terjadi? Aku di sini melihat Via sedang memangku diriku! Apa yang terjadi dengan diriku ini?”  Ardi berteriak-teriak bertanya. Kemudian ia panggil-panggil Via dengan keras, “Via! Via!”

Namun Via tak bereaksi atas panggilan itu, masih terus menangis tersedu-sedu memeluk tubuh yang kaku tak bernapas lagi.

“Via! Via! Kaudengar suaraku? Ini aku, Via. Ardi. Ardi, kekasihmu. Lihatlah aku ke atas sini, Via!”

Via tetap tak bereaksi atas panggilan itu. Tahulah Ardi, ia telah meninggal di pangkuan Via. Kemudian ia melayang. Melayang dan melayang. Melewati bukit-bukit gersang.

Teater Asba SMP Negeri 23 Purworejo, Jawa Tengah, 2002

Tulislah Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: