Kumpulan Fabel (Dongeng Binatang) 1

KERJASAMA KERA DAN NURI

*Dimuat di Kedaulatan Rakyat, Minggu Pon, 12 Januari 2003, halaman 8


Pada zaman dahulu ada seekor kera dan seekor burung nuri yang erat bersahabat. Pada suatu haru mereka mencari makan di hutan. Mereka melihat satu pohon pisang yang mereka sukai dari kejauhan.

“Kaulihat pohon pisang itu, sahabatku?” tanya nuri.

“O, ya. Aku melihatnya. Ayo, kita panjat bersama!” kata kera.

Mereka cepat-cepat menghampiri pohon pisang itu. Ketika sampai di tempat itu pohon pisang itu tidak mereka dapati. Ternyata pohon pisang itu hanya ada dalam bayangan mereka. Mereka sedih sekali. Mereka melanjutkan perjalanan kembali.

Setelah lama tidak menemukan makanan, mereka merasa lelah. Mereka memutuskan untuk beristirahat.

“Sahabatku, apakah kau sudah merasa sangat lapar?” tanya kera.

“Ya, aku sudah sangat lapar,” jawab nuri.

“Aku juga sudah sangat lapar. Sayang sekali, pohon pisang tadi hanya bayangan.”

“Maafkan aku, ya, kera. Aku tadi yang mula-mula melihat bayangan pohon pisang itu,” kata nuri menyesal.

“Ah, tidak apa-apa. Tadi aku juga melihatnya, kok. Maafkan juga aku.”

“Ah, tidak apa-apa juga. Ayo, kita lanjutkan perjalanan kita mencari makan!” ajak nuri. Mereka melanjutkan perjalanan menuju hutan yang ternyata jaraknya sangat jauh.

Setelah berjam-jam menempuh perjalanan mereka menemukan buah apel tergeletak di pinggir jalan. Meskipun apel itu sudah tampak layu, mereka tetap bersyukur atas pemberian Yang Maha Kuasa itu. Mereka segera membagi apel itu menjadi dua sama besar. Ketika mereka akan mulai makan apel itu, nuri berkata, “Aku teringat saudara-saudaraku yang mungkin sampai saat ini juga belum mendapat makanan. Lebih baik apel ini kubawa pulang untuk kubagi bersama mereka.”

“Ah, aku juga teringat saudara-saudaraku yang mungkin belum makan sampai saat ini. Aku setuju denganmu. Lebih baik apel ini kita bawa pulang untuk kita bagi bersama mereka,” kata kera.

Mereka tidak jadi makan apel itu di situ. Kemudian mereka bersama-sama membawa pulang apel itu. Mereka pulang dengan hati yang sangat gembira.

(Desi Astuti, Teater Asba SMP Negeri 23 Purworejo, 2003)

KESETIAAN  PERSAHABATAN


Seekor anak ular baru saja berkenalan dengan seekor anak katak. Mereka tampak akrab. Mereka pun saling berjanji untuk bersahabat. Namun anak ular heran terhadap anak katak. “Mengapa kau selalu melompat-lompat saat berjalan?” tanya anak ular.

“Aku memang selalu melompat-lompat. Keluargaku juga. Bahkan semua katak,” jawab anak katak. “Kau juga, mengapa kau selalu berjalan berbelok-belok dan tidak mempunyai kaki? Meskipun tidak berkaki, mengapa kau bisa berjalan?”

Keduanya tidak bisa saling menjawab pertanyaan itu. Mereka terus berjalan beriringan. Pulang. Mereka tertawa terbahak-bahak, karena merasa sangat lucu melihat cara berjalan mereka masing-masing yang sangat berbeda itu.

“Hai, katak, bagaimana jika kita berjalan bertukaran? Kau berjalan sepertiku dan aku berjalan sepertimu. Setuju?” usul anak ular tiba-tiba.

“Aku setuju. Ayo, kita coba!” sahut anak katak.

Mereka sangat senang dapat pulang bersama-sama dan bertukar cara berjalan. Mereka pun berpisah di persimpangan jalan. Ketika anak ular tiba di rumahnya, dia masih asyik berlompat-lompat seperti katak.

“Hai, kau sedang apa, berlompat-lompat seperti katak yang sangat bodoh?” tanya ayahnya, seekor ular yang galak. “Meniru anak katak sahabatku, Pak,” jawab anak ular.

“Apa? Bodoh kau. Mereka adalah makananmu bukan sahabatmu. Mengerti?” hardik ayahnya sambil sangat marah. Anak ular sangat sedih karena ayahnya tidak menyetujui persahabatannya dengan anak katak.

Ternyata yang dialami anak katak juga sama. Dia dimarahi oleh ayahnya. “Harus berapa kali ayah katakan kepadamu? Ular itu jahat. Apa kau sudah lupa, kakakmu mati karena dimangsa ular sahabatnya? Kau jangan percaya kata-kata manis ular, di luar bagai madu tetapi di dalam bagai empedu. Jauhi dia!”

Dalam waktu yang sama, anak ular dan anak katak sedang bingung. “Apa aku harus memangsa anak katak sahabatku sendiri?” tanya anak ular dalam hatinya. “Apa aku harus melupakan persahabatanku dengan anak ular sahabatku?” tanya anak katak dalam hatinya.

Akhirnya mereka bertemu. Mereka mencoba saling membenci, tetapi tidak bisa. “Ayahku menyuruhku untuk memangsamu,” kata anak ular. “Ayahku menyuruhku untuk menjauhimu. Kalau kau ingin memangsaku, silakan. Aku tidak takut. Aku hanya ingin persahabatan kita tetap utuh,” kata anak katak.

Anak ular menangis mendengar kata-kata anak katak. “Katak, aku tidak akan memangsamu, bagiku kesetiaan adalah resep utama dalam persahabatan. Apa kau juga begitu?”   Anak katak mengangguk. Mereka pun berangkulan. Haru.

(Fitri Astriyani, Teater Asba SMP Negeri 23 Purworejo, 2002)

KISAH KERA DAN MERPATI

*Dimuat di Kedaulatan Rakyat, Minggu Wage, 29 Desember 2002, halaman 8


Di sebuah hutan hiduplah ribuan kera. Hutan itu sangat terkenal dengan sebutan hutan kera. Di antara ribuan kera itu, terdapat seekor kera yang rakus. Ia tidak hanya cukup dengan makanan yang tersedia di hutan. Karena itu, ia sering mencuri pisang di kebun petani yang tinggal tak jauh dari hutan itu. Pada suatu hari ketika kera rakus itu akan mencuri pisang, ia melihat seekor burung merpati yang kesakitan karena sayapnya patah.

“Kenapa kau  di sini dan sayapmu berlumuran darah?” tanya kera mendekati merpati.

“Begini, kawan. Ketika aku hinggap di pohon mahoni. Tiba-tiba seorang pemburu menembak sayapku. Dengan susah payah aku berusaha terbang menghindari kejaran pemburu itu. Karena tak kuat lagi, aku terjatuh di sini,” cerita merpati.   “Kalau kau, apa yang sedang kaulakukan di sini?” tanya merpati kemudian.

“Aku sedang mencari makanan,” jawab kera berbohong.

“Mencari makanan? Sering kudengar berita, ada seekor kera yang suka mencuri pisang di kebun petani. Kau sedang mencari makanan atau mencuri pisang?”

“Aku hanya mencari makanan. Sudahlah, tak usah dipermasalahkan. Ayo, kuajak kau ke rumahku.”  Kemudian kera membawa burung merpati itu ke rumahnya di pedalaman hutan. Sampai di sana kera mengobati luka-luka di sayap merpati.

Karena kera merawat merpati dengan tekun beberapa hari, merpati itu sembuh dan dapat terbang kembali. Merpati berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada kera.

“Sudahlah, kawan. Kita harus menolong dan mengasihi sesama makhluk ciptaan Tuhan,” ucap kera. Setelah keduanya bersalam-salaman, merpati berpamitan untuk pulang.

Tiga hari kemudian merpati bersama teman-temannya mengunjungi kera. Mereka membawa pisang dan tunas pohon pisang. Kera menyambutnya dengan sangat gembira.

“Kera sahabatku, terimalah kenang-kenangan dari kami ini. Tanamlah tunas pohon pisang ini dan rawatlah baik-baik. Hanya pesan kami, janganlah kau mencuri pisang lagi di kebun petani. Petani adalah sahabat kita juga.”

Kera mengucapkan terima kasih dan berjanji tidak akan mencuri pisang lagi di kebun petani. Setelah merpati pulang, kera menanam tunas pohon pisang itu di depan rumahnya. Hari demi hari ia merawat pohon pisang itu dengan baik. Ketika musim berbuah tiba, pohon pisangnya itu berbuah lebat sekali. Ia memanen hasilnya.

Sebagai rasa syukurnya, ia mengundang kera-kera lain untuk turut menikmati hasil panen itu. Tak lupa ia juga mengundang merpati sahabatnya yang telah menyadarkannya dari perbuatan mencuri. Kini kera yang rakus telah berubah menjadi kera yang baik.

(Indah Puspita Sari, Teater Asba SMP Negeri 23 Purworejo, 2003)


PERSAHABATAN KANCIL DAN ORANG UTAN


Di daerah pedalaman tinggallah ribuan binatang. Dari ribuan binatang itu hiduplah sekelompok kancil. Dalam kelompok itu ada yang dijuluki si Pincang. Ia selalu diejek oleh binatang-binatang lainnya. Namun ia selalu tabah menghadapi cobaan hidupnya.

Pada suatu hari ia hendak mengembara untuk mencari tempat yang aman dan tenteram baginya. Di perjalanan di dalam hati ia berkata, “Mengapa aku selalu diejek oleh teman-temanku? Apakah karena aku berbeda dengan mereka? Aku tahu bahwa aku mempunyai kaki yang tidak sama dengan mereka.”

Pada saat itu si Pincang bertemu dengan orang utan yang sangat baik. Orang utan itu tinggal di hutan yang sangat damai. Orang utan itu bertanya kepada si kancil.

“Wahai, kancil, hendak ke mana engkau?”

“Aku hendak mencari tempat yang aman dan tentram bagi diriku.”

“Oh, begitu.” Lalu orang utan mengajak kancil tinggal di rumahnya.

“Terima kasih, temanku, engkau sangat baik,” kata kancil. Setelah sampai di rumah orang utan, kancil sangat senang dan merasakan kedamaian. Beberapa hari kemudian  kancil keluar rumah untuk mencari makanan. Ia melihat orang utan datang berlari-lari.

“Teman, mengapa engkau lari tergesa-gesa?”

“Aku sedang dikejar seorang pemburu yang ingin menembakku,” kata orang utan. Beberapa saat kancil diam, mencari akal.

“Aku punya akal untuk membuat si pemburu jera dengan perbuatannya,” kata kancil.

“Apa teman ?”

“Begini, aku akan membuat perangkap untuk pemburu itu.”

Beberapa hari kemudian perangkap buatan kancil sudah jadi dan siap dipakai.  Kancil menyuruh orang utan berpura-pura mencari makanan. Pemburu melihat orang utan yang sibuk mencari makanan dan ia menyiapkan senapan untuk menembaknya.  Pemburu tidak tahu bahwa di atasnya terdapat perangkap yang telah disediakan untuknya. Pemburu terperangkap di dalamnya. Kancil dan orang utan sangat gembira.

“Kita berhasil menangkap pemburu itu dan engkau sangat hebat kawan,” kata orang utan kepada si kancil.

“Sudahlah kawan, kita berteman, jadi kita wajib saling membantu.”

Akhirnya hutan yang di tempati oleh orang utan dan kancil menjadi damai kembali.

(Indah Puspita Sari, Teater Asba SMP Negeri 23 Purworejo, 2003)

PETUALANGAN SI BELANG

*Dimuat di Kedaulatan Rakyat, Minggu Pahing, 22 Desember 2002, halaman 8


Ada seekor kucing pengembara yang sangat manis. Kucing itu bernama si Belang. Ia hidup sebatang kara. Ayah dan ibunya telah lama meninggal. Sebelum meninggal, ibunya berpesan, “Lakukanlah kebaikan sebanyak-banyaknya untuk sesamamu, agar kamu tidak berkekurangan.”  Si Belang selalu mengingat pesan itu. Karena ingin melaksanakan pesan itu, ia memutuskan untuk hidup mengembara dan berpetualang.

Pada suatu hari si Belang sedang mengejar seekor tikus yang sangat besar. Setelah ia berhasil menangkap tikus itu, ia melihat kucing kecil yang sedang kelaparan.

“Tolong, tolonglah aku. Aku lapar. Sudah tiga hari aku belum makan,” pinta kucing kecil itu sambil menangis. Si Belang sangat kasihan kepadanya.

“Sudah, sudah. Hentikan tangismu. Ayo, makanlah tikus ini agar perutmu terisi!” kata si Belang. Kucing kecil itu pun makan dengan lahapnya. Si Belang senang karena dapat menolong sesama, walaupun sebenarnya ia sendiri merasa lapar.

Selesai makan, kucing kecil itu akan membalas budi baik si Belang dengan mencari tikus bersama-sama si Belang. Kebetulan saat itu juga mereka melihat seekor tikus baru saja keluar dari parit. Si Belang dan kucing kecil pun segera mengejarnya.

“Ayo, ayo! Kejar aku terus, sampai dapat menangkapku!” ejek tikus yang ternyata adalah tikus yang paling bandel. Tikus itu memang gesit larinya. Ia berlari terus menuju tepi danau. Rupanya ia ingin menjebak si Belang dan kucing kecil itu. Ia sudah hafal liku-liku jalan tepi danau itu. Sebaliknya si Belang dan kucing kecil belum pernah menginjakkan kakinya di jalan tepi danau itu.

Karena sangat bersemangat, si Belang tidak menyadari bahwa tikus itu akan menjebaknya. Di suatu tikungan yang sangat licin, tikus melompat ke atas pohon. Si Belang melompat berusaha menangkapnya, tetapi tidak kena. Pada waktu kakinya menginjak jalan kembali, ia terpeleset dan meluncur tercebur ke danau.

“Tolong, tolong! Aku akan tenggelam!” teriak si Belang. Kucing kecil kebingungan mencari pertolongan. Kebetulan lewatlah anjing. “Anjing, tolong bantu aku menyelamatkan si Belang!” rengek kucing kecil.

Anjing segera mengambil sebatang bambu yang ada di dekatnya dan disodorkan ke arah si Belang. “Ayo, cepat pegangan pada bambu ini!”  perintah anjing. Ketika si Belang sudah berpegangan pada bambu, pelan-pelan anjing menarik bambu itu. Si Belang pun selamat dari bahaya tenggelam di danau. Setelah mengucapkan terima kasih, si Belang  melanjutkan perjalanan. Ia mengembara ingin melaksanakan pesan ibunya.

(Leli Nur Indah Sari, Teater Asba SMP Negeri 23 Purworejo, 2002)

KEBAIKAN SEEKOR ELANG

*Dimuat di Kedaulatan Rakyat, Minggu Legi, 20 April 2003, halaman 8


Seekor harimau bernama Tiger adalah harimau yang paling buas yang tinggal di sebuah hutan. Di hutan itu juga tinggal seekor elang bernama Koko yang sangat pintar. Suatu hari Tiger berkeliling-keliling mencari mangsa karena sudah dua hari tidak makan. Tiba-tiba terdengar bunyi kelepak sayap burung. Tiger segera mencari burung itu untuk dimangsa. Ia dapati seekor burung gereja hinggap di sebuah pohon.

“Wahai, burung gereja, dari mana kau ini?” tanya Tiger diramah-ramahkan.

“Aku dari mencari makanan kesukaanku,” jawab burung gereja agak takut.

“Burung gereja, sudikah kau membagi sedikit makananmu kepadaku?”

Kemudian burung gereja memberikan makanannya sedikit kepada Tiger. Tiger segera melahap makanan itu. Namun ia tidak puas. Ia minta lagi. Karena takut, burung gereja memberinya lagi. Begitu seterusnya sampai makanan burung gereja itu habis.

“Hai, burung gereja, aku masih lapar, aku minta makanan lagi!” seru Tiger.

“Sudah habis,” jawab burung gereja sambil akan terbang pergi. Namun Tiger dengan gesit menerkam dan memangsanya. Tiger masih merasa lapar. Ia pun berjalan lagi mencari mangsa. Baru beberapa langkah, tiba-tiba sebuah pohon di dekatnya tumbang dan menimpanya. Untunglah banteng sahabatnya lewat. Banteng itu segera menolongnya.

Karena kakinya sakit untuk berjalan, Tiger minta tolong diantarkan ke guanya. Banteng menggendong Tiger di punggungnya. Sampai di mulut gua tempat tinggal Tiger, banteng akan menurunkan Tiger. Namun Tiger tidak mau turun. “Terima kasih, banteng, tetapi ada yang kurang. Aku lapar, maka izinkan aku untuk memangsamu!” ucap Tiger.

“Jangan! Bukankah kita bersahabat?” jawab banteng.

Tiger tidak peduli, langsung saja digigitnya punggung banteng yang gemuk itu. Banteng melakukan perlawanan. Terjadilah pergumulan seru. Saat itulah datang si elang Koko. “Hai, hentikan! Hentikan! Apa yang sedang terjadi?” Pergumulan terhenti.

“Tadi aku menggendong Tiger sampai ke sini karena menurut pengakuannya dia tidak dapat berjalan, kakinya sakit. Setelah kuantar ke sini, dia malah akan memangsaku!”

“O, begitu. Untuk mengetahui siapa yang benar dan siapa yang bersalah, coba sekarang kita kembali ke tempat kalian pertama tadi,” kata Koko.

Banteng membawa Tiger kembali ke tempat pohon tumbang dan menindihi kembali tubuh Tiger dengan batang pohon itu. Setelah itu Koko mengajak banteng untuk meninggalkan Tiger yang berteriak-teriak meminta tolong. Koko berpesan kepada seluruh hewan penghuni hutan agar tidak menolong Tiger sebelum Tiger sadar dan meminta maaf kepada seluruh penghuni hutan.

(Pradoto Idi Hapsoro, Teater Asba SMP Negeri 23 Purworejo, 2003)

PERSAHABATAN SEMUT


Pada suatu hari semut merah mengeluh. Ia sedih karena berusaha mencari makan tetapi belum mendapatkannya. Semut hitam datang membawa makanan cukup banyak. Karena kikir, semut hitam tidak memberikan makanan itu seedikit pun kepada semut merah yang kelaparan itu.

Semut merah berjalan dari satu pohon ke pohon lainnya. Akhirnya ia menemukan makanan yang cukup banyak. Ia santap makanan itu sampai kenyang. Semut hitam datang. Ia tampak kelaparan. Sebelumnya, makanan yang dibawanya terjatuh ke sungai sewaktu ia meniti ranting pohon yang berada di atas sungai.

Semut merah merasa kasihan. Ia memberikan sisa makanannya kepada semut hitam. Atas pemberian itu, semut hitam berterima kasih dan menyesali sifatnya yang selama ini kikir. Sambil berjabat tangan, semut merah bergumam dalam hati, “Akhirnya terbukalah juga matanya melihat kesalahan yang dibuatnya selama ini.”

Kedua semut itu mulai bersahabat. Sampai pada suatu hari mereka pergi ke hutan mencari makanan karena persediaan makanan mereka sudah habis. Di tengah jalan mereka dihadang burung pelatuk yang akan memangsa mereka. Cepat-cepat semut merah menyuruh semut hitam masuk ke dalam lubang tanah di dekat mereka. Dulu lubang itu dibuat oleh semut merah. Setelah semut hitam masuk terlebih dulu, barulah semut merah menyusulnya sambil menutup pintu lubang. Burung pelatuk pun gagal memangsa mereka.

Setelah dirasa aman, semut merah dan semut hitam keluar dari lubang tanah dan melanjutkan perjalanan menuju hutan. Di hutan mereka mencari dan mengumpulkan makanan. Makanan yang telah terkumpul itu mereka bawa pulang. Di tengah perjalanan pulang mereka dihadang lagi oleh burung pelatuk.

Dengan gerak cepat semut hitam melepaskan makanan yang dibawanya, kemudian berlari cepat menuju lubang tanah dan langsung menutup pintunya. Ia telah melupakan semut merah. Ia tidak mempedulikan semut merah yang minta dibukakan pintu.

Untuk menyelamatkan diri dari keganasan burung pelatuk, terpaksa semut merah mencebur ke sungai kecil yang aliran airnya cukup deras. Burung pelatuk tidak dapat mengejarnya, kemudian pergi tidak menghiraukan lagi semut merah.

Akhirnya semut merah tersangkut pada sebatang kayu yang turut hanyut di sungai kecil itu. Ia berhasil naik ke batang kayu itu. Dalam hatinya ia bergumam, “Semut hitam, kau telah mengkhianatiku, tetapi aku tidak akan membencimu!”

(Rudi Hartoyo, Teater Asba SMP Negeri 23 Purworejo, 2002)

KUCING YANG INGKAR


Pada suatu pagi tikus sedang berjalan-jalan di pinggir hutan. Ia berjalan sambil bersenandung riang. Ketika sampai di tepi sungai yang jernih airnya, ia mendengar teriakan meminta tolong. Ia mencari-cari dari mana datangnya teriakan itu. Tak lama tikus mencari, ia melihat kucing di atas sebuah papan yang terapung di permukaan air sungai. Papan itu tersangkut onggokan sampah di tengah sungai.

Kucing meminta tolong kepada tikus untuk membawanya ke tepi sungai. “Wahai, tikus. Tolonglah aku. Jika kau tak menolongku, aku akan mati kedinginan di sini.”

Pada mulanya tikus menolak. “Untuk apa kau kutolong jika nantinya kau tetap memangsaku dan mengganggu bangsa tikus.”

“Aku berjanji tak akan memangsa dan mengganggu bangsa tikus. Aku akan bersahabat denganmu, asal kau mau menolongku. Percayalah, sahabatku. Tolonglah aku,” kata kucing memohon sambil meratap sedih.

Lama-lama tikus merasa iba. Walaupun kucing adalah musuh tikus, akhirnya tikus menolong kucing. “Baiklah, aku akan menolongmu, tetapi ingat janjimu tadi!” Dengan sebatang ranting panjang, tikus menarik papan yang diinjak kucing. Kucing berpegang erat pada papan dan ranting itu. Memang tikus kewalahan karena ia rasakan terlalu berat menarik papan itu. Namun ia keluarkan seluruh tenaganya untuk dapat menolong kucing.

Setelah papan sampai di tepi sungai, kucing melompat ke tanah tepi sungai. “Terima kasih, tikus sahabatku. Aku akan menepati janjiku.” Maka bersahabatlah mereka.

Namun persahabatan mereka tidak berlangsung lama. Pada suatu siang kucing berkeliaran di hutan untuk mencari mangsa. Saat itu seekor anak tikus baru saja keluar dari semak belukar. Tanpa pikir panjang kucing langsung menerkamnya dan memakannya. Ketika hampir habis, datanglah tikus sahabatnya yang dulu telah menolongnya. Tikus bertanya, “Wahai, sahabatku. Apa yang sedang kaumakan itu? Tampaknya lezat sekali?”

Kucing bingung untuk menjawabnya. Ia teringat janjinya dulu. Lalu ia berbohong, “Yang kumakan adalah seekor anak burung yang tadi jatuh dari sarangnya.”

Saat itulah tikus melihat ada ekor tikus kecil di mulut kucing. Seketika itu marahlah tikus. Ia tahu bahwa yang dimakan kucing itu adalah anaknya yang sedang dicari-carinya. Sambil marah bercampur tangis, tikus berkata, “Hai, kucing. Kau telah mengingkari janjimu! Kau telah memangsa keturunanku!”

Kucing tidak peduli dengan kata-kata tikus. Ia bahkan siap akan menerkam tikus. Tikus tahu itu. Maka ia berkata, “Aku sadar, aku lemah dan kau kuat. Namun aku akan selalu berdoa, semoga aku diberi kekuatan untuk melindungi diri sendiri dari kejahatanmu!”  Kemudian tikus berlari cepat meninggalkan kucing.

(Sugiarti, Teater Asba SMP Negeri 23 Purworejo, 2002)

NAGA YANG SOMBONG


Di sebuah hutan, tinggallah seekor naga yang sangat sombong. Binatang lainnya selalu ketakutan jika bertemu dengannya, karena ia senang membuat celaka semua binatang. Pada suatu hari seekor kera sedang memetik buah pisang. Ia tidak tahu kalau naga berjalan ke arahnya. Setelah dekat dengan kera dengan sombongnya naga menggertak kera.

“Hai kera, berikan pisang itu padaku! Atau kau akan kujadikan daging panggang!” Kera sangat kaget dan gemetar mendengarnya. Segera ia berikan semua pisang itu kepada naga, dan secepat kilat ia melarikan diri. Dengan bangga naga tertawa terbahak-bahak.

Tak lama kemudian sang naga tiba di tepi sungai. Ia melihat sekelompok gajah sedang mandi. Dengan kesombongannya ia menggertak gajah-gajah itu.

“Hai, gajah-gajah jelek, enyahlah segera dari hadapanku, aku muak melihat kalian.” Mendengar perkataan naga, tanpa banyak bicara lagi gajah-gajah yang telah lama mengetahui kesaktian sang naga dengan cepat meninggalkan tempat tersebut. Kejadian itu membuat sang naga bertambah sombong.

Sambil berjalan pergi, kelompok gajah memikirkan cara memberi pelajaran kepada naga. Mereka pun bermusyawarah dan diperoleh keputusan bahwa mereka menantang mengadu kesaktian melawan sang naga. Pada esok harinya mereka menanti naga di sungai. Setelah mereka menanti agak lama, sang naga pun muncul. Mereka pura-pura mandi.  Naga pun menggertak gajah. Seekor gajah menjawab gertakan itu.

“Hai naga, apa kau kira kami takut padamu? Kemarin kami menghindar darimu karena kami mengalah padamu.” Mendengar perkataan gajah, naga tertawa terbahak-bahak.

“Jangan kau tertawa terus. Kalau kau memang sakti,  ayo, buktikan kesaktianmu!” tantang gajah lainnya.

Naga lalu membuka mulutnya lebar-lebar bersiap-siap menyemburkan api ke arah gajah dan secara bersamaan kelompok gajah itu menyemburkan air ke mulut naga. Api pun padam. Begitulah berulangkali terjadi, sehingga naga tidak dapat lagi menyemburkan api walaupun ia telah berusaha sekuat tenaga. Naga sangat malu, lalu  lari meninggalkan hutan itu disertai derai tawa seluruh warga hutan.

Di dalam sebuah gua di perbukitan yang tandus, naga meyesali sikap dan perbuatannya. Sejak itu ia tidak pernah muncul kembali di hutan tempat binatang lainnya tinggal dengan tenteram dan damai.

(Winda Putri Ayuning Tyas, Teater Asba SMP Negeri 23 Purworejo, 2002)

About these ads

12 responses to this post.

  1. Posted by SILVIA WIDHI H on 22 Oktober 2013 at 06:29

    BBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBAGUS…..bagus….. aku suka ceritanya pokoknya is the best kata chibi.

    Balas

  2. Posted by hildanti on 22 Oktober 2013 at 06:26

    ceritanya bagus banget jadi cukup liat disini aja udah dapet cerita yang di mau

    Balas

    • Posted by teaterasbasmpnegeri23purworejo on 27 November 2013 at 11:44

      Terima kasih.
      Harimau bersahabat kelinci
      Mereka gembira melompat-lompat
      Cerita yang dimau ada di sini
      Semogalah banyak manfaat

      Balas

  3. Posted by Mohammed Fikri Arif Al-Muddatsir on 21 Oktober 2012 at 05:06

    Tambahin dongengnya!!!!!!!!!!!!!!111

    Balas

  4. Posted by dHeSieS nAx fUnky on 31 Agustus 2009 at 16:54

    wAdDuWh bRoOo,,,,,, =+=+=

    cRitAnYa mEnArix bUangEtzZz ciCh,,,,,,

    gW mHa c0wx gW zUuUuUkA bUanGetzZz m cRitA d0nGeng fAbeL,,,,,,,,

    gW hArEp tAmBaHiiiin kEyZzZ mEnd0ngenGnyAx yAnX LebiEh zEeEeEruUuU,,,,,

    g0odD LuCk kEyZzZz,,,,,,,, !!!!!

    Balas

    • Posted by teaterasbasmpnegeri23purworejo on 1 September 2009 at 12:23

      Untuk: dHeSieS nAx fUnky. Terima kasih atas kunjungan Anda dan apresiasi Anda terhadap karya-karya kami. Semoga kami dapat menambah terus karya fabel di blog ini. Semoga lebih seru. Sukses selalu untuk Anda!

      Balas

  5. Posted by ocha mouth on 31 Agustus 2009 at 16:46

    HeEeEeiiiiiiiiyyy……. !!!

    iiiiiCchHhHh,,,,,,

    cEritAnYax LuChU” bUuAaAaaaNgEeEeEtZzzz ciiiiiCh,,,,,,,

    cHa zUka LoOoOoch,,,,,,

    eH tAmbAhin d0nx ceRitaNya yAwH,,,,,pLizZzZz,,,,, ???

    cZ cHa zUkaAaAaAaAa,,,,,,bUaNetzZz mHa ceRita” d0nGeng fAbeL,,,,,,

    jAnGant uPhA yAaAaAaWh,,,,, *^_^*

    Balas

    • Posted by teaterasbasmpnegeri23purworejo on 1 September 2009 at 12:18

      Buat: Chavitalz. Terima kasih banget, yach, atas kunjungan Anda ke blog kami dan atas apreasiasi Anda terhadap karya-karya kami. Kami akan menambahi karya-karya fabel di blog ini. Semoga bermanfaat dan dapat menghibur. Sukses selalu!

      Balas

  6. Posted by cicicuit on 28 Agustus 2009 at 05:29

    wah..wah..wah..
    ceritanya bgus bnget seru lagi tolong cerita tentang kucing yang baik hati diperbanyak dong…
    soalnya saya ini pecinta kucing

    Balas

    • Posted by teaterasbasmpnegeri23purworejo on 29 Agustus 2009 at 08:56

      Untuk sahabat, cicicuit. Terima kasih atas tanggapan Anda atas dongeng-dongeng binatang (fabel) kami. Kami akan berusaha memperbanyak fabel dengan tokoh utamanya kucing. Semoga bermanfaat.

      Balas

Tulislah Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: